KOMISARIS Utama LKP Sultan Bagus Rangin Aviation, KH Moch. Mashum Hidayatullah (tengah) dan Manager HRD LKP Guntur (kanan), berfoto bersama Camat Kadipaten, Nana Suprijatna usai acara sosialisasi kedirgantaraan di kantor kecamatan setempat, Senin (6/8/2018).* Ruddy/KC Online

Oleh Ruddy Apriantho-Kabar Cirebon

PAGI itu, Senin (6/8/2018), ratusan orang yang terdiri dari kades, perangkat desa,  tokoh masyarakat,  tokoh pemuda dan akademisi se-Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Majalengka, berkumpul di halaman kantor kecamatan setempat.

Tapi jangan salah menduga,  kedatangan mereka bukan untuk berunjuk rasa, melainkan guna mengikuti sosialisasi kedirgantaraan terkait keberadaan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) yang diprakarsai LKP Sultan Bagus Rangin Aviation.

Selain perwakilan perangkat desa se-Kecamatan Kadipaten, jajaran kecamatan dan tokoh masyarakat, juga hadir Komisaris Utama LKP Sultan Bagus Rangin Aviation, Drs. KH. Moch. Mashum Hidayatullah, Manager HRD LKP Sultan Bagus Rangin Aviation, Guntur,  Danramil Kapten I Gede Rai dan Kapolsek Kadipaten AKP Dadang.

Lembaga kursus dan pelatihan ini mengajak unsur Muspika Kadipaten beserta perangkat desa dan sejumlah tokoh masyarakat dan generasi muda untuk menyamakan persepsi atas kehadiran BIJB. Dengan menangkap peluang yang ada,  maka bisa dipastikan jika masyarakat Kadipaten khususnya, dan Majalengka pada umumnya tidak akan menjadi penonton di daerahnya sendiri.

“Peluang ini harus benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat. Silakan masyarakat berkreasi dan menangkap peluang yang ada, misalnya mengembangkan kerajinan tangan, makanan khas atau apa pun yang memiliki nilai ekonomis,” kata Camat Kadipaten Nana Suprijatna kepada KC usai acara.

Nana juga meminta warga untuk tidak asal melamar pekerjaan ke BIJB. Soalnya tanpa keahlian khusus, maka jangan harap bisa diterima. “Harus punya keahlian, harus punya ilmu. Nah ilmunya itu ada di LKP Sultan Bagus Rangin Aviation. Jadi silakan belajar dulu di lembaga kursus ini, baru melamar pekerjaan di bandara. Saya bangga ada LKP yang fokus pada ilmu kedirgantaraan dan saya harap masyarakat bisa memanfaatkannya dengan sebaik mungkin,” pintanya.

Berdasarkan pengalaman, lanjut Nana, setiap pelamar di perusahaan apa pun, apalagi sekelas Bandara Internasional Jawa Barat pasti akan ditanya kemampuannya. Tanpa kemampuan atau keahlian yang dibutuhkan, tidak akan mungkin diterima.

“Saya kira yang namanya melamar pekerjaan pasti ditanya, Anda bisa apa? Nah kalau tidak bisa apa-apa atau keahlian yang diperlukan tidak mungkin diakomodasi. Untuk itu, keberadaan SBR Aviation saya kira sudah sangat tepat dan bisa menjembatani putra putri daerah yang ingin berkiprah di bandara,” tandasnya.

Agar berhati-hati

Di bagian lain, Komisaris Utama LKP Sultan Bagus Rangin Aviation, KH Drs. Moch. Mashum Hidayatullah mengingatkan masyarakat agar berhati-hati, karena saat ini banyak pihak yang mengaku bisa mencarikan pekerjaan di bandara. Hal itu dialami 660 warga di daerah Cikijing yang tertipu pihak tak bertanggung jawab yang konon bisa memasukkan mereka ke bandara di Jakarta.

“Saya ingatkan bekerja di bandara itu tidak bisa asal masuk. Jangan percaya iming-iming bekerja di bandara asal mau setor sejumlah uang. Itu semua bohong. Kalau mau bekerja di bandara ya harus punya skill, punya keahlian. Tanpa keahlian mana mungkin diterima, apalagi setiap pelamar harus berlisensi Kemenhub,” ungkapnya.

Diakui KH Mashum, sejak berdiri Februari lalu sudah 80 lulusan LKP SBR Aviation yang diterima bekerja di Cengkareng, Bali dan BIJB. Jumlah tersebut dipastikan akan terus bertambah seiring banyaknya permintaan tenaga kerja baru yang diajukan sejumlah perusahaan penerbangan. Terlebih SBR Aviation sudah menjalin kerja sama dengan tiga perusahaan penerbangan bergengsi, yakni Pratita Titian Nusantara (PTN), PT Jasa Angkasa Semesta (JAS) Tbk dan Gapura.

“Salah satu contoh bulan Agustus ini, SBR Aviation akan membuka kelas Flight Operation Officer atau FOO sebanyak 20 siswa. Baru saja rencana ini ingin diwujudkan sudah ada permintaan dari PT JAS. Bahkan perusahaan ini bilang nanti lulusannya jangan dikasihkan ke siapa pun, tapi ke JAS saja. Alhamdulillah lulusan kami banyak diminati perusahaan-perusahaan penerbangan,” tandasnya.

Hal itu, lanjut KH Mashum, karena lembaga yang dipimpinnya menghadirkan instruktur atau dosen pengajar yang mumpuni di bidangnya. Para dosen ini mempunyai jam mengajar yang sudah tidak diragukan lagi. Dosen-dosen itu setidaknya sudah berpengalaman di Air Asia, Lion Air, Sriwijaya Air dan perusahaan penerbangan lainnya.

KH Mashum juga menyatakan, kendati SBR merupakan lembaga kursus, dan bukan penyalur tenaga kerja, tetapi ia bersama jajaran SBR Aviation memiliki tanggung jawab moral untuk menyalurkan lulusan ke perusahaan-perusahaan penerbangan sesuai bidang ilmu masing-masing.

“Kami tidak akan melepas begitu saja setelah lulus, tetapi kami akan berusaha menyalurkannya sesuai ilmu yang dimiliki siswa saat masih belajar. Kami ingin memberikan yang terbaik bagi semua siswa yang belajar di SBR Aviation. SBR itu hadir sebagai jembatan putra putri daerah yang ingin berkiprah di bandara, bukan hanya di BIJB tetapi semua bandara di Indonesia,” paparnya.

Ditanya soal sosialisasi kedirgantaraan di Kantor Kecamatan Kadipaten, KH Mashum menjelaskan, kegiatan ini sebagai langkah untuk lebih memperkenalkan keberadaan SBR Aviation kepada masyarakat lebih luas lain.

“Insya Allah, setelah Kecamatan Kadipaten kami akan road show ke kecamatan-kecamatan lain yang ada di Kabupaten Majalengka. Kecamatan Kadipaten ini adalah yang pertama dan nanti akan diagendakan ke kecamatan berikutnya. Semoga upaya ini mencapai hasil maksimal dan sesuai harapan bersama. Hal yang harus dipahami adalah kehadiran SBR Aviation adalah sebagai jembatan bagi putra putri daerah yang ingin berkiprah di BIJB atau bandara lainnya di Indonesia,” ungkapnya.***