Dede Rahman pengidap tumor ganas/Fanny/KC Online.*

BIBIR mungil Dede Rahman (10 bulan) terus merintih saat ditemui di rumah sederhananya di Blok Sijombang, Desa Kertawinangun, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Senin (12/2/2018). Di sampingnya, sang ibunda Ruhaeni (50 tahun), terus mengelus kaki putra bungsunya ini.

Sambil sesekali mengusap air matanya, Ruhaeni bercerita jika Dede diduga mengidap tumor ganas yang bersarang di leher sebelah kanannya. Penyakit ini awal bermula saat 9 bulan yang lalu, saat itu Dede baru saja naik ke kelas 5 SD. Tak ada tanda apa pun jika Dede akan mengidap penyakit yang bahkan tidak terpikirkan oleh keluarganya ini.

“Saat itu, awalnya panas badannya dan mengeluh pusing kepala. Lama-lama ada benjolan sedikit di lehernya sebelah kanan, kami pikir itu biasa saja,” kata Ruhaeni.

Menurutnya, dokter pertama yang dikunjunginya adalah dokter spesialis paru. Sebab, awal benjolan dianggapnya flek paru.

“Saat itu diminta ke RSUD Gunung Jati, kemudian sempat juga dioperasi di RS Permata, tapi tidak ada hasil. Malah, pada September 2017 lalu Dede sempat dioperasi di RS Permata, tapi benjolan muncul kembali di lehernya. Bahkan semakin parah, benjolannya tambah besar,” ujarnya.

Berat badan Dede saat ini hanya 17 kilogram. Jauh menurun dibandingkan dengan tahun lalu. Menurut Ruhaeni,sebelum sakit Dede merupakan anak yang aktif. Sejak sakit pun Dede akhirnya tidak bisa bersekolah, dia terhenti di kelas 5 SD, juga untuk bermain. Dede sudah kehilangan masa-masa bermain dengan teman-temannya.

“Saat ini Dede hanya makan bubur biasa atau bubur bayi. Itu pun tidak banyak. Makanya berat badannya turun sekali. Lidahnya sebagian sudah mati rasa, untuk bicara pun sudah sulit, dan untuk tidur tidak bisa menengadah ke atas, paling hanya bisa miring ke kanan atau ke kiri,” ujarnya.

Ruhaeni mengungkapkan, dirinya tidak bisa melakukan apa-apa ketika Dede mengeluh kesakitan. “Saya hanya bisa menangis sambil mengusap punggung atau kakinya. Saya tidak menyangka anak saya bisa punya penyakit seperti ini. Kemarin setelah di RS Permata dioperasi dan tidak berhasil, kami sempat membawa Dede ke RSUD Gunung Jati dan dirawat selama tiga hari, namun akhirnya pihak RS juga menyerah dan minta kami datang ke RS Hasan Sadikin Bandung,” ujarnya lirih.

Menurutnya, selama ini perawatan Dede di RS memang gratis karena memiliki fasilitas BPJS. Namun ada beberapa pengobatan yang mengharuskannya mengeluarkan uang secara tunai.

“Kami tahu selama di RS Hasan Sadikin Bandung pun mungkin perawatannya gratis. Namun kami tetap saja butuh uang untuk ongkos, biaya hidup di sana, karena kan tidak mungkin sebentar selama pengobatan di sana,” katanya.

Ruhaeni hanya merupakan ibu rumah tangga biasa yang tidak memiliki penghasilan. Sang suami, Tambra (55 tahun) hanya berjualan kecap yang berpenghasilan Rp 100 ribu per hari.

“Suami saya pun tidak setiap hari berjualan kecap, hanya hari-hari tertentu. Dapat uang ya hanya saat berjualan, tapi kalau tidak berjualan ya sudah tidak ada uang,” akunya.

Ruhaeni berharap hari-hari ceria Dede bisa kembali seperti dulu. Sambil menitikkan air mata, Ruhaeni berharap ada yang membantu persoalan ini. “Saat ini sedang diurus oleh pihak desa untuk pemberangkatan ke Bandung. Tapi saya belum tahu kapan berangkatnya. Saya berharap pemerintah daerah setempat bisa membantu ini,” harapnya. (Fanny/KC Online)