KEPALA Seksi PD Pontren Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kuningan, H Muhamad Nurdin (tengah), yang juga sebagai narasumber dalam program literasi kitab kuning, berlangsung di Aula Kantor Kemenag, belum lama ini. Emsul/KC Online

KUNINGAN, (KC Online).-

Upaya peningkatan budaya baca (literasi) terhadap kitab kuning digalakkan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kuningan.

Salah satunya melalui kegiatan pengembangan literasi kitab kuning membedah nalar intelektualisme atas kitab Atadruuna Maal Kautsar, yang diikuti 40 peserta dari sejumlah pondok pesantren, di aula Kantor Kemenag setempat.

Kegiatan yang menghadirkan nara sumber, yakni KH. Abu Bakar Sidiq (Kabid PD Pontren Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat), Buya Iing Nasihin Amin (Pimpinan Pondok Pesantren Al- Kautsar Cilimus), KH. Aman Syamsul Falah (Ketua FPP Kabupaten Kuningan), dan H. Muhamad Nurdin, (Kepala Seksi PD Pontren) ini, disampaikan sejumlah meteri terdiri dari kebijakan bidang PD Pontren terhadap pendidikan pesantren melalui pembelajaran literasi kitab kuning, membedah Kitab Kuning Atadruuna Maal Kautsar karya Syekh Sayyid Ali, metodelogi cara cepat membaca kitab kuning dan dimensi penalaran tradisi intelektualisme pesantren.

Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Kuningan, KH Yosron Kholid, menuturkan, dalam tradisi literasi kitab kuning di pesantren sangat dikenal penulis-penulis komentator dan penjelas (kitab syarah dan hasyiyah) produktif sekaliber Sayyid Ahmad B. Zayni Dahlan (w. 1304 H), Sayyid b. Muhammad Shatta’ Al-Dimyati (w. 1310 H) dan Muhammad B., dan Umar Nawawi al-Bantani (w. 1314 H) yang karya-karyanya dapat diterima dan sangat mewarnai kurikulum pesantren pada masa itu.

Kemudian di pesantren nusantara dikenal karya dari ulama pesantren seperti Muhammad Arsyad Al-Banjari (w. 1227 H) yang berjudul “sabil al-muhtadin”, Abd al-Samad al-Palimbani (1203 H) dengan kitab yang berjudul “hidayat al-salikin fi suluk maslak al-muttaqin” dan yang juga tidak kalah populer kala era itu adalah sosok Sayyid Usman B. Abdullah B. Aqil B. Yahya (w. 1331 H).

“Mereka adalah penulis-penulis pesantren yang karya-karyanya menjadi cetak biru (blue-print) produktifitas intelektualisme pesantren dan mengharumkan nama besar kelompok sarungan,” katanya.

Disebutkanya, terdapat lebih dari 100 judul kitab yang ditulis oleh ulama Indonesia dengan menggunakan bahasa Arab. Ada pun format penulisan dari kitab kuning yang dikenal adalah bentuk komentaris (syarh), eksplanatif (hasyiyyah) dan sebagian besar dalam bentuk teks baris berirama (nadham) yang mudah untuk dihapalkan.

Tradisi literasi lain yang dikenal di pesantren adalah memberikan arti atau tanda gramatikal Arab di bawah teks kitab kuning (ma’na-ni) atau disebut dengan kitab kuning “jenggotan”, terjemahan yang biasa dituliskan menggunakan bahasa lokal (Jawa, Madura, Sunda dan sebagainya) dimana pesantren berada.

Kepala Seksi PD Pontren, H. Muhamad Nurdin, mengemukakan, kegiatan ini sebagai bagian dari perhatian pemerintah dalam upaya mewujudkan pendidikan keagamaan yang bermutu.

“Dalam hal ini Kemenag memberikan dukungan kepada pengelolaan pendidikan diniyah dan pondok pesantren yang berbentuk perorangan dan yang berada dibawah naungan badan hukum,” katanya. (Eman/KC Online)