DUA petugas mengumpulkan dan mengangkut limbah medis yang berserakan akibat plastiknya yang robek, sebelum limbah ditimbang dan diangkut armada di depan gudang limbah RSUD Majalengka, Senin (17/9/2018). Tati/KC Online

MAJALENGKA.(KC Online).-

UNTUK menghindari pembuangan limbah medis oleh dokter praktik dan klinik kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka menolak terbitkan rekomendasi izin praktik yang tidak melakukan kerja sama pengolahan limbah medis.

Menurut Kepala Bidang SDM dan PMK di Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka dr Jajang Setiawan, pihaknya hanya akan menerbitkan rekomendasi perpanjangan izin praktik dokter atau izin praktik baru terhadap mereka yang telah membuat surat kerja sama pengolahan limbah dengan puskesmas terdekat di mana mereka melaksanakan praktik dokter.

Pasalnya, seluruh limbah medis dianggap berbahaya jika dibuang ke sembarang tempat. Untuk itu Dinas Kesehatan berupaya membuat aturan untuk menjaga pembuangan limbah sembarangan. “Bagi dokter yang belum melakukan kerja sama pemusnahan limbah, Dinas Kesehatan tidak akan menerbitkan rekomendasi izin praktik,” kata Jajang.

Sedangkan limbah medis yang ada di setiap puskesmas, menurut Jajang, setiap dua minggu sekali diangkut oleh armada dari perusahaan pemusnah limbah medis PT Tenag Jaya, dan hingga saat ini limbah tetap terangkut dengan lancar.

“Kami membuat tiga tempat pengangkutan limbah medis yang diproduksi di seluruh puskesmas di Kabupaten Majalengka. Untuk wilayah Selatan Kabupaten Majalengka limbah disimpan di Puskesmas Talaga, Untuk wilayah Utara disimpan di Puskesmas Kasokandel serta wilayah tengah Majalengka disimpan di Puskesmas Majalengka. Ini untuk memudahkan armada dari perusahaan pemusnah limbah mengambil barang,” ungkap Jajang.

Dokter-dokter yang melakukan praktik di klinik sendiri setiap saat mengirimkan limbah medisnya ke puskesmas dengan membayar biaya sesuai kesepakatan mereka. Sedangkan biaya pemusnahan limbah itu sendiri di PT Tenang Jaya mencapai Rp 25.000 per kg.

Menyinggung soal tenaga perawat yang melakukan praktik medis di kliniknya sendiri, Jajang menyebutkan, hingga saat ini Dinas Kesehatan tdiak pernah menerbitkan izin praktek medis bagi perawat. Kalaupun ada penerbitan rekomendasi diberikan untuk satu orang yang melakukan asuhan keperawatan psioterafi bagi penderita luka akibat gula darah.

“Kami tidak pernah menerbitkan rekomendasi untuk izin praktik medis bagi perawat. Kalau ada perawat yang melakukan praktik kami kira itu ilegal dan kewenangan penindakannya berada pada aparat penagak hukum bukan pada kami,” kata Jajang.

Tak membolehkan

Hal tersebut dibenarkan oleh Staf Ahli Bupati Majalengka dr Gandana Purwana. Menurutnya, UU tidak membolehkan perawat melakukan praktik medis, kalau sekarang masih ada yang melakukan praktik itu adalah ilegal, karena perawatn tidak memiliki kewenangan untuk praktik medis.

Sementara itu, limbah medis yang menumpuk di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Majalengka, Senin (17/9/2018) diangkut oleh armada dari PT Mupid Inti Global untuk selanjutnya dikirim dan dimusnahkan oleh PT Wastek.

Menurut keterangan Petugas Instalasi Udin Wahyudin, limbah medis yang lama menumpuk diharapkan bisa terangkut seluruhnya agar tidak menjadi beban yang berkepanjangan. Ke depan pengambilan limbah bisa dilakukan lebih lancar.

“Kami setiap saat terus melakukan komunikasi dengan perusahaan transporter dari PT MUpid juga dengan perusahaan pemusnah limbah PT Wastek agar limbah segera diangkut. Kami malah inginnya setiap miggu diambil atau tergantung kondisi limbah,” ungkap Udin.

Petugas dari armada pengangkut limbah sendiri mengungkapkan, lambatnya pengambilan limbah benar-benar karena persoalan teknis, yakni membludaknya limbah medis di pabrik pemusnah limbah sehingga armada antri untuk masuk ke pabrik. (Tati/KC Online)