MAJALENGKA, (KC Online).-

Ancaman Bakteri Listeria Monocytogenes yang terkandung pada melon kuning atau rock melon (cantalupe) dari Australia aman di pertanian Indonesia.

Meskipun bakteri telah menelan korban warga Australia. Kepala Bidang Karantina Kementrian Pertanian Ir Banun Harpini, Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementrian Pertanian sudah mengantisifasi dan menjaga betul terhadap kemungkinan masuknya bakteri melon dari Australia.

“Sebetulnya masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir akan ancaman bakteri mematikan yang ada dalam melon Australia itu, sebab Indonesia sendiri memang tidak membuka kebijakan impor melon kuning dari Australia,”kata dia, Jumat (9/3/2018) saat menggelar panen raya di Blok Simpur Kelurahan Babakan Jawa Kabupaten Majalengka.

Menurut dia, negara Australia mengekspor buah tersebut hanya ke Singapura dan Malaysia, tidak ke tanah air. Meski demikian, sebagai langkah antisipasi dan pencegahan, akan dilakukan pemeriksaan bagi warga dari luar negeri yang sengaja membeli buah itu untuk dibawa ke Indonesia.

“Untuk mencegah masuknya rock melon dari Autralia atau yang dibawa para pelancong dari Singapura maupun Malaysia, kita sudah siapkan petugas disemua pintu masuk Indoneisa , dan surat edaranya sudah kita terbitkan tanggal 6 dan 7 Maret 2018 kemarin,” jelasnya.

Maka dari itu, sambung dia, guna menjamin keamanan dan kesehatan. Pihaknya menghimbau masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Majalengka agar terbiasa mengkonsumsi buah lokal Indonesia yang kualitas dan rasanya tidak kalah enak.

“Alasanya karena kita tahu dari mulai pengendalian dan pola tanam semua rok melon dan melon lokal Indonesia semua sehat,” tambahnya.

Sementara itu saat disingung soal persiapan varietas unggul jenis tanaman padi, Banun mengatakan, varietas padi unggul tengah disiapkan untuk Kabupaten Majalengka jenis inpari 39 yang pasti lebih unggul dari varietas sebelumnya.

Dipilihnya Majalengka karena kondisi alamnya sangat menunjang dan pertanianya cukup maju, serta pertumbuhan pertanianya cepat dan mampu mengadopsi teknologi. Hal itu dibuktikan dengan keberhasilan Majalengka menyabet dua penghargaan di tingkat Jawa Barat. “Majalengka sendiri menjadi pilot project untuk di Jawa Barat,” imbuhnya.

Bupati Majalengka H Sutrisno dalam kesmepatan itu mengatakan, gerakan panen dan sergap gabah petani, pada dasarnya sebagai upaya menciptakan pola tanam yang baik agar menghasilkan produksi yang tinggi, serta mengantisipasi agar gabah dari Majalengka tidak dijual keluar kota.

Pemkab Majalengka sendiri sebutnya terus berupaya dalam meningkatkan kecukupan pangan, melalui pemanfaatan teknologi pertanian, ketersediaan pupuk, dan pemanfaatan pengelolaan paska panen, termasuk bantuan permodalan. (Jejep)