KEJAKSAAN Agung (Kejagung) RI mensinyalir adanya indikasi penyimpangan dalam proses pembangunan Gedung Setda setinggi delapan lantai tepat di belakang Balaikota Cirebon, Kamis (9/8/2018).* Josa/KC Online

CIREBON, (KC Online).-

Kejaksaan Agung (Kejagung) RI mensinyalir adanya indikasi penyimpangan dalam proses pembangunan Gedug Setda setinggi delapan lantai yang berlokasi tepat di belakang Balaikota Cirebon. Meski belum dijelaskan secara gamblang penyimpangan yang dimaksud, lantaran indikasi perbuatan melanggar hukum masih dalam tahap pengumpulan data.

Hal tersebut terungkap saat dilakukannya peninjaun oleh Tim Intelijen dari Kejagung RI yang dipimpin Irwan Sinuraya. Irwan merupakan salah anggota tim yang meninjau ke lokasi berdirinya Gedung Setda yang memang belum rampung 100 persen, Kamis (9/8/2018).

Berdasarkan peninjauan yang dilakukan, Irwan menyebutkan, pihaknya masih dalam tahap melihat dugaan adanya potensi yang dianggap penyimpangan dalam pembangunan Gedung Setda delapan lantai di Kota Cirebon.

“Kita juga bisa panggil sejumlah pihak yang terlibat dalam pembangunan gedung ini. Bisa dilihat sendiri, kondisinya seperti apa dan disaksikan semua,” ungkap Irwan di sela peninjauan.

Irwan menyebutkan, proses peninjauan yang dilakukan merupakan hanya bagian penyelidikan intelijen. Menurutnya, setelah dilakukannya penggalian informasi, data, serta fakta yang  sudah terkumpul maka akan segera ditindaklanjuti. Setelah itu, baru akan dianalisa dan diberikan saran tindak apa yang akan dilakukan, di antaranya bisa juga ditingkatkan ke pidana khusus (pidsus).

“Bisa saja langsung ditangani oleh Gedung Bundar (Kejagung), bisa juga diserahkan ke Kejari Kota Cirebon. Terserah pimpinan,” ungkap Irwan.

Irwan menegaskan, pembangunan Gedung Setda delapan lantai di belakang Balaikota Cirebon bisa dianggap berpotensi terjadi penyimpangan, makanya penyelidikan tengah dilakukan.

Berdasarkan pengamatan, tim dari Kejagung terlihat mendatangi Gedung Setda yang hingga kini proses pengerjaannya belum selesai. Saat tim hendak naik menggunakan lift, operatornya sedang tidak bertugas. Akhirnya tim menaiki satu per satu anak tangga hingga ke lantai delapan.

Tim juga menemukan tangga yang tidak menempel di tembok dan belum ada sekat pemisah, sehingga rawan membuat orang terjatuh.  Tidak hanya itu, tim juga menemukan tiang penopang yang tidak simetris satu sama lainnya. Selain itu, ada juga keramik yang copot hingga semen yang sompal di beberapa titik. Bahkan,  tim juga menemukan lantai yang terbuat dari kayu atau vinyl yang menggelembung di beberapa lantai.

Temuan lainnya, antara kaca dengan lantai juga terdapat celah kosong sekitar 15 cm. Sehingga setiap orang bisa melihat langsung ke bawah sekalipun dari lantai delapan.  Sedangkan di bagian basement, atap yang ditutupi aluminium foil terlihat melengkung. Bahkan ada pula yang nyaris ambrol. Sejumlah toilet yang ada di basement pun belum sepenuhnya selesai, bahkan ada yang tergenang oleh air.

“Kedatangan kami ke sini ada surat perintah tugas. Untuk menindaklanjuti yang dulu kita pernah ke sini,” katanya.

Masih pemeliharaan

Sementara itu Taryonto, perwakilan kontraktor mengungkapkan, dalam penggarapan pengerjaan memang masih terdapat pemeliharaan sekitar enam bulan setelah berakhirnya adendum atau perpanjangan kontrak. Selama masa pemeliharaan tersebut, kata dia, pihaknya berupaya untuk melakukan sejumlah perbaikan sekalipun belum mendapatkan pembayaran.

Menyinggung pembangunan yang tidak sesuai dengan perencanaan, Taryanto menyatakan, lantaran tidak ada gambar yang ideal. “Kalau ngobrol masalah teknis dan gambar tidak ada yang ideal,” ungkapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon berencana membangun Gedung Setda delapan lantai. Gedung baru tersebut menggantikan bangunan kantor  yang dinilai sudah tidak layak lagi.

Karena itu pada 2016 lalu dianggarkan sebesar Rp 86 miliar untuk pembangunan Gedung Setda. Pembangunannya dilakukan di tempat yang sama dengan merobohkan bangunan perkantoran yang lama, kecuali gedung heritage atau bangunan tua yang menjadi Kantor Walikota Cirebon. Gedung ini dikerjakan oleh PT Rivomas Penta Surya sebagai pemenang lelang.

Pembangunan dilakukan sejak Noveber 2016 lalu itu dengan target selesai sesuai dengan kontrak yaitu Desember 2017. Selanjutnya pada September 2018 gedung tersebut sudah bisa digunakan. Namun hingga Desember 2017, pembangunan gedung belum selesai. Akhirnya dilakukan adendum atau perpanjangan kontrak hingga Februari 2018. Namun hingga adendum selesai, gedung tersebut tak kunjung selesai.

Sampai akhirnya pada 10 April 2018, Sekda Kota Cirebon, Asep Dedi, menghentikan pembangunan gedung untuk mendapatkan kepastian nilai proyek yang harus dibayarkan oleh Pemkot Cirebon. Namun sekalipun sudah dihentikan, sejumlah pekerja masih terlihat bekerja membangun di sejumlah titik di gedung tersebut.(C-13)