SEIRING musim kemarau, industri bata merah terus menggeliat mendongkrak kehidupan ekonomi masyarakat sejumlah desa di Kecamatan Jalaksana. Erix/KC Online

KUNINGAN.(KC Online).-

SEIRING musim kemarau, industri bata merah terus menggeliat mendongkrak kehidupan ekonomi masyarakat sejumlah desa di Kecamatan Jalaksana. Menjadi pengrajin bata merah berarti merawat tradisi, hingga sekarang menjadi ekonomi kreatif.

Di salah satu pabrik pembuatan bata merah milik Ujang Sasmita (48), di Dusun Puhun, RT 15, RW 05, Desa Sindangbarang, Kecamatan Jalaksana, tampak beberapa orang perempuan paruh baya duduk menghadap alat cetakan bata merah, berupa kayu berukuran 30 x 60 centimeter, beralaskan papan halus.

Kedua tangan mereka menggumpal tanah dari gundukan bahan adukan campuran antara pasir dengan tanah merah yang telah diolah menggunakan mesin, kemudian ditaruhnya pada alat cetak yang terlebih dahulu ditaburi abu bakar, lalu diratakannya menggunakan potongan kayu reng. Sekali mencetak, empat buah bata dihasilkan untuk dijemur, yang kemudian malam harinya dibakar.

Pekerjaan itu sudah menjadi mata pencarian mereka sehari- hari.
Tanpa alas kaki, di tanah yang becek, dan sengatan panas matahri, ditambah debu pasir dan abu bakar, tak lantas membuat semangat mereka kendur dan lelah.

“Mencetak bata merah, mulai pagi sampai sore hari. Dari pekerjaan inilah kami mendapat upah Rp 20.000-Rp. 40.000 per harinya. Sebuah nilai materi untuk menghidupi keluarga dan anak bersekolah selama bertahun-tahun,” kata Iin (50 tahun) dan Iyah (40 tahun) buruh pabrik bata merah belum lama ini.

Diungkapkan pekerja lainnya, Saryi (38 tahun) yang dalam sehari mampu mencetak sampai 1000 bata, dirinya sempat meninggalkan kampung halamannya untuk mencari pekerjaan di luar kota.

Namun karena tidak mempunyai keahlian dalam industri besar, ia pun harus kembali lagi ke rumah mendulang rupiah meski hanya menjadi buruh kasar.

“Walaupun upah kami cuma Rp 40 per bata merah yang tercetak, demi membesarkan anak dan makan sehari-hari seadanya saja, mau apalagi. Kami para janda yang tak bersuami, kalau enggak bekerja keras, siapa yang mau menafkahi,” ucapnya.

Bersaing

Diungkapkan Ujang Sasmita, bata merah dari Kecamatan Jalaksana sudah terkenal sejak dahulu teruji kekuatan kualitasnya. Selain Desa Sindangbarang, bata merah dari Karangmangu dan Desa Kramatmuya juga terkenal kualitasnya.

Hanya sekarang lanjutnya, pengrajin bata merah lokal harus bersaing dengan masuknya bata hebel atau bata ringan, yang diproduksi oleh perusahaan asing.

“Sekarang ini, di toko-toko material atau toko bahan bangunan banyak menyediakan bata hebel yang harganya lebih murah. Kalau secara kualitas kita berani diadu, cuma konsumen terkadang jatuh pilihan pada harga yang murah. Apalagi para pemborong, mungkin untuk proyek perumahan, belanja banyaknya bata hebel itu. Pasar seolah tak merakyat lagi sekarang,” katanya.

Sebagai pemilik usaha produksi bata, Ujang pun mengeluhkan kenaikan harga bahan baku, yakni pasir dari semula Rp 500.000, sekarang menjadi 650.000 per dump truck. Kemudian tanah merah dari Rp 150.000 menjadi Rp 180.000 per damp truck.

“Memang di musim kemarau proses pembuatan bata merah lebih cepat dan hasil kualitasnya bertambah bagus. Tapi kalau harga bahan bakunya naik, bagaimana saya bisa menaikan upah pekerja,” tuturnya. Erix/KC Online