Dedi Sutardi, guru pembantu bidang kesiswaan SMA Negeri 2 Kuningan. (Profil). Emsul/KC Online

Dedi Sutardi

MENJADI guru pembantu bidang kesiswaan tidaklah mudah, karena harus penuh kasih sayang serta pendekatannya dari hati ke hati. Jika ada siswa memerlukan penyelesaian masalah, tanpa harus disikapi dengan yang kurang berkenan.

Sebaliknya dihadapinya dengan keakraban dan kekeluargaan, sehingga apa yang diinginkan dapat terselesaikan dengan baik.

Itulah sosok Dedi Sutardi (45 tahun), guru pembantu bidang kesiswaan SMA Negeri 2 Kuningan. Meski usianya tergolong muda, namun menyikapi permasalahan dengan siswa dipecahkannya dengan arif dan bijaksana. Dengan cara seperti itu, maka siswa akan lebih berhati-hati apabila ingin berbuat sesuatu yang tidak sesuai etika maupun norma.

Misalnya, jika ada siswa selalu kesiangan, terdengar suara HP berdering atau menjawab telepon saat jam pelajaran, tidak hanya siswanya yang diperingatkan dan diberi arahan.

“Memberi arahan itu tidak hanya pada siswanya, juga termasuk orangtuanya diminta hadir untuk mengambil HP yang diamankan di sekolah. Selain itu, juga disampaikan pada orangtuanya, kenapa siswa tersebut selalu kesiangan masuk sekolah, umpamanya.
Akhirnya orang tua juga menyadari serta memahami atas perbuatan anaknya apabila terjadi pelanggar di sekolah. Sebab tanggung jawab pendidikan ini tidak hanya urusan guru, tapi tanggung jawab orang tua di lingkungan keluarga,” papar Dedi ketika berbicang-bicang dengan KC Online, Sabtu (10/3/2018).

Ayah dua anak, Al-Ahzamy Nurfikri dan Hizmah Nurul Saadah dari istri Aan Aviany tetap akan bekerja secara profesional dan ikhlas sebagai lahan ibadah. Di manapun ditugaskan, baik sebagai guru agama maupun guru pembantu bidang kesiswaan.

Menurutnya, tanpa disertai penuh ikhlas, maka pekerjaan itu akan menjadi beban. Sebaliknya akan memperoleh nilai ibadah. Baginya, hidup kita untuk berkarya di mana pun bertugas.

Tidaklah heran apabila guru yang gemar membaca ini, selain sebagai pendidikan, aktif di luar kedinasan. Misalnya sebagai pengurus DKM Miftahus Salam Desa Kedungarum, DKM Al-Ihsan SMA Negeri 2 Kuningan, pengurus Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Kedungarun, termasuk sebagai tokoh agama di kampung halamannya Desa Kedungarum.(Emsul/KC Online)