SEJUMLAH Siswa-siswi sedang memasang hasil karyanya untuk di pameran di SMK Caruban Nagari Ponpes Teknologi Terpadu Amparan Djati Desa cisaat, Kecamatan Dukupuntang Kabupaten Cirebon, Jumat (11/5/2018).* Iwan/KC Online

PERNAH beberapa kali ingin pulang ke kampung halamannya di Garut, namun Ridwan Nurzaman (37 tahun) selalu mengurungkan niatnya. Salah satu pengajar di Pondok Pesantren Amparan Jati di Desa Cisaat, Kecamatan Dukupuntang ini, merasa tidak betah ketika pertama kali diminta mengajari siswa.

Ponpes Amparan Jati satu komplek dengan SMK Caruban Nagari, dan siswa di SMK Caruban Nagari diwajibkan menginap di ponpes ini. Bukan tanpa alasan Ridwan tidak betah di sini, sebab kondisi Ponpes yang serbakekurangan membuatnya ingin hengkang.

“Berkali-kali saya minta pulang saja ke Garut, tapi anak-anak di sini meminta saya tetap mengajar, bahkan mereka menangis tiap kali saya mengutarakan keinginan pulang,” kata Ridwan kepada KC, Minggu (13/5/2018).

SMK Caruban Nagari memiliki 27 guru,dan delapan di antaranya merangkap mengajar juga di ponpes. Ridwan bercerita, SMK ini berdiri sejak 2006 dan hingga tahun 2014 para guru sama sekali tidak diberikan honor, kecuali uang transport dari para donatur. Namun, memasuki 2015, SMK Caruban Nagari mulai mendapatkan bantuan operasional sekolah (BOS) dari pemerintah pusat yang bisa digunakan untuk membayar honor para guru.

“Saya datang ke sini pada 2015, saat guru sudah diberikan honor. Saya salut terhadap para guru yang sudah mengajar sejak 2006 yang benar-benar gratis dalam mengajar, mereka hanya dapat uang ala kadarnya dari donatur yang kadang tidak tetap,” katanya.

Menurut Ridwan, per jamnya guru hanya diberikan honor Rp 9 ribu. Rata-ratanya guru ini mengajar empat jam dalam seminggu, sehingga dalam satu bulan mereka dapat honor Rp 120 ribu, dan paling maksimal Rp 150 ribu.
“Saya dapat Rp 150 ribu/bulan. Secara logika, apa uang ini cukup? Apalagi saya sudah punya anak dan istri,” tukasnya.

Ridwan juga berujar, dirinya menganggap uang itu bukan honor, melainkan uang tanda terima kasih dari pihak ponpes dan sekolah kepada para guru.

“Untungnya istri dan anak yang tinggal juga di ponpes ini tidak pernah protes pendapatan saya ini, mereka terima apa adanya saya dapat honornya cuma segitu-gitunya. Bagi saya mengajar di sini memang ada kepuasan batin tersendiri, sayapun bangga terhadap yayasan ini sebab mampu terus eksis meski menggratiskan seluruh siswanya, saya bersemangat terus mengajar,” ujarnya. (Fanny Krishna/KC)