Moh Iskandar. Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Penduduk DPPKB Kabupaten Kuningan, Emsul/KC Online

Moh Iskandar

SEPINTAS mendengar istilah koalisi, seakan identik dengan percaturan politik yang biasa dilakukan menjelang pilkada atau pemilu presiden. Biasanya digagas partai politik untuk mencapai tujuan atas dasar berbagai pertimbangan dan kepentingan politik.

Namun di zaman sekarang, istilah koalisi itu dilakukan juga Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) dengan sebutan Koalisi Kependudukan, dalam upaya menyukseskan program kependudukan di daerah masing-masing.

Koalisi Kependudukan yang satu ini sama sekali tidak ada kaitan dengan isu politik apapun, melainkan sebuah wadah organisasi relawan yang dibangun DPPKB, dari mulai tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional. Termasuk pula di Kabupaten Kuningan.

“Mudah-mudahan melalui program Koalisi Kependudukan ini mampu menekan angka pertumbuhan penduduk di Kabupaten Kuningan. Apalagi belakangan ini, DPPKB sempat launching kerja sama Kampung Siaga Kependudukan (KSK) dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes). Program kerja sama dimaksudkan agar mahasiswa juga mendapat pemahaman yang luas mengenai kondisi kependudukan yang berkaitan dengan dinamika kependudukan,” kata Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Penduduk DPPKB Kabupaten Kuningan, Moh. Iskandar (51 tahun), kepada “KC Online”, Selasa (10/7/2018).

Ayah dari Ihya, Nuryati dan M Irsyad ini, cukup berpengalaman dalam melaksanakan program pengendalian penduduk yang digelutinya sejak usia muda. Bahkan dia sempat menjadi juara III Petugas Keluarga Berencana (PKB) Teladan tingkat Jabar pada 2006, dan sebagai narasumber tingkat nasional di Kantor BKKBN Pusat pada 2008.

Menurutnya, kunci kesuksesan dalam melaksanakan tugas, yakni selalu tertanam dalam dirinya prinsip, bahwa setiap diri manusia adalah pemimpin. Kemudian setiap pemimpin yang baik itu adalah yang mampu memberi keteladanan.

“Kita jangan dulu berbicara yang muluk-muluk sebelum memulai untuk melakukan perbuatan baik. Tapi dimulai dari diri sendiri. Misalnya, menyuruh orang lain untuk berbuat baik, namun apalah artinya apabila diri sendiri tidak melakukan perbuatan baik tersebut. Keteladanan harus dimulai dari diri sendiri, sebab keteladanan lebih dari ucapan,” kata suami Lela Nurlaela ini. (Emsul/KC Online)