FORUM KoordinasiPencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Barat saat menggelar seminar tentang pencegahan radikalisme dan terorisme di salah satu hotel di kota cirebon, Kamis (8/9/2018).* Iskandar/KC Online

CIREBON, (KC Online).-

Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Jawa Barat meminta agar masyarakat mewaspadai penyebaran faham radikal di era digital. FKPT menilai para penganut faham radikalisme dan terorisme saat ini memanfaatkan teknologi digital untuk menyebarkan faham yang mereka yakini.

Ketua FKPT Jawa Barat, Yaya Sunarnya mengatakan, di era digitilal masyarakat akan dengan mudah menerima dan mencari informasi di media sosial (medsos). Jika tidak berhati-hati, Yaya menilai faham radikalisme bisa cepat menyebar.

“Semua informasi itu berseliweran setiap hari dari gadget ke gadget, dari komputer ke komputer. Semua terkoneksi, sehingga inilah yang dimanfaatkan kelompok radikal dan teroris untuk menyusupkan pemahaman menyimpang mereka langsung ke jantung pemikiran para pengguna gadget,” kata Yaya usai seminar dengan tema “Saring Sebelum Sharing, Literasi Digital sebagai Upaya Pencegahan Radikalisme dan Terorisme” di salah satu hotel di Kota Cirebon, Kamis (9/8/2018).

Karena itulah, Yaya mengatakan, diperlukan kearifan dan kebijaksanaan untuk memilih informasi mana yang diperlukan. Kemampuan memilah ini bisa dilakukan melalui kegiatan literasi digital. Menurutnya, tingkat membaca masyarakt di Indonesia sangat rendah. Dalam kondisi seperti ini, Yaya menilai masyarakat dihantam banjir informasi, sehingga masyarakat makin jauh dari kecerdasan membaca informasi.

“Mereka dengan mudah menyebarkan informasi tanpa peduli benar atau tidaknya. Hanya membaca judul, tanpa membaca isi, berita pun disebar, padahal itu hoax. Di sinilah pentingnya literasi digital, agar masyarakat setidaknya punya cara untuk menyaring informasi dan tidak sembarangan menyebarluaskannya,” katanya.

Yaya menambahkan, FKPT Jawa Barat menyasar kalangan anak muda, terutama mereka yang dekat dengan dunia teknologi informatika. Termasuk di dalamnya komunitas blogger, komunitas youtubber dan sosial media lainnya. Yaya menilai, para pemuda ini dijadikan target oleh penganut faham radikalisme dan terorisme.

“Mereka sedang mencari jati diri. Ketika menemukan ajakan yang dirasa mereka rasional, mereka langsung ikut. Isu-isu agama dimainkan untuk menjerat mereka. Soal ketidakadilan, ketertindasan, menjadi kata kunci untuk merekrut para pemuda ini untuk bergabung dengan kelompok-kelompok radikal,” ungkapnya.

Selanjutnya, jika pemikiran sudah radikal, Yaya menilai hanya tinggal menunggu waktu untuk bertindak radikal.

“Inilah yang coba kami cegah, dengan literasi digital, supaya lebih banyak konten-konten positif yang muncul, konten-konten yang menyerukan perdamaian dan persatuan,” ujarnya.

Staf Ahli Walikota Bidang Politik dan Hulum Pemerintah Kota Cirebon, Abidin Aslich menambahkan, permasalahan radikalisme dan teroris harus diselesaikan oleh semua komponen. Menurut Abidin, semua elemen di masyarakat harus bisa menjadi mitra pemerintah untuk mencegah terorisme.

“Saya kira kita semua ini agen untuk mencegah tumbuh kembangnya faham radikalisme dan terorisme di Indonesia,” kata Abidin.

Abidin juga mengusulkan agar ada pendidikan khusus Pancasila. Menurutnya, upaya pencegahan yang paling ampuh yakni dengan menanamkan pemikiran tentang Pancasila sejak usia dini.

“Itu untuk mendoktrin peserta didik guna memulai mengamalkam tentang ideologi bangsa, hanya itu yang bisa melawan pemikiran radikal. Ideologi harus dilawan dengan idoelogi, tanamkan Pancasila sejak dini,” imbau dia.

Sementara itu, mantan narapidana terorisme, Kurnia Widodo yang menjadi pembicara dalam acara ini mengatakan, media sosial dapat dengan cepat dan mudah untuk mempercepat pemahaman radikalisme. Intensitas yang tinggi masyarakat membuka media sosial menjadi salah satu alasan faham radikal ini cepat menyebar. Bahkan, dalam dua bulan apabila seseorang yang sudah mempunyai keyakinam maka doktrin radikal bisa masuk dengan cepat.

“Dua bulan juga bisa menjadi radikal apabila mereka sudah punya keyakinan awal. Yang paling diwaspadai memang media sosial. Orang bisa radikal tanpa harus bertemu, jadi bisa terjadi dengan media sosial,” tutur Kurnia.(Iskandar/KC)