KEPALA Seksi Perlindungan Khusus Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Maryamah (kanan) menyerahkan piala dan uang pembinaan kepada salah seorang pemenang lomba menulis dan baca puisi, Rabu (15/8/2018).* Egi/KC Online

CIREBON, (KC Online).-

Banyak cara untuk menyuarakan ketidakadilan dan ketakutan yang dialami sekelompok masyarakat. Misalnya dengan membuat tulisan di media massa maupun tulisan dalam bentuk puisi.

Semuanya memiliki tujuan sama, yaitu menyuarakan problematika yang dirasakan oleh para korban, sebagai bentuk kepeduliaan sosial agar kasus serupa tidak terus terjadi di kemudian hari. Apalagi terus menghantui rasa takut bagi para korbannya.

Seperti halnya dilakukan oleh sejumlah anak-anak dari 9 Sekolah Dasar (SD) Negeri dan Swasta di Kota Cirebon, Rabu (15/8/2018). Mereka mengkampanyekan “Stop Aksi Kekerasan terhadap Anak” dalam sebuah lomba menulis dan membaca puisi yang digelar Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak. Kegiatan ini dalam rangka memperingati Momentum Hari Anak Nasional di halaman Gedung Kesenian Nyi Mas Rarasantang Kota Cirebon,.

Digelar sejak pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 12.00 WIB, kegiatan ini disambut antusias para peserta. Mereka membacakan puisi dengan gaya mereka masing-masing di hadapan dewan juri yang sengaja didatangkan dari unsur psikolog, pengurus Himpaudi Kota Cirebon dan dewan juri lainnya.

“Perlombaan ini diikuti oleh sembilan sekolah SD se-Kota Cirebon dan ada juga peserta disabilitas, yakni satu orang. Kami di sini tidak membeda-bedakan, karena yang dinilai adalah hasil karya pesertanya. Lomba ini juga bagian dari program kementerian pusat dalam mengkampanyekan program “Three Ends” atau “Tiga Akhiri”. Yaitu, pertma akhiri kekerasan pada perempuan dan anak, kedua akhiri perdagangan manusia dan ketiga akhiri ketidakadilan akses ekonomi untuk perempuan,” ucap Kepala Seksi Perlindungan Khusus Bidang Perlindungan Anak, Dinas Sosial Peberdayaan Perempuan Perlindugan Anak Kota Cirebon, Maryamah.

Menurut Maryamah, selain lomba menulis dan membaca puisi, juga digelar juga lomba lainnya seperti lomba fashion show siswa TK, lomba menulis dan membaca puisi dan juga lomba lagu dan gerak “Three Ends”. Kegiatan ini juga bagian dari peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli dengan digelar berbagai kegiatan yang berbeda-beda.

Enggan melapor

“Kasus kekerasan terhadap anak selama ini masih terus terjadi, namun dulu korban lebih memilih tertutup dan enggan melapor. Sekarang dengan banyaknya lembaga sosial peduli terhadap kasus kekerasan anak dan adanya unit khusus PPA dari pihak kepolisian, kasus kekerasan anak bisa diminimalisasi serta dapat ditindak sesuai dengan proses hokum. Dengan demikian ada keadilan bagi korban kekerasan,” papar Maryamah.

Dari sembilan siswa SD negeri dan swasta yang menjadi peserta lomba menulis dan membaca puisi, pihak penyelenggara menentukan juara 1, 2, 3 dan harapan 1 dan 2. Juara pertama diraih Yana Olivia siswi kelas V SDN Kanggraksan Kota Cirebon dengan judul puisi “STOP Kekerasan terhadap Anak”.

Kepala SDN Kanggraksan Kota Cirebon, Rohanah mengatakan, keikutsertaan siswanya berawal dari adanya surat undangan yang diterima pihak sekolah untuk mengikuti perlombaan. Langkah tersebut disambut baik dengan menggelar seleksi peserta di internal untuk menentukan perwakilan sekolah. Cukup dengan 10 hari latihan seusai kegiatan belajar mengajar didampingi para guru.

“Kegiatan seperti ini sangat bagus untuk menjadikan inspirator para siswa untuk tampil dalam menyuarakan curahan hati anak dalam kasus kekerasan di usia mereka. Namun sayang dari sekian banyak sekolah di Kota Cirebon SD hanya sembilan sekolah yang mengikuti lomba ini,” ungkap Rohanah.

Hal serupa juga diungkapkan wali murid juara harapan 1, Jums, pihaknya menyayangkan ketidakikutan peserta lain dalam perlombaan tersebut. Padahal SD di Kota Cirebon sangat banyak, seharusnya mereka bisa ikut memeriahkan kegiatan yang menurutnya bagus sebagai pembelajaran kepada anak-anak.

“Karena di sini disampaikan pesan moral bahwa anak-anak seharusnya mendapatkan masa keemasannya dengan terus belajar dan mendapat kasih sayang dari orang tua, keluarga dan guru di lingkungan sekolah. Bukan malah mendapatkan kekerasan yang dampaknya bisa membuat mental di usia mereka terganggu untuk berkembang sebagai generasi penerus bangsa,” tukasnya.(C-31)