Sunan Gunung Jati dan Putri Ong Tien/agathanicole.blogspot.com

PUTRI Lie Ong Tien atau Putri Tan Hong Tien Nio (1481-1485), adalah sosok putri yang benar-benar mewakilli sosok perempuan China yang elegan dan cerdas. Ia juga merupakan kesayangan ayahnya.

Salah satu putri dari China yang sejarahnya cukup dikenal di Tanah air adalah putri Ong Tien,ia merupakan salah satu istri Sunan Gunung jati. Sunan Gunung Jati merupakan salah satu dari wali songo, sebagai cucu dari raja Pajajaran, ia memimpin Cirebon dengan bijaksana dan berhasil menyebarkan agama islam di beberapa wilayah Jawa Barat.

Diambil dari laman Nusantara.com, Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari Raja Padjajaran, Raden Manah Rasa atau Prabu Siliwangi.

Sedangkan ayah Sunan Gunung Jati adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina. Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara.

Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati. Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan.

Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan. Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.

Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.

Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.

Sosok Putri Ong Tien

Kisah ini berawal dari perjalanan jauh yang ditempuh Sunan Gunung Jati dari Mesir menuju Pulau Jawa, selama perjalanannya ia melakukan dakwah menyebarkan agama Islam di wilayah-wilayah yang disinggahinya termasuk di daratan China, ia tinggal beberapa lama di China.
Di sana ia dikenal sebagai orang pandai dalam ilmu pengetahuan maupun pengobatan. Putri Lie Ong Tien atau Putri Tan Hong Tien Nio merupakan anak dari kaisar Hong Gie dari masa dinasti ming yang rela menempuh perjalanan ke Jawa demi menjadi istri Sunan Gunung Jati.

Sebagai putri kaisar, Putri Ong Tien mengikuti semua aturan yang telah ditetapkan oleh kaisar sebagai Anak Langit. Meskipun Kaisar menyayangi Putri Ong Tien, tapi tidak setiap saat mereka bisa bertemu dan berbicara dengan santai. Hari-hari Putri Ong Tien dihabiskan dengan mempelajari kaligrafi Cina dan filsafat Cina.

Putri Ong Tien adalah putri yang kritis, kalau salah satu selir raja tertimpa musibah, ia merasa iba, tapi tak berdaya untuk membebaskan selir itu dari hukuman raja. Pada masa itu pula, penyebaran agama Islam sudah sampai ke Cina. Bahkan salah satu daerah di Cina, yaitu kota Xian jadi daerah yang populasi penduduk Islam paling banyak.

Terbetik kabar bahwa seorang ulama dari Jawa bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit tanpa obat-obatan seperti yang selama ini dilakukan oleh para tabib Cina. Ia hanya meminta orang yang sakit itu melakukan gerakan-gerakan salat dan Insya Allah, sembuhlah orang itu.

“Kesaktian” ulama itu terdengar sampai ke telinga Kaisar. Tapi, sebagai Kaisar itu tidak percaya begitu saja dengan berita itu. Maka diundanglah ulama itu ke Kerajaan dan diminta untuk membuktikan kebenaran atas kesaktiannya itu. Namanya makin terkenal hingga Kaisar Hong Gie merasa terganggu orang asing lebih pandai dari rakyatnya.

Maka Dipanggilah Sunan Gunung Jati menghadap untuk diuji kemampuannya, Kaisar lalu merekayasa putrinya seolah-olah hamil dengan meletakkan bokor kuningan di perutnya hingga mirip orang hamil, selanjutnya Sunan Gunung Jati diminta menebak kondisi putrinya saat itu.

Di depan para pembesar dan prajuritnya, kaisar menyuruh putrinya Ong Tien untuk memasukkan sebuah bokor di balik bajunya. Nanti, bila Sunan Gunung Jati datang maka ia akan menyuruh sunan untuk menebak isi perut putrinya.

Syarif Hidayatullah pun dipanggil ke istana. Sementara itu, Kaisar menyuruh putrinya yang masih gadis, Lie Ong Tien, mengganjal perutnya dengan baskom kuningan, sehingga tampak seperti hamil, kemudian duduk berdampingan dengan saudarinya yang memang sedang hamil tiga bulan.

Syarif Hidayatullah disuruh menebak: mana yang benar-benar hamil. Syarif Hidayatullah menunjuk Ong Tien. Kaisar dan para abdi dalem ketawa terkekeh-kekeh. Jawaban Sang Sunan adalah Putri Tien Nio sedang mengandung, jelas saja Kaisar mencemoohnya, merasa berhasil membuktikan bahwa Sunan tidak sepandai seperti yang dikatakan orang.

Selesai dengan urusannya di istana Kaisar, Sunan Gunung Jati pun meneruskan perjalanannya ke Jawa, setelah ia pergi, hal yang mengejutkan terjadi, putri Ong Tien Nio masuk ke kamar dan melepaskan bokor kuningan dari perutnya namun apa yang terjadi? Kemudian, seluruh istana geger. Namun, sepeninggalan Sunan Gunung Jati, kaisar sangat terkejut. Bokor yang ada di dalam perut Ong Tien hilang.

Anehnya lagi, Ong Tien benar-benar hamil, seperti yang dikatakan oleh sunan. Keanehan itu menyebabkan Putri Ong tien jatuh hati pada Sunan. Kepada ayahanda, Putri Ong Tien mengungkapkan keinginannya untuk menyusul ke Jawa dan menikah dengan Sunan Gunung Jati.

Kaisar meminta maaf kepada Syarif Hidayatullah, dan memohon agar Ong Tien dinikahi. Ia yang sebelumnya tidak hamil kini benar-benar berbadan dua, Putri Ong Tien pun terkejut dan menangis, kejadian tersebut membuat Kaisar sadar akan kemampuan Sunan Gunung Jati.

Atas kesadaran dan keinginan putri Ong Tien maka diputuskanlah Putri Ong Tien menyusul sang Sunan ke Jawa untuk minta dipersunting olehnya, sang putri berangkat dikawal 100 awak kapal ke pulau Jawa tepatnya Cirebon. Setibanya di sana ia tidak langsung dinikahi oleh Sunan Gunung Jati karena dalam Islam haram hukummya menikahi wanita hamil, sebelum dinikahi sang putri harus menjalani syarat yaitu ia dan pengawalnya untuk masuk Islam, syarat itupun dipenuhi dan menikahlah Putri Ong Tien Nio menjadi istri kedua Sunan.

Setelah menunggu sekian lama, lahirlah seorang bayi laki-laki dari rahim sang putri dan diberi nama Pangeran Kuningan tetapi bayi itu tidak pernah dirawat oleh sunan Gunung Jati dan Putri Ong Tien, bayi tampan itu diadopsi dan dirawat Ki Gede Lurung Agung, salah satu murid Sunan, namun belum genap setahun usia putra yang dilahirkan oleh Putri Ong Tien Nio meninggal dunia.

Dalam Babad Cirebon tidak dijelaskan apa alasan Pangeran Kuningan tidak diasuh oleh ibunya. Sunan Gunung Jati menitipkan Pangeran Kuningan yang masih kecil kepada Ki Gendeng Kuningan agar disusui oleh istri Ki Gendeng Kuningan, karena waktu itu Ki Gendeng Kuningan mempunyai putra yang sebaya dengan Pangeran Kuningan.

Kemudian oleh Syeh Syarif Hidayatullah diganti namanya menjadi Pangeran Arya Kamuning serta ia memberikan amanat bahwa kelak dimana Pangeran Kuningan sudah dewasa akan dinobatkan menjadi Adipati Kuningan.***