kabar-cirebon.com

KEJAKSAN, (KC Online).-

Polemik pembagian jasa pelayanan (JP) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gunung Jati Cirebon untuk dokter spesialis dan karyawan belum usai. Namun demikian, pihak rumah sakit berjanji akan membagi JP tersebut lebih profesional.

Hal itu diungkapkan Ketua Komisi III DPRD Kota Cirebon dr. Doddy Aryanto kepada KC Online, Selasa (20/3/2018) malam, saat dewan memanggil manajemen RSUD Gunung Jati.

Menurut Doddy, pihaknya sudah menggelar hingga rapat yang ketiga terkait persoalan tersebut. Dari rapat yang berjalan, hasil positif sudah dirumuskan. Direktur mengambil sebuah kebijakan untuk menyelesaikan pembagian porsi JP jauh lebih profesional antara sisi kanan spesialis dan sisi kiri karyawan.

Doddy menerangkan, rencana itu akan dilakukan pihak rumah sakit dengan mengubah formasi yang terkait dengan SDM yang ada di tim JP. Pihak dewan mengembalikan ke direktur karena memang ranah tersebut merupakan ranah internal di rumah sakit. Namun untuk jangka waktu ke depan pembagian atau distribusi JP akan dibenahi di internal rumah sakit.

“Berarti dari hasil rapat keempat plus kunjungan ke rumah sakit masih dalam tahap supervisi saja. Namun pembedaan jumlah nominal JP kepada sisi kanan spesialis dan sisi kanan karyawan sebetul sah-sah saja selama tidak menimbulkan gejolak. Sebab, itu adalah kebijakan atau keprofesionalan manajemen dalam pembagian JP itu sendiri,“ ungkap Doddy.

Doddy menambahkan, dalam kasus sekarang yang merasa ada yang tidak adil makanya pihak rumah sakit berusaha mengambil sikap untuk dikembalikan ke posisi lebih profesional dalam pembagian JP kepada para penerimnya. Dengan demikian, pembagian JP bisa adil dan merata sesuai dengan kinerjanya masing-masing.

“Kita supervisi selama proses ini masih berjalan, kemudian kata direktur sendiri akan mengundang kami di dewan. Kami hanya memantau saja karena memang kebijakan ada di direktur rumah sakit. Namun demikian kami akan berpihak kepada pembesaran keadilan di rumah sakit itu sendiri,” papar Doddy.

Menurut Doddy, dalam pertemuan malam kemarin pihaknya mengundang direktur, wakil direktur keuangan dan tim JP, namun yang hadir hanya dirertur dan wakil direktur.

Sementara saat KC Online hendak memintai keterangan kepada pihak rumah sakit, pihak rumah sakit enggan berkomentar. Bahkan meminta pemberitaan mengenai pembagian JP di RSGJ tidak lagi diberitakan, bahkan sejumlah perwakilan yang hadir juga enggan menyebutkan identitas lengkap mereka.

Sebelumnya, Direktur Utama RSUD Gunung Jati Cirebon, H Bunadi mengatakan, setelah pertemuan dengan dewan, pihaknya telah menindaklanjuti pola pembagian JP dengan melakukan penyesuaian. Menurutnya, JP ini telah dipandang dari sisi grade JP dan dari direksi manajemen rumah sakit yang terlalu tinggi.

“Kami evaluasi total grade JP dari manajemen direksi rumah sakit dan alhamdulillah penyesuaian itu bisa dimanfaatkan untuk bersama,” ungkapnya.

Pembagian pola JP tersebut, kata Bunadi, sesuai evaluasi tim JP yang dibentuk oleh Sekretaris Daerah (Sekda). Dan pada hasilnya, pihak manajemen grade JP-nya berubah untuk memenuhi kebutuhan pegawai lainnya. Total penurunan grade manajemen sekitar 400-an.

“Pembagian porsi JP turunnya hanya dari managemen. Sedangkan untuk dokter spesialis belum turun JP-nya,” ujarnya.

Bunadi mengatakan, dirinya selalu terbuka dan selalu membuka komunikasi dan mendengar apa pun keluhan dari pegawainya sehingga diharapkan pegawai bisa mengerti dan tidak ada yang dirasa mengalami penurunan JP.

“Saya mengetahui persis karakter semua pegawai sehingga bisa terus mengayomi pegawai dengan terbuka tanpa ada yang ditutupi,” jelasnya.

Bunadi menuturkan, JP ini bukan merupakan hal yang turun ataupun tidak turun, akan tetapi sudah terdapat hitungan yang baku sehingga dirinya akan melakukan pendekatan kembali kepada dokter spesialis untuk bisa disesuaikan kembali.(Mamat/Iskandar)