Ilustrasi/pojoksatu.com

CANTIGI, (KC Online).-

Dupendi alias Dup (34 tahun) warga Blok Waledan, Desa Lamarantarung, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu divonis 15 tahun penjara potong masa tahanan karena terbukti melakukan pembunuhan terhadap istrinya. Vonis dijatuhkan Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Indramayu, Senin (12/3/2018).

Pemberian vonis yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Ny. Elisabet lebih ringan dari tuntutan Sri Wulandari sebagai jaksa penuntut umum (JPU). Karena pada sidang sebelumnya, JPU menuntut terdakwa dengan pidana penjara seumur hidup. Perbuatan itu sebagaimana diatur dalam Pasal 340 KUHP.

Dalam vonisnya dikatakan ketua majelis hakim, terdakwa secara sah dan meyakinkan, telah terbukti bersalah melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap Daliri (34 tahun) istrinya sendiri hingga tewas dengan mengenaskan. Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dalam pasal 44 ayat 3 UU RI No.23 tahun 2004.

“Saudara terdakwa, saudara sebelumnya oleh jaksa penuntut umum dituntut seumur hidup. Atas pertimbangan-pertimbangan yang kami berikan bersama hakim lainnya, saudara sekarang kami jatuhi hukuman 15 tahun penjara. Terhadap putusan ini, saudara punya hak untuk membela diri,” kata ketua majelis hakim.

Menjawab pertanyaan majelis hakim, terdakwa setelah dipersilahkan dan berembug dengan Oto Suyoto kuasa hukumnya, langsung menyatakan menerima atas pemberian putusan tersebut. “Kami terima putusan itu Bu Hakim,” jawab terdakwa yang juga diiyakan oleh kuasa hukumnya.

Terungkap dalam sidang, terdakwa saat membunuh istrinya dilakukan pada Jumat 6 Oktober 2017 pukul 06.30 WIB dengan mengunakan Kapak. Kapak yang sebelumnya sudah ditajamkan tiga hari sebelumnya, oleh terdakwa dibacokan pada bagian, muka, kepala dan leher koban hingga tewas seketika.

Aksi kejam itu dipicu karena tedakwa setiap bertengkar dengan koban selalu melakukan pemukulan. Sang istri tak kuat dan minta cerai. Melihat istrinya sudah yakin minta cerai, sementara terdakwa tak mau hingga merencanakan untuk menghabisi istrinya dengan kapak.

Dia lalu mengasah kapak miliknya. Setelah dianggap tajam, berangkat dari rumah menyusul istrinya yang berangkat lebih dulu mencari ikan sisahan bekas panen milik petambak lain yang sedang dipanen. Tepatnya di Blok Ombe Waledan, Desa Lamarantarung, Kecamatan Cantigi, sang istri yang sedang mengendarai motor langsung dipepet tedakwa dan diberhentikan.

Terdakwa kembali menanyakan pada korban tentang kepastian rencana minta cerai. Ketika koban menjawab iya akan cerai, saat itu juga kapak yang dibawa terdakwa dari rumah langsung dihantamkan pada leher korban. Dalam hitungan menit, sang istri yang merupakan tumpuan hidup ketiga anak lelakinya yang masih bau kencur, langsung tewas seketika. (Odox)