SALAH seorang atlet cano slalom Indonesia bersiap untuk melakukan start dalam Asian Games di Bendung Rentang, Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, Selasa (21/8/2018).* Tati/KC Online

MAJALENGKA, (KC Online).-

Venue cano slalom diminta pihak BBWS untuk tetap dipelihara hingga ada pemberitahuan lebih lanjut dibongkar kembali atau tetap dipertahankan. Namun jika itu dipertahankan akan menjadi persoalan terhadap saluran Induk Cipelang karena lapangan tersebut adalah tempat pembilasan lumpur saluran air.

Disampaikan Pengelola Bendung Rentang, Dedi Supriadi, saluran yang dipergunakan sebagai venue slalom adalah kantong lumpur Saluran Induk Sindupraja yang biasa dua kali dalam sebulan dibesrihkan untuk menghindari sedimentasi lumpur di saluran induk tersebut.

“Itu adalah kantong lumpur atau ngpret yang berfungsi untuk mengendapkan sedimen, agar lumpur tidak langsung ke saluran irigasi. Sebulan dua kali itu dilakukan pembilasan untuk membuang lumpur,” ungkap Dedi.

Kalau saja sekarang ada kontruksi venue menurut Dedi akan sangat menghambat pembilasan, akibatnya sedimentasi lumpur akan semakin cepat terjadi di saluran induk tersebut.

Namun demikian, menurut dia, hal itu bisa saja tetap dipertahankan sesuai keinginan atlet dan pelatih atau masyarakat sendiri hanya harus ada solusi kantong lumpur untuk mengurangi sedimentasi di Saluran Induk.

“Hanya kalau pendapat saya diibanding harus membuat kantong lumpur baru rasanya lebih baik membuat venue baru. Sebab studi kelayakan untuk membuat kantong lumpur lebih berat dibanding membuat venue baru. Untuk kantong lumpur tingkat kemiringan harus benar-benar terukur, debit air juga harus kuat, perhitungan sedimen ke pembilasan juga harus benar-benar terukur. Jadi studinya lebih berat buat kantong lumpur,” papar Dedi.

Hanya memang menurutnya intruksi balai diminta untuk tetap dipelihara sampai ada pengganti venue baru.

Sebagai alternatif venue baru, menurut Dedi bisa dibangun di bekas pengelak pembangunan Bendung Rentang, tepatnya di sebelah kiri induk kantong lumpur SI Cipelang. “Yang jelas pembangunannya harus di hulu bendung, karena air kan harus deras,” kata Dedi.

Seperti diberitakan sebelumnya, pelatih cano slalom Uyun M Gunawan serta sejumlah atlit Arifal (20 tahun) dan Sumitha Kurnia (25 tahun) berharap, Bendung Rentang ini menjadi lokasi permanen sebagai lapangan cano slalom. Karena selama ini belum memiliki lapangan. Kalau berlatih terpaksa menggunakan waduk jatiluhur yang kondisi airnya tenang. Padahal lapangan cano harus air deras.

Akibatnya, menurut Uyun, para atlet kaget saat menghadapi tanding dengan atlet asal negara lain yang sudah biasa berlatih di air deras. Keinginan serupa juga disampaikan masyarakat Majalengka yang berharap lapangan cano slalom bisa dibangun di Majalengka agar warga Majalengka bisa berlatih dan diharapkan bisa muncul atlit asal Majalengka.

Disamping itu, dengan adanya lapangan cano situasi Bendung rentang pun akan lebih rame dan akan membangkitkan pertumbuhan ekonomi baru di wilayah sekitar lapangan tersebut. “Kami berharap ada pertumbuhan ekonomi baru dengan adanya lapangan cano tersebut,” kata Eka tokoh pemuda Jatitujuh. (Tati/KC Online)