ATLET takraw kembar berprestasi, Lena dan Leni saat melakukan latihan bersama di Gelora Guru Desa Karangkerta, Kecamatan Tukdana Kabupaten Indramayu, Selasa (11/9/2018). Cipyadi/KC Online

INDRAMAYU.(KC Online).-

SORE hari mulai pukul 15.30 WIB, Gelora Guru yang terletak di Blok Dongol Desa Karangkerta, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu mulai ramai oleh suara bola berbahan dasar rotan yang dimainkan oleh kaki anak-anak sekolah dasar hingga remaja.

Di antara mereka, juga tampak Lena dan Leni, atlet kembar sepak takraw yang namanya kian berkibar lewat gelaran Asian Games 2018 belum lama ini. Mereka berlatih bersama dan saling berbagi pengalaman.

Kedatangan Lena dan Leni di kampung halamannya tersebut disambut penuh hangat, dan banyak dari mereka yang ikut dalam latihan bersama itu mengaku ingin mengikuti jejak si atlet kembar Leni Twins.

“Dulu ketika kami mulai mengenal sepak takraw pada 2006 silam, di tempat ini pula kami berlatih. Dan kami bersyukur mulai banyak yang ingin berlatih takraw di tempat yang sama,” ungkap Lena yang didampingi Leni, saat melakukan napak tilas perjalanan suksesnya, Selasa (11/9/2018).

Asian Games 2018 Jakarta Palembang, bukanlah hal baru bagi keduanya. Sejak beberapa tahun sebelumnya, Leni Twins sudah membela Indonesia pada Asian Games 2014 Incheon, Korea Selatan.

Saat itu Lena dan Leni turut menyumbang dua perunggu bagi merah-putih. Selain itu, medali lain yang mereka raih adalah 1 perak SEA Games 2017, dan 3 emas PON 2016, serta 1 emas King’s Cup 2016 yang merupakan ajang bergengsi takraw dunia di Thailand.

Berbagai raihan prestasi tersebut, mendorong atet kelahiran Indramayu itu untuk memotivasi anak-anak desa dan generasi muda untuk menggelorakan takraw berprestasi.

Leni Twins pun berbagi kisah masa lalunya, hingga akhirnya puteri pasangan Sartinah (50 tahun) dan Toniah (48 tahun) itu menjadi atlet kembar sepak takraw tim putri andalan Indonesia. Mulanya kehidupan ekonomi keluarga Lena-Leni sangat jauh dari berkecukupan. Orang tuanya hanya bekerja sebagai buruh tani. Bahkan pendidikan Lena dan Leni juga sempat terancam putus sekolah.

Saat keduanya masih duduk di bangku SMP kelas 9, Leni Twins tertarik pada beasiswa melanjutkan sekolah ke SMAN 1 Tukdana dengan syarat apabila berhasil menjuarai kompetisi takraw di tingkat lokal. Target juara lokal pun tercapai oleh keduanya.

Hingga akhirnya Lena dan leni berhasil meraih predikat juara dan menyabet beasiswa melanjutkan SMA. Di sinilah pertama kalinya sepak takraw mengubah jalan hidup si kembar.

“Dari situ kami berdua bisa melanjutkan sekolah. Dan tidak pernah menyangka akan sampai pada posisi sekarang,” ungkap atlet kembar kelahiran 29 tahun lalu itu.

Beberapa kejuaraan pun mereka ikuti, mulai dari kejuaraan antarpelajar, antardaerah, hingga pekan olahraga daerah. Meski kadang sulit membedakan antara Lena dan Leni, namun perbedaan itu dapat dilihat dari nomor punggung yang tidak pernah berubah, serta ketajaman skill yang berbeda. Lena selalu bernomor punggung 6 spesialis smash, sedangkan Leni bernomor punggung 2 pada posisi tekong.

Selama 12 tahun berkiprah dalam olahraga ini, takraw seakan menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan Leni Twins. Bahkan atlet desa itu telah mampu berkompetisi dalam berbagai ajang bergengsi di berbagai negara. Lena dan Leni pun akan selalu mengenang jasa dan pesan Almarhum Sunata, pelatih pertama yang memperkenalkan takraw kepada keduanya.

“Pelatih kami selalu berpesan, setiap kali datang untuk bertanding, maka kita harus menang. Dan tradisi menang itu harus terus kita jaga,” pungkasnya. (Cipyadi/KC Online)