CIREBON, (KC Online).-

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Cirebon menolak jika mata pelajaran olahraga dan seni budaya dihapus. Penolakan tersebut dikatakan oleh PGRI Kota Cirebon lantaran berhembus isu yang mengatakan mata pelajaran olahraga dan seni budaya akan dikurangi bahkan dihapus. Meskipun demikian, sampai saat ini PGRI Kota Cirebon belum menerima kabar apapun terkait isu pengurangan dan penghapusan mata pelajaran olahraga dan seni budaya.

Wakil Sekretaris PGRI Kota Cirebon, Eka Novianto mengatakan, pengurangan dan penghapusan mata pelajaran olahraga dan seni budaya sangat sulit untuk dilakukan. Pasalnya, mata pelajaran apapun yang ada di sekolah semua sudah tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) RI. Menurutnya, dalam Permendikbud RI disebutkan mata pelajaran apapun baik wajib maupun muatan lokal semuanya sudah diatur dalam Permendikbud RI.

“Jadi kedua mata pelajaran tersebut tidak mungkin dihapuskan. Dan semua mata pelajaran jam-jamnya sudah ditentukan, kalau misalkan ada sekolah yang mengurangi jam mata pelajaran yang sudah sesuai aturan menteri itu jelas salah,” kata Eka, Selasa (7/8/2018).

Eka menambahkan, sejauh ini pihaknya belum menerima laporan terkait adanya rencana pengurangan dan penghapusan kedua mata pelajaran tersebut. Kalaupun ada pengurangan, menurutnya setiap sekolah pasti akan menyiasati.

“Pada prinsipnya, semua yang dilakukan demi kebaikan dan pemerataan. Karena sekarang juga pemerataan guru sedang mencoba dilakukan oleh pemerintah. Jadi kita lihat saja kedepannya, mudah-mudahan dapat yang terbaik,” katanya.

Sedangkan menurut Eka, untuk penghapusan mata pelajaran olahraga dan seni budaya itu tidak mungkin dilakukan. Pasalnya, mata pelajaran apapun yang ada di sekolah semua sudah tercantum dalam Permendikbud.

Menurut Eka, jika pengurangan dan penghapusan mata pelajaran olahraga dan seni budaya terjadi, maka PGRI berada di barisan paling depan menolak kebijakan tersebut.

“Selama ini yang membuat kebijakan itu kadang mereka tidak melihat kondisi real di lapangan, coba mereka turun kebawah. Kalau misalkan kebijakan tersebut akan dibuat, ajak PGRI untuk bicara, tarik aspirasi dari PGRI dan ajak guru ngobrol agar kebijakan yang dibuat itu sesuai dengan kondisi di lapangan,” ungkapnya.

Eka menilai, mata pelajaran olahraga dan seni budaya mempunyai peran penting dan sangat bermanfaat bagi para siswa.

“Didalam tubuh yang sehat ada jiwa yang kuat. Bagaimana pelajar mau berkonsentrasi, kalau memang konteks ketahanan daya tubuhnya saja dia tidak sehat,” ujarnya.

Eka menegaskan, di Indonesia banyak sekali atlet yang lahir dan mengharumkan nama Indonesia itu melalui olahraga.

“Sekolah itu harus bisa menjawab kebutuhan masyarakat, tidak semua orang itu berpotensi akademis. Secara non akademis juga harus ditonjolkan. Bahkan kita patut berbangga, karena baru-baru ini ada atlet lari yang bisa mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia lewat olahraga,” ucapnya.

Sedangkan untuk seni budaya, menurutnya Indonesia sendiri lahir dari keanekaragaman budaya.

“Kalau tidak diajarkan di sekolah mau mengenal budaya darimana, karena siswa kita dan masyarakat juga mengenal banyak kebudayaan itu dari sekolah,” imbuhnya. (Iskandar/KC)