KETUA Tanfidziyah terpilih, H Dedi Mulyadi (baju putih) didampingi Rais Syuriyah KH Yusuf Karim berfoto bersama usai pelaksanaan Konfercab NU ke-7 di Ponpest Manba'ul Huda Desa Cisambeng, belum lama ini. Jejep/KC Online

MAJALENGKA.(KC Online).-

TERPILIHNYA Ketua Tanfidziyah (dewan pelaksana) PCNU Kabupaten Majalengka periode 2018-2023, H Dedi Mulyadi melalui hasil Konfercab ke-7 NU di Pondok Pesantren Manba’ul Huda Desa Cisambeng, Kecamatan Palasah, Kabupaten Majalengka Minggu 9 September 2018 kemarin, menuai pro dan kontra di sebagian besar warga Nahdliyin.

Bagi yang menolak, terpilihnya H Dedi Mulyadi sebagai ketua tanfidziyah tidak memenuhi kriteria sebagai calon ketua, karena tidak lolos seleksi Madrasah Kader Nadlatul Ulama (MKNU) yang menjadi syarat mutlak sebagai calon ketua. Sedangkan bagi pendukungnya, terpilihnya Dedi sudah sesuai dengan aturan dan mekanisme organisasi, dengan dibuktikan dukungan 20 orang pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) se-Kabupaten Majalengka.

Ketua Panitia Konfercab Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Majalengka Kiai Muhamad Umar menegaskan, pihaknya sebagai panitia tidak memiliki kepentingan apapun dalam polemik saat ini.
Pengasuh Ponpes Manba’ul Huda ini menjelaskan, sebagai panitia pihaknya hanya memiliki kewajiban memfasilitasi pelaksanaan konferensi agar bisa berjalan sesuai dengan aturan, lancar, aman, serta tidak ada ekses apapun.

“Kalau sekarang hasilnya seperti ini, bola panasnya ada di rais syuriah, dan pengurus PWNU Jawa Barat,” katanya, Selasa (11/9/2018).

Dia mengaku, saat Konfercab berlangsung pernah diminta pendapatnya oleh para peserta terkait pembahasan tata tertib, namun menolaknya dengan alasan peserta lebih mengetahui, dan yang akan membahas serta memutuskan tatib peserta Konfercab itu sendiri.

“Saya pernah diminta tentang hal itu. Tapi saya menolaknya, demi independensi panitia,” ucapnya.

Tindakan lain jika panitia berusaha menjaga netralitas, lanjut dia, dibuktikan saat penggalangan dana Konfercab yang tidak menyebarkan proposal kepada pihak manapun.

“Kita menggalang dana itu ditujukan secara individu, dan dibuka secara transparan melalui grup whats app. Jadi, panitia dalam hal ini mandiri, tidak didanai kandidat manapun,” tegas Ketua Fokal Alumni Jambu-Melati Babakan Ciwaringin Cirebon wilayah Majalengka ini.

Terlibat

Pihaknya juga mengimbau agar seluruh jajaran panitia tidak boleh ikut campur atau terlibat dukung mendukung pada kubu manapun. “Saya selaku ketua panitia meminta kepada panitia Konfercab, agar tidak menjadi juru bicara (jubir) untuk nama nama kandidat di setiap bakal calon,” tegasnya.

Rais Syuriyah Terpilih Kiai Yusuf Karim menjelaskan, persoalan MKNU sebenarnya sudah diselesaikan pada forum Konfercab, dan pada kesempatan itu pengurus PWNU Jabar yang memimpin sidang tidak mempermasalahkannya. Alasanya, MKNU bisa menyusul dan dilaksanakan di kemudian hari.

“Sekarang kan urusan di bawah sudah selesai. Sekarang keputusan ada di tangan PBNU, apakah sah atau tidaknya Konfercab yang sudah digelar. Kami siap menerima keputusan apapun nanti,” tegasnya.

Ketua Tanfidiziyah Terpilih PCNU Kabupaten Majalengka H Dedi Mulyadi mengakui jika dirinya belum lulus MKNU, tapi aturan itu bukan harga mati sebagai syarat calon ketua.

Dia mengaku, saat itu tidak mampu menyelesaikan MKNU karena sedang ada hajat keluarga yang tidak bisa ditinggalkan. Namun sangat tidak elegan, jika dirinya yang sudah 15 tahun mengabdi di NU dan 10 tahun di GP Anshor, gagal menjadi ketua hanya karena tidak mengikuti MKNU.

Sehingga tidak arif dan bijaksana jika aturan baru yang belum disosialisasikan secara maksimal, harus langsung diterapkan saat ini.

“Itu kan aturan baru-baru ini dari PBNU, dan baru disosialisasikan. Jadi karena baru, itu tidak mutlak harus diterapkan, ada pengecualiaan,” kata mantan Sekretaris PCNU Majalengka saat dihubungi secara terpisah.

Dan masalah MKNU ini, lanjut dia, sudah disampaikan ke pengurus PBNU dan PWNU, dan tidak mempersoalkannya. “Alhamdulillah saya terpilih menjadi ketua berkat dukungan mayoritas pengurus MWCNU sebanyak 20 pengurus, sehingga saya terpilih secara aklamasi,” tukasnya.

Dedi mengajak kepada semua pihak untuk bersatu membangun NU ke arah yang lebih baik dan hilangkan semua perbedaan yang ada. “Mari kita bangun NU Majalengka maju, baik secara kualitas maupun kuantitatif, menuju Islam yang rahmatan lilalamin,” katanya. Jejep/KC Online