TERSANGKA penipuan penghapus utang sekaligus Presiden UN Swissindo, Sugiarto alias Sino didampingi perwakilan dari Kejagung dan Mabes Polri, saat mengisi biodata di Kantor Kejaksaan Negeri Sumber Kabupaten Cirebon, Senin (24/9/2018).* Iwan/KC Online

CIREBON, (KC Online).-

Berkas tersangka penipuan sertifikat Bank Indonesia (SBI) resmi diserahkan kepada Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Cirebon, Senin (24/9/2018). Tersangka yang merupakan Presiden UN Swissindo, Sugiarto alias Shino akan ditahan selama 20 hari ke depan, kemudian akan mengikuti persidangan perdana.

Kasus penipuan yang dilakukan Shino ini berawal dari penyelidikan yang dilakukan oleh Bareksrim Polri karena Shino telah merugikan sejumlah leasing dan perbankan. Melalui Swissindo, Shino mengklaim bisa menghapus utang di sejumlah bank serta leasing.

Nasabah Shino tak hanya warga Kabupaten Cirebon, namun juga tersebar di Kuningan, sejumlah daerah di Jawa Tengah, Jambi, Lampung, hingga Makassar di Sulawesi Tengah. Para nasabah ini enggan membayar tunggakan kredit mereka di sejumlah bank serta leasing, karena menganggap Swissindo akan menghapus utang mereka. BRI cabang Lampung Utara mengalami kerugian hingga Rp 500 juta akibat nasabah yang enggan membayar utang ini.

“Kita dari tim Kejagung setelah mempelajari berkas dan perkara, maka barang bukti serta tersangka kita serahkan ke Kejaksaan Negeri Kabupaten Cirebon karena alamat tersangka berada di Perumahan Griya Caraka, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon,” kata Jaksa Penuntut Umum (JPU)  Kejaksaan Agung, Abdul Rauf, saat ditemui di Kejaksaan Negeri Kabupaten Cirebon.

Menurut Abdul, SBI yang beredar yang ditandatangani tersangka telah terbukti palsu. SBI ini dijaminkan sebagai penghapus utang nasabah Swissindo.

“SBI itu tidak punya kekuatan apapun, kepada masyarakat agar jangan menggunakan SNI tersebut karena palsu, apalagi tersangka bilang SBI itu untuk pembebasan jaminan utang, atau apapun itu, pokoknya masyarakat jangan percaya,” katanya.

Menurutnya, Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Tengah sempat menyurati BI pusat terkait beredarnya SBI tersebut.

“Jadi nasabah tersangka sudah sampai hingga Makassar. BI Perwakilan Sulsel mempertanyakan keabsahan SBI tersebut kepada BI pusat, hasilnya memang SBI itu palsu. Nah, saat ini SBI tidak bisa lagi dalam bentuk fisik, melainkan sudah online sehingga sudah tidak bisa dipalsukan,” ujarnya.

Shino sendiri sudah melakukan praktik ini sejak 2016 silam. Menurut Abdul, memang ada warga yang merasa tergiur karena Shino mengiming-imingi bisa membebaskan utang di sejumlah bank serta leasing.

“Soal nasabah dan kerugian, cukup banyak. Satu bank saja ada yang kerugiannya mencapai Rp 500 juta karena nasabah enggan membayar kredit. BI juga dirugikan karena mengganggu likuiditas,” ujarnya.

Dalam SBI palsu, Shino menyertakan jumlah uang yang bisa menjadi jaminan penghapusan utang, yaitu Rp 4.500 triliun.

“Bayangkan uang sebesar itu, hitung saja berapa APBN Indonesia dalam satu tahun, sama tidak nilainya dengan uang yang tertera dalam SBI palsu itu?” kata Abdul.

Soal keterlibatan pihak lain, menurutnya, hal itu bisa saja saat ada pengembangan kasus di persidangan.

“Tapi sejauh ini tersangka masih tunggal, sebab yang menandatangani di SBI palsu ya tersangka ini. Kalaupun ada pihak lain yang membantu, itu sifatnya relawan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Kabupaten Cirebon Yusuf Luqita mengatakan, tersangka akan ditahan selama 20 hari ke depan di Rumah Tahanan Cirebon.

“Hanya tinggal menunggu jadwal persidangan. Dari Kejagung, kasus ini dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Kabupaten Cirebon karena locus tersangka ada di Kabupaten Cirebon,” katanya.(C-11)