ilustrasi / KC Online

MAJALENGKA.(KC Online).-

TINGGINYA harga telur di Majalengka yang terjadi belakangan ini akibat banyak pengusaha ayam petelur yang melakukan peremajaan ayam, sehingga produksi telur berkurang.

Akibatnya jumlah produksi tidak sebanding dengan permintaan pasar, dampaknya harga naik.
Pengusaha ayam petelur Eman Suherman, mengungkapkan, permintaan telur saat ini tidak hanya berasal dari pedagang yang sudah lama menjadi pelanggan di pasar-pasar, namun permintaan datang dari pemerintah desa atau badan usaha milik desa se-Kabupaten Majalengka untuk memenuhi kebutuhan penyediaan bantuan non tunai yang dikucurkan pemerintah pusat.

“Saat ini permintaan tak hanya datang dari pelanggan bisa tapi juga dari desa. Di semua desa masyarakatnya banyak yang mendapatkan bantuan non tunai dari pemerintah pusat yang salah satunya harus melakukan ketersediaan telur dan beras. Makanya Bumdes di seluruh desa atau BRI Link berupaya membeli telur untuk menyediaan bantuan non tunai. Wajar jika kebutuhan telur tinggi sementara produksi kini masih tetap,” ungkap Eman.

Selain itu, banyak pengusaha ayam petelur yang melakukan peremajaan ayam setelah Lebaran kemarin.

Pada Lebaran kemarin ayam petelur dijual sebagai ayam potong karena melihat harga daging ayam menjelang Lebaran sangat tinggi lebih dari Rp 25.000 per kg dari peternak, di samping usia ayam sudah mencapai dua tahunan, usia dua tahun untuk ayam petelur dianggap sudah kurang produktif.

“Saya saja 5.000 ayam saat Lebaran kemarin langsung dilempar ke pasar jadi ayam potong, usianya sudah tua sudah menjelang dua tahunan, harga lumayan tinggi, biasanya ayam potong harganya di bawah Rp 20.000 kemarin melebihi harga itu ya mending dijual, momentumnya tepat,” ungkap Eman Suherman yang juga kepala Dinas BMCK Kabupaten Majalengka.

Harga pakan sendiri, menurutnya, saat ini masih tetap stabil, suplai pakan juga banyak apalagi di Kabupaten Majalengka sebagian petani baru saja musim panen jagung, sebagian bahkan sudah memanen sejak beberapa waktu lalu.

“Harga pakan stabil, jadi menurut saya kenaikan harga telur yang terjadi di Majalengka bahkan Indonesia ini akibat produksi yang kurang, permintaan sangat tinggi. Jadi tidak seimbang. Mungkin ini keuntungan bagi pengusaha telur,” Eman sambil berkelakar.

Kewalahan

Hal senada disampaikan Lia, pengusaha telur ayam lainnya yang memiliki 3.000 ekor aya. Dia mengaku kewalahan memenuhi permintaan pasar baik dari pelanggan maupun dari pengusaha baru yang menjadi mitra BRI Link.

Malah Lia selain menyediakan telur juga menyediakan beras untuk memenuhi permintaan dari pelanggan barunya tersebut. “Ayam tiap hari bertelur tapi tetap kurang,” katanya.

Kepala Dinas Perdagangan M Umar Ma’ruf mengungkapkan, tingkat konsumsi telur di Majalengka saat ini memang sangat tinggi, hingga tidak bisa dipenuhi oleh pasokan telur ke Majalengka. Untuk memenuhi kebutuhan pasar kini telur dikirim dari Blitar, Jawa Timur.

“Konsumsi telur ayam di Majalengka memang cukup luar biasa. Masyarakat Majalengka yang mengonsumsi telur ayam dalam setiap hari hingga berton-ton. Data kami mencatat grosir telur ayam di Kabupaten Majalengka setiap harinya mampu menjual lebih dari 2 ton,” ungkap Umar.

“Kalau di Majalengka 10 grosir telur ayam yang setiap tokonya mampu menjual 2,5 ton artinya 25 ton telur di Majalengka habis terjual. Ini jumlah yang sangat luar biasa, konsumsi telur di masyarakat Majalengka tinggi,” tambah Umar.

Dia menyebutkan, kenaikan harga telur yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir ini adalah siklus tahunan yang sering terjadi, hal ini bukan hanya di Majalengka melainkan di beberapa daerah lain di Indonesia. Karena kalau melihat stok di pasaran telur masih terbilang normal dan cukup. (Tati/KC Online)