Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal TNI (Purn) H. Moeldoko, saat menghadiri upacara adat “Seren Taun 1951 Saka”, yang dilaksanakan Masyarakat Adat Sunda Wiwitan Paseban Tri Panca Tunggal di Kelurahan/Kecamatan Cigugur, Senin (3/9/2018), mengemukakan, dunia saat ini terus mengalami perubahan yang pesat menuju kemutakhiran peradaban. Erix/KC Online

KUNINGAN, (KC Online).-

Kelestarian budaya sangat penting dijaga, karena selain memiliki keragaman budaya tinggi sekaligus dapat mempersatukan bangsa dari perbedaan budaya menjadi satu rasa persatuan untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal TNI (Purn) H. Moeldoko, saat menghadiri upacara adat “Seren Taun 1951 Saka”, yang dilaksanakan Masyarakat Adat Sunda Wiwitan Paseban Tri Panca Tunggal di Kelurahan/Kecamatan Cigugur, Senin (3/9/2018), mengemukakan, dunia saat ini terus mengalami perubahan yang pesat menuju kemutakhiran peradaban.

Namun bukan berarti perubahan itu mencerabut adat istiadat yang dimiliki bersama. Mengingat ketahanan kebudayaan penting dirawat, karena selain memiliki keragaman budaya tinggi, juga dapat mempersatukan bangsa dari perbedaan budaya menjadi satu rasa persatuan untuk NKRI.

“Saya mengapresiasi Masyarakat Sunda Wiwitan dan keluarga Sunda secara keseluruhan, dapat terus menjaga budaya dan sekaligus menjaga persatuan dan kesatuan,” katanya.

Ia pun menilai tema Seren Taun kali ini, “Memperkokoh Adat Untuk Memperkuat Karakter Bangsa” sangat kontekstual di tengah perubahan zaman dan sesuai dengan nilai Pancasila.

“Kita jangan lagi bicara minoritas dan mayoritas. Sepanjang masih bicara minoritas dan mayoritas, bangsa ini tak akan pernah selesai dalam membangun kebangsaannya. Sebaliknya, kembangkan semangat gotong-royong untuk membangun bangsa,” tuturnya.

Apresiasi tinggi juga disampaikan Pj Gubernur Jawa Barat, Mochamad Iriawan. Ia mengaku kagum kepada Masyarakat Sunda Wiwitan yang tidak putus menyelenggarakan tradisi “Seren Taun” setiap tahun.

Selain itu, Iriawan juga menyampaikan terimakasihnya kepada Presiden Jokowi yang sangat memperhatikan warga Jawa Barat, terutama melalui berbagai pembangunan infrastruktur yang sangat bermanfaat untuk menyejahterakan rakyat.

“Perpanjangan tol dari Bandung-Majalaya-Garut-Tasikmalaya hingga Cilacap serta pengembangan Bandara Cikembar di Sukabumi menjadi buktinya,” katanya.

Sementara itu Bupati Kuningan, H. Acep Purnama, mengungkapkan, selain menjadi aset di bidang kepariwisataan, Seren Taun memiliki nilai tinggi bagi Kabupaten Kuningan yang sangat kaya warisan budaya. “Tan Hana Nguni Tan Hana Mangke”, kalau tak ada masa lalu, tak ada masa sekarang,” ucapnya.

Acep mengatakan, Kecamatan Cigugur merupakan miniatur dari Indonesia. Karena beragam etnis suku dan agama ada di kecamatan tersebut. “Karena itu perbedaan bukanlah sebuah hambatan, tapi sebuah khasanah, keindahan yang harus kita hormati,” katanya.

Kebaikan sosial

Ketua Yayasan Tri Mulya Tri Wikarma, yang juga sebagai Ketua Pelaksana Seren Taun Masyarakat Sunda Wiwitan Cigugur, Dewi Kanti, menegaskan, masyarakat adat bertekad terus melestarikan dan melakukan upaya perlindungan terhadap hukum-hukum adat warisan dari para leluhurnya.

“Seperti filosofi Prabu Niskala Wastu Kancana menyebutkan, pakena gawe rahayu pikeun heubeul jaya dina buana, berbuat baiklah agar lama jaya di dunia. Kebaikan sosial yang berdampak bagi masyarakat banyak itulah yang diajarkan dalam tradisi Seren Taun,” tuturnya.

Dalam kegiatan yang dilaksanakan di Pendopo Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, kediaman Pangeran Djatikusumah ini, Moeldoko dan Mochamad Iriawan didampingi Acep Purnama,
turut serta dalam rangkaian kegiatan ‘nabeuh lisung’, atau cara penumbukan padi yang biasa dilakukan pada zaman dahulu.(Erix/KC Online)