Fanny/KC Online.*

WARSIH (45 tahun) terus membilas baju-baju yang dibawanya di anak Sungai Gesik di Desa Batembat, Kecamatan Tengahtani, Kabupaten Cirebon, Minggu (15/4/2018) kemarin.

Di seberang Warsih ada Nur (34 tahun) yang juga tinggal di desa yang sama. Keduanya tampak menikmati mencuci bersama di sungai pada Minggu siang. Oleh warga, di anak sungai ini sengaja dibuat semacam tangga agar warga yang mencuci bisa nyaman, dan oleh warga pula tangga ini dicat warna warni, sehingga suasana mencuci tambah nyaman.

Meski cuaca panas menyengat, namun ada pohon bambu yang melindungi mereka, sehingga suasana sangat adem. Desa ini sebetulnya tidak betul-betul berada di lokasi terpencil, dan Kecamatan Tengahtani pun merupakan kecamatan yang cukup dekat dengan Kota Cirebon yang merupakan pusat kegiatan warga Kota dan Kabupaten Cirebon.

Kondisi ini akrab ditemui di dekat Sungai Gesik, sebuah sungai besar yang memisahkan antara Desa Batembat di Kecamatantengah Tani dan Desa Panembahan di Kecamatan Plered.

Warsih mengaku tiap hari dirinya selalu mencuci di anak sungai ini, sebab tidak ada tempat mencuci di rumahnya. Meski beberapa waktu lalu Sungai Gesik sempat menelan korban jiwa tenggelam, namun menurutnya tidak masalah dan tidak membuat takut warga sekitar.

“Sungai ini memberikan kehidupan bagi kami, jujur saja warga lebih baik mencuci di sungai daripada mencuci di rumah. Kalau di rumah saya memang tidak ada tempat mencuci karena sempit, jadi saya pilih di sini nyucinya, tapi kan ibu-ibu lainnya sebenarnya ada fasilitas mencucinya di rumahnya namun tetap pilih di sungai nyucinya,” tukas Warsih saat ditemau KC Online.

Menurut Warsih, sudah bertahun-tahun dirinya melakoni kegiatan mencuci di sungai ini. Oleh warga, tempat mencuci ini dibuat senyaman mungkin. “Makanya kan dicat warna warni, kami bisa nyaman nyucinya,” katanya.

Pantauan KC Online, air sungai di lokasi mencuci warga sangat keruh. Warsih dan Nur tidak mempersoalkan ini. Sebagai anak sungai, sungai lokasi mencuci pun sempit dan tidak terlalu dalam.

“Kami bisa bergosip di sini, bisa ketawa ketiwi bersama ibu-ibu yang lain, pokoknya ramai kalau sudah ngumpul. Tidak masalah airnya keruh, yang penting cucian kami ini bersih dan wangi,” kata Nur.

Nur juga mengungkapkan, dirinya sebenarnya memiliki fasilitas mencuci di rumahnya, namun memilih mencuci baju di sini.

“Kalau tidak ada teman mencuci ya saya milih nyuci di rumah, tapi kalau ada temannya saya pilih nyuci di sungai. Kalau nyuci di rumah itu sepi, ga seramai di sini. Ya kami sih tidak peduli dikatakan tradisional karena masih mencuci di sungai, yang penting kami bahagia,” tukasnya.

Menurut Nur, beragam obrolan selalu ada, mulai dari situasi terkini di pilkada serentak hingga gosip terkini artis ibu kota.

“Sekarang kan mau ada pemilihan bupati, kita sering ngobrolin mau pilih siapa, kita ini kompak mau pilih siapa, tapi ga bisa ngasih tau ya,” katanya sambil tertawa.

Nur juga mengungkapkan, warga menyadari jika sungai ini memberikan penghidupan, dan dengan sendirinya warga pun menjaga sungai ini dari sampah.

“Masa mau dipakai nyuci ada sampahnya, kan ga mungkin. Makanya kalau ada warga lain yang mau buang sampah di sungai maka kita marahin, kita jagain sungai ini supaya kita bisa terus nyuci di sini,” tuturnya.(Fanny/KC Online)