PETUGAS uji KIR melakukan pemeriksaan terhadap kendaraan yang aktif melakukan uji berkala enam bulan sekali, Selasa (10/7/2018). Agus/KC Online

KUNINGAN, (KC Online).-

Sebanyak 1.000 kendaraan angkutan umum penumpang dan angkutan barang tidak lagi melakukan pengujian kendaraan bermotor (uji KIR) secara berkala enam bulan sekali.

Padahal uji KIR wajib dilakukan untuk memenuhi persyaratan teknis dan kelaikan kendaraan yang akan menunjang pada keselamatan.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengujian Kendaraan Bermotor Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kuningan, Sukirman, Selasa (10/7/2018) menyebutkan, jumlah keseluruhan kendaraan yang wajib melakukan uji KIR di Kabupaten Kuningan sebanyak 7.000 unit.

Tetapi yang rutin melakukan uji KIR berkala enam bulan sekali itu ada 6.000 unit. Sementara sisanya sudah tidak aktif. Bahkan sampai bertahun-tahun tidak dilakukan uji KIR.

Menurutnya, kebanyakan kendaraan yang tidak aktif melakukan uji KIR berkala di antaranya sejenis bus yang sudah dituakan, angkutan barang, dan angkutan umum. Kemudian ada kemungkinan kendaraan-kendaraan tersebut sudah jarang beroperasi di jalan raya.

“Kami sulit mengontrolnya. Ada juga kemungkinan kendaraannya sudah di jual ke luar kota, dan pemiliknya tidak melaporkan kepada kami, sehingga databasenya masih ada,” tuturnya.

Keselamatan

Sementara itu dikemukakan Sukirman, meski pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor KIR setiap tahunnya ada peningkatan, tetapi tidak harus dipaksakan PAD naik 20 persen dari target tahun kemarin. Karena perlu diketahui uji KIR itu tujuannya bukan untuk mendongkrak PAD, melainkan demi keselamatan.

Menurutnya, dalam uji KIR itu retribusi dapat dipenuhi setelah pelayanan keselamatan terpenuhi.

“Uj KIR itu berbeda dengan parkir. Saat pelayanan keselamatan terpenuhi, baru kami penuhi retribusinya. Kalau kami dalam sehari ada 50 unit kendaraan yang di KIR, di bank tercatat 50. Kami juga harus melaporkan 50 unit karena ada barang yang keluar,” kata Sukirman. (Agus/KC Online)