Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Cirebon, Rawindra Ardiansah/Epih/KC Online.*

LEMAHWUNGKUK, (KC Online).-

Dalam dua bulan terakhir tahun 2018 Kota Cirebon mengalami inflasi tertinggi di Jawa Barat (Jabar). Padahal, target laju inflasi secara nasional pada tahun ini tidak lebih, dan bisa ditekan hingga di bawah 4 persen. Karenanya, pada tahun ini merupakan tantangan terberat bisa meredam laju inflasi.

Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Cirebon, Rawindra Ardiansah mengungkapkan, pada tahun ini merupakan tantangan pencapaian target inflasi lebih berat dibanding tahun 2017.

“Ada beberapa komoditas yang perlu kita antisipasi. Pertama selain gejolak harga komoditas barang (volatile foods), juga cukai rokok, yang pada sepanjang 2018 ini akan dinaikkan pemerintah secara bertahap, atau hingga mencapai 10,04 persen di sepanjang tahun ini,” tutur Rawindra Ardiansah kepada KC Online, Senin (12/3/2018).

Berdasarkan hasil kajiannya, terjadi gejolak harga yang menyebabkan laju inflasi pada Januari-Februari, lebih disebabkan beberapa komoditas dan keterbatasan stok barang, seperti telur, cabai rawit, serta beras.

“Sekalipun harganya pada Maret mulai berangsur menurun. Akan tetapi, dengan masih belum terjadinya berubah iklim (Hujan) tetap itu harus kita waspadai. Khususnya untuk komoditas beras, dengan akan terjadinya panen raya pada Maret-April 2018, dijamin harganya kembali berangsur menurun, selain dari pasokan ke pasaranya kita harapkan juga bisa kembali normal,” ungkapnya.

Sedangkan, untuk komoditas Bahan Bakar Minyak (BBM), menurutnya, sekalipun di Januari-Februari 2018, sebagai salah satu komoditas penyumbang inflasi. Akan tetapi masih dalam batas aman. Terlebih, tahun ini pemerintah pun tidak akan kembali menaikan komoditas tersebut.

“Kenaikan yang tejadi kemarin (BBM) lebih dikarenakan efek dari kenaikan secara gelobal minyak dunia, sehingga berimbas terhadap naiknya harga BBM non subsidi,” tandasnya.

Perlu koordinasi

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cirebon sebelumnya mencatat, di Januari-Februari 2018, Kota Cirebon alami inflasi tertinggi di Jabar. Di mana, pada Januari 2018, Kota Cirebon mengaami inflasi sebesar sebesar 1,01 persen atau dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 127,72.

Sedangkan, inflasi di Februari Kota Cirebon sebesar 0,60 persen dengan IHK 128,48. Adapun inflasi terendah terjadi di Kota Sukabumi dan Tasikmalaya mencapai 0,21 persen.

Karenanya, berbeda dengan inflas tahun 2017 yang mulai menjalankan program khusus sampai program umum yang dinilai cukup berhasil menekan laju inflasi hingga 4,36 persen (yoy) atau masih di dalam target inflasi nasional sebesar 4 persen plus 1 persen.

“Namun, untuk tahun 2018 ini tantangan pencapaian target inflasi hingga mencapai 3,5 persen plus 1 persen itu cukup berat, terlebih dengan masih akan adanya ancaman perubahan pola tanam, rencana kenaikan tarif cukai rokok, dan lainnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut diungkapkan, dalam menekan laju inflasi dipandang perlu melaksanakan koordinasi awal dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Koordinasi dipandang perlu, terlebih setelah keluarnya Keppres sekaligus Kepmendagri terbaru tentang TPID yang dikeluarkan di akhir tahun 2017 kemarin.

“Melalui penguatan koordinasi antar TPID meningkatkan upaya kerjasama antar daerah, diharapkan segala kendala tersebut dapat diminimalisir dan target inflasi tahun 2018 dapat tercapai,” tuturnya.(Epih)