Ilustrasi . GM/KC Online

JAKARTA, (KC Online).-

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mendeteksi terjadinya gempa bumi berkekuatan 5,6 Skala Richter (SR) di bagian Selatan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin (6/8/2018) malam.

Kepala Bagian Humas BMKG, Hary Tirto Djatmiko, Senin (6/8/2018), mengungkapkan, gempa itu terjadi pada pukul 19.06 WIB dan berlokasi di kedalaman 10 kilometer.

Dilansirkan Antaranews, gempa itu berada di koordinat 11.50 Lintang Selatan dan 118.19 Bujur Timur. Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Rangkaian gempa di Nusa Tenggara Barat terjadi pada Minggu (29/7/2018) berkekuatan 6,4 Skala Richter, yang mengguncang Lombok, Sumbawa dan Bali. Gempa itu mengakibatkan 16 orang meninggal dunia di Lombok Utara, Lombok Timur dan Gunung Rinjani yang kebanyakan meninggal akibat tertimpa reruntuhan bangunan.

Kemudian, pada Minggu (5/8/2018), Lombok kembali diguncang gempa dengan kekuatan 7 SR. Hingga saat ini, gempa itu menyebabkan 98 orang meninggal dunia, ratusan luka-luka dan ribuan warga mengungsi.

Sebelumnya, peneliti pada Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman mengatakan terjadinya dua gempa besar di Nusa Tenggara Barat dalam waktu hanya selang satu pekan, diperkirakan bersumber dari satu bidang sesar yang sama.

“Itu satu sumber. Satu bidang sesar. Mungkin sebelahan,” katanya.

Menurutnya, gempa 7 SR pada Minggu (5/8/2018) terjadi karena ada satu bidang patahan dengan kemiringan 30 derajat bergerak dua hingga tiga meter. Lokasi sesar atau patahan itu sekitar satu kilometer dari lepas pantai di Lombok Utara. “Itu yang menyebabkan gempa,” katanya.

Kerugian

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Barat, Muhammad Rum mengaku, meskipun belum bisa memberikan data pasti mengenai kerugian akibat gempa di Lombok, namun diperkirakan bisa mencapai Rp 1 triliun.

“Kerugian belum ada perhitungan, tapi melihat dampaknya bisa jadi angkanya menembus Rp 1 triliun untuk kerusakan dan kerugian,” kata Muhammad Rum di Tanjung, Lombok Utara.

Menurutnya seperti dilansirkan Antaranews, yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan warga yang menjadi korban akibat reruntuhan bangunan.

“Tadi malam daerahnya gelap gulita tentu tim evakuasi agak kesulitan, kami tidak tahu apakah masih ada korban di bawah puing-puing atau tidak,” tuturnya.

Rum mengatakan, tim evakuasi memerlukan adanya alat berat untuk membersihkan puing-puing akibat gempa.

“Masa tanggap darurat bencana yang ditetapkan selama 14 hari, merupakan penetapan sejak gempa pada Minggu (29/7/2018),” katanya.

Namun demikian, melihat besarnya dampak yang ditimbulkan akibat gempa pada Minggu (5/8/2018) malam, Rum menilai adanya kemungkinan masa tanggap darurat bencana kembali diperpanjang.

“Kalau melihat (dampak gempa) semalam mungkin ada tanggap darurat lagi, khusus untuk menangani Lombok Utara,” ujarnya.

Diakuinya, kondisi yang ia saksikan saat ini sangat menyedihkan lantaran banyaknya korban jiwa maupun luka. “Jadi kalau lihat gempa pertama dan gempa saat ini jauh yang sekarang,” katanya.(GM/KC Online)