Warga terpaksa mengungsi di pinggir jalan jalur Cirebon-Indramayu, Senin (12/3/2018)/KC Online.*

GUNUNGJATI, (KC Online).-

Pemerintah Kabupaten Cirebon menghitung jumlah kerugian infrastruktur selama banjir melanda senilai Rp 55 miliar. Kerugian ini antara lain berasal dari jembatan yang putus, aspal yang mengelupas, juga jalan yang menjadi berlubang.

Namun, nilai ini dipastikan belum final, sebab jumlah infrastruktur yang rusak masih terus bertambah menyusul banjir yang kembali melanda di wilayah utara Cirebon, yaitu Kecamatan Gunungjati dan sekitarnya.

Plt Bupati Cirebon Selly Andriyani Gantina mengatakan, jumlah Rp 55 miliar pun belum termasuk kerugian yang diderita sektor swasta. Pihaknya terus berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait untuk menghitung jumlah kerugian ini.

“Itu baru infrastruktur plus pertanian dan peternakan, belum di sektor pendidikan juga kesehatan,” kata Selly usai membuka kegiatan Musyawarah Rencana Pembangunan di ballroom Hotel Apita, Senin (12/3/2018).

Menurut Selly, persoalan kerugian ini akhirnya menjadi sorotan dan akan dijadikan pelajaran. “Akhirnya kan kita jadi tahu kalau ternyata selama ini Pemerintah Kabupaten Cirebon ataupun Pemerintah Provinsi Jawa Barat memperbaiki infrastruktur itu hanya untuk infrastruktur yang rusak saja. Kenapa tidak kita misalnya memperbaiki infrastruktur yang belum rusak agar tidak cepat rusak. Ambil contoh, jembatan yang putus kemarin-kemarin disebabkan memang sudah rusak sejak 2017. Hal-hal seperti ini yang harusnya diubah,” katanya.

Untuk memperbaiki beberapa infrastruktur yang rusak akibat banjir ini, rencananya Pemkab Cirebon sebagian akan meminta bantuan ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Selly juga menambahkan, Pemkab Cirebon tidak akan memberlakukan kembali tanggap darurat bencana. Sebab, menurutnya, kondisi banjir di Kecamatan Gunungjati ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan banjir di Kecamatan Ciledug dan sekitarnya.

“Banjir di Kecamatan Ciledug itu air bah, sementara banjir di Gunungjati itu hanya air lewat yang bisa surut dengan cepat. Saya rasa atas kondisi ini kita tidak akan memberlakukan tanggap darurat bencana lagi, ” katanya.

Namun, menurutnya, warga harus tetap waspada, sebab berdasarkan BMKG, hujan ekstrem akan tetap turun hingga akhir Maret mendatang.

Sementara itu, Dirut PDAM Tirta Jati Suharyadi mengatakan, PDAM turut mendistribusikan air bersih kepada warga terdampak banjir. “Sejak Minggu kemarin kita sudah kirim enam tanki air dengan satu rankings berisi 4 ribu liter, ” ujarnya.

Namun, menurutnya, PDAM kesulitan mengakses wilayah terdampak banjir, sehingga truk berisi ribuan liter air ini tidak bisa masuk jauh ke pemukiman warga. “Akhirnya kita buat tempat penampungan air, jadi air kita masukkan ke situ, kemudian warga yang akan mengambil air dari tempat penampungan. Hingga saat ini, belum ada permintaan dari warga maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah untuk menambah jumlah air. Kalau ada permintaan dari warga pasti kita kirim. Tapi enam tanki per hari itu sepertinya cukup untuk dapur umum,” ujarnya.

Mengungsi

Sehari setelah banjir menerjang sejumlah desa di Kecamatan Gunungjati Kabupaten Cirebon, genangan air masih tinggi, membuat warga terpaksa mengungsi di badan jalan raya Cirebon-Indramayu. Untuk mengurai kemacetan, petugas kepolisian dari Polres Cirebon Kota memberlakukan “contra flow” untuk mengurai kemacetan di dua jalur tersebut.

Pantauan KC Online di lokasi, warga tersebut mulai mengungsi ke badan jalan. Para korban banjir sempat membawa barang berharga mereka ke badan jalan raya, yang sekarang digunakan untuk lokasi tempat pengungsian bagi para korban banjir.

Kasat Lantas Polres Cirebon Kota Ajun Komisaris Polisi, Rezkhy Setya mengatakan, untuk menghindari kemacetan di satu jalur arah Cirebon-Indramayu maupun sebaliknya, dilakukan sistem “contra flow” dari Kecamatan Gunungjati sampai Kecamatan Suranenggala.

“Selain menghindari kemacetan, sistem ini juga karena sebagian badan jalan raya arah Cirebon-Indramayu tergenang air yang datang dari pemukiman warga. Pihak kepolisian bekerjasama dengan jajaran TNI melakukan proses evakuasi warga maupun kendaraan milik warga yang masih terjebak di pemukiman banjir,” kata Rezkhy.

Rezkhy menambahkan petugas belum bisa menentukan sampai kapan badan jalan akan digunakan posko karena melihat curah hujan cukup tinggi, petugas juga masih memantau perkembangan ketinggian air. Dari pantuan petugas, hingga Senin kemarin, air masih cukup tinggi setinggi pinggang orang dewasa.

Menurut korban banjir, Ina warga Desa Grogol mengatakan, dirinya mulai mengungsi ke posko banjir di badan jalan raya sudah dilakukan sejak hari Minggu sore. Dirinya memilih bertahan di pengungsian karena tidak memiliki saudara atau kerabat, yang daerahnya tidak terkena dampak banjir akibat meluapnya air dari sejumlah sungai.

“Kebutuhan para korban banjir sekarang adalah memerlukan makanan siap saji dan obat-obatan, karena kebutuhan makanan di posko banjir masih kurang,” harap Ina.

Kondisi berbeda terjadi di Desa Wanakaya, tenda pengungsian masih terlihat kosong karena sebagian besar warga memilih bertahan di rumah masing-masing. Pantauan KC, Senin (12/3/2018) siang, beberapa musala yang dijadikan lokasi pengungsian pun pada nampak sepi.

Terus menyisir

Personel Satbrimob Detasemen C Polda Jabar terus menyisir warga yang akan dievakuasi hingga Senin sore. “Meski ketinggian air cenderung menurun, tapi kita tetap meminta mereka untuk mengungsi. Ini kita lakukan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan,” kata Komandan Regu Satbrimob Detasemen C Polda Jabar Tatang Sentani, saat meninjau warga di Blok Ki Geseng, Desa Wanakaya, dengan menggunakan perahu karet. Hingga Senin sore, ketinggian air di Desa Wanakaya menurun menjadi 40 centimeter atau selutut orang dewasa dari yang tadinya mencapai hingga 120 centimeter.

PLN sendiri tidak mematikan listrik di Desa Wanakaya ini. Menurut Tatang, pihaknya akan terus meninjau rumah-rumah warga, hal ini untuk memudahkan evakuasi.
“Perahu karet tetap kita siagakan, meskipun warga enggan dievakuasi. Kita hanya imbau warga untuk tetap berhati-hati di dalam rumah, karena listrik tetap nyala, ” ujarnya.

Sementara itu, salah satu warga yang enggan dievakuasi, Darwini (40 tahun), yang merupakan warga Blok Desa di Desa Wanakaya, menuturkan, dirinya berat untuk meninggalkan rumahnya. Sebab, justru akan lebih repot jika dirinya dan keluarganya harus mengungsi ketimbang berada di rumahnya.

“Repot kalau harus ngungsi, apalagi saya punya ibu yang sudah tidak bisa melihat. Saya punya tiga anak. Pokoknya repot, dan saya juga khawatir rumah tidak aman ketika ditinggal,” ujarnya.

Darwini menambahkan, hanya satu anaknya saja yang mencoba bertahan di rumah, sementara dua anaknya yang lain dititipkan di saudaranya. “Meskipun basah-basahan, sejauh ini saya dan keluarga baik-baik saja,” katanya.

Sementara itu, pantauan KC Online, warga terdampak banjir di blok yang lebih jauh dan juga memilih tidak mengungsi, terpaksa harus mencari makanan. Mereka secara berduyun-duyun mencari makanan pada Senin siang. Enah (50 tahun), salah satu warga, mengatakan, sepanjang Senin hingga sore hari, dirinya hanya mendapatkan bantuan dua bungkus mie instan saja.

“Mie instan bingung bagaimana masaknya. Kompor saya di rumah kan pada basah semua. Jadi aja mie nya saya makan mentah, daripada tidak makan. Nah sekarang saya dan tetangga mau pada keluar cari makan, engga tahu di mana cari makannya, pokok cari makan dulu,” ujarnya.

Enah mengatakan, dirinya dan tetangganya enggan mengungsi karena memang dirasa tidak perlu untuk mengungsi. “Meski kurang makan, saya tetap inginnya di rumah. Apalagi kan banjir perlahan mulai surut, kita berharap tidak turun lagi hujan deras,” katanya.

Sementara itu, Kepolisian Resort (Polres) Cirebon Kota menerjunkan anggotanya untuk membantu warga yang terdampak banjir di Kecamatan Gunungjati. Kapolres Cirebon Kota, Ajun Komisaris Besar Adi Vivid AB nampak turun langsung meninjau banjir dan memberikan bantuan.

Kasubbag Humas Polres Cirebon Kota, Inspektur Satu Yuliana mengatakan, bantuan diberikan kepada warga yang terdampak banjir. Bantuan yang diberikan yakni beras, air minum, telur, mie instan, sayuran dan kebutuhan lainnya. Nampak anggota TNI dan Polri bahu membahu mendirikan tenda dan terlihat sedang menyiapkan makanan untuk warga yang terdampak banjir. Pada sore hari, kepolisian mulai membuka dapur umum bagi warga.
“Tadi kami sudah kirim bantuan, di sana ada yang masak dan langsung dibagikan kepada warga,” kata Yuliana.

Polres Cirebon Kota juga mendirikan tenda darurat serta membuat dapur umum untuk memudahkan bantuan logistik. Polres Cirebon Kota juga membuka posko kesehatan gratis untuk warga yang terdampak banjir.

“Dapur umum kita sudah dirikan supaya bantuan yang datang bisa langsung dimasak dan langsung dibagikan kepada warga,” katanya.(Fanny/Egi/Iskandar)