Egi/KC Online.*

DIDIAGNOSA mengalami pecah pembuluh darah sejak tahun 2012 lalu tidak menurunkan semangat seorang siswi SMK Presiden Kota Cirebon, untuk tetap mengikuti pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tanggal 2-5 April 2018.

Meski dalam mengerjakan soal dirinya sulit, karena tangan dan kaki sebelah kanannya tidak bisa digerakan secara normal untuk mendukung saat mengerjakan soal UNBK maupun aktivitas lainnya, namun ia tetap semangat dalam menjalani hidup.

Siswi tersebut adalah Gabriela (17 Tahun), Kelas XII Teknik Komputer Jaringan (TKJ), anak kedua dari pasangan suami Daud Slamet dan istri Srimulyani ini. Gabriela tetap berangkat ke sekolah layaknya siswa lainnya peserta UNBK yang semangat mengerjakan soal, karena dirinya mengerti bahwa UNBK menjadi nilai tambah, sekalipun tidak menjadi syarat penentu kelulusan.

Meski untuk bisa hadir ke sekolah, siswi bertempat tinggal di Jalan Pecinan Kota Cirebon ini harus diantar oleh sang ayahnya dengan menggunakan sepeda motor, namun Gabriela tetap bisa datang lebih awal sebelum pelaksanaan UNBK sesi 2 dimulai. Untuk mendukung aktivitas berjalan di sekolah, Gabriela meminta kesediaan teman maupun pihak sekolah untuk mengantarkannya ke tempat yang dituju.

Ditemui KC Online pada Rabu (4/3/2018), siswi berkulit putih itu sempat menceritakan sedikit awal mula mengalami pecah pembuluh darah. Siswi lulusan dari SMP Budaya Jagastru Kota Cirebon ini mulanya terjatuh dan pingsan saat sedang LES privat di salah satu lembaga pendidikan di Kota Cirebon.

“Dari situ orang tua saya kemudian membawa saya untuk mendapatkan perawatan intensif oleh pihak Rumah Sakit Mitra Plumbon. Selang beberapa hari pascadirawat dan dinyatakan pulang, tiba-tiba tangan dan kaki tidak maksimal digerakkan, melainkan keduanya sering bergetar,” ungkap Gabriela sembari bergetar tangan dan kakinya.

Dengan kondisi tangan dan kaki sebelah kanannya kerap bergetar setiap detik, siswi yang memiliki hobi berenang ini melanjutkan ceritanya. Sejak hari pertama UNBK dirinya menggerjakan soal-soal UNBK menggunakan tangan kiri, karena tangan kirinya yang bisa diandalkannya untuk membantu menggerakkan mouse komputer.

“Dengan tetap melakukan proses belajar di rumah tentunya saya ingin bisa lancar dan lulus, ada pun saya memiliki cita-cita menjadi seorang programer sebuah perusahaan, atau berkuliah dengan mengambil jurusan bahasa,” ucap Gabriela dengan sedikit mengeluarkan senyumnya.

Gabriela menambahkan, kesulitan untuk bergerak dirasakannya hingga sampai saat ini, keluarga belum melakukan perawatan intensif ke rumah sakit canggih lainnya. Namun, pihak keluarga sempat membawanya ke sejumlah tukang pijat akan tetapi belum juga sembuh.

“Aktivitas di luar sekolah saya isi dengan berdiam di rumah sambil belajar, dan membantu pekerjaan kedua orang tua yang berprofesi sebagai penjual telur asin di Jalan Pecinan Kota Cirebon,” ujar Gabriela.

Gabriela dikenal oleh pihak sekolah dan teman-temannya memiliki kepintaran dari segi teori akademik dan juga non akademik, bahkan di bidang olahraga berenang semua gaya.

Hal tersebut diakui Kepala SMK Presiden, Ichwanuddin. Menurutnya, Gabriela memiliki semangat tinggi untuk belajar, di balik kekurangan dari segi fisiknya itu tidak membuatnya lemah dan patah semangat.

“Bahkan pihak keluarga juga memilih menyekolahkannya di sekolah umum bukan di sekolah khusus seperti SLB, karena memang dari segi mental Gabriela normal, hanya saja fisiknya memiliki kekurangan,” katanya saat ditemui di SMK Presiden.

Ia menjelaskan, Gabriela pintar bahkan memiliki nilai teori amat bagus. Gabriela adalah satu dari tiga siswa berkebutuhan khusus yang diterima pihak sekolah tanpa membedakan dengan siswa lain. Seperti Riri program studi TKJ yang didiagnosa sejak kecil tangan kanannya cacat sejak lahir dan Andriansyah program studi AP yang lahir didiagnosa tulang punggungnya tidak rata sehingga harus membungkuk saat beaktivitas.

“Sistem pendidikan di kami juga tentunya memiliki arah jelas untuk mereka, ada dunia industri yang siap menerima tenaga mereka untuk bekerja layak siswa lainnya,” tukas Ichwanuddin. (Egi)