illustrasi

MAJALENGKA, (KC Online).-

Limbah B3 yang berasal dari limbah medis di RSUD Majalengka meluber hingga menumpuk di luar gudang akibat over kapasitas, hal ini terjadi akibat armada dari PT Mupid Inti Global yang menjadi transporter terlambat melakukan pengambilan sampah.

Hal ini pun diduga akibat PT Wastek di Cibinong sebuah perusahaan yang melakukan kontrak kerja pemusnahan limbah B3 dengan RSUD Majalengka juga mengalami overload.

Akibatnya, kini limbah B3 yang jumlahnya berton-ton di gudang TPS SRUD Majalengka menumpuk tak terangkut, bau menyengat yang diakibatkan limbah tersebut tercium hingga jarak lebih dari 6 meteran. Padahal limbah tersebut telah dikemas kuat dengan plastik beraneka warna dan tebal.

Menurut Kepala Bidang Instalasi RSUD Majalengka Ida Heri didampingi stafnya Udin Wahyudin, kondisi ini kerap terjadi akibat pemusnah limbah B3 di Pulau Jawa bahkan di Indonesia yang sangat terbatas.

Pihak rumah sakit sendiri tidak memiliki pemusnah limbah B3, kalaupun pernah punya ternyata setelah dilakukan penelitian dan uji coba ternyata dianggap tidak layak sehingga izin tidak pernah diterbitkan oleh Pemerintah Pusat. Ketinggian cerobong masih kurang, hasil pembakaran juga masih tetap mengeluarkan B3, serta pembuangan limbah abu dari pembakaran juga masih sulit dilakukan.

Setiap bulannya, pihak rumah sakit menyediakan anggaran lebih dari Rp 70.000.000 untuk biaya pemusnahan saja, karena biaya dihitung berdasarkan kilogram, setiap kilogramnya biaya pemusnahan mencapai Rp 25.000. Sementara produksi limbah B3 yang dihasilkan dari RSUD Majalengka bisa mencapai sekitar 3,5 ton hingga 4 tonan setiap bulannya.

Disampaikan Ida, kini limbah medis selalu menumpuk dan mengalamo overload. Beragam upaya sudah dilakukan agar armada dan perusahaan pemusnah limbah bisa segera mengangkut, namun nampaknya kondisi seperti ini tidak hanya terjadi di Kabupaten Majalengka namun terjadi juga di seluruh rumah sakit di Indonesia. hal ini terjadi akibat terbatasnya perusahaan jasa pemusnah limbah B3.

Bau

Kini upaya yang dilakukan pihak rumah sakit hanya meminimalisasi bau dan lalat hijau agar tidak merubung limbah tersebut dengan berbagai cara. Meski demikian bau masih tetap tercium, hanya lalat yang minim.

Terbatasnya pengangkutan limbah medis ini diakui pengemudi trailer dari PT Mupid Into Global, perusahaan pengankut limbah, Rudi asal Tasiklamaya. Pada Senin kemarin dia mengaku mengambil sampah B3 bersama 3 temannya dari sejumlah rumah sakit di Cirebon namun semuanya dibatasi karena harus mengakomodir banyak Rumah Sakit termasuk di RSUD Majalengka dan RS Cideres di Dawuan.

“Sekarang semua rumah sakit limbahnya menumpuk, kami tidak bisa mengakut seluruh limbah yang ada. Kontainer berkapasitar 18 hingga 20 ton ini tetap tidak bisa memuat seluruh limbah dari semua RS yang kami datangi,” kata Rudi.

Disampaikan Ida, hingga saat ini belum ada solusi yang tepat untuk pemusnah limbah B3 yang doproduksi rumah sakit. Diskusi kerap dilakukan di tingkat Jawa Barat bahkan tingkat nasional namun tidak pernah membuahkan hasil yang lebih solutif. Persoalan ini karena abu yang diproduksi dari pembakaran limbah B3 tetap menghasilkan limbah abu B3.

Solusi yang paling tepat hanyalah menambah perusahaan pemusnah B3 di tiap wilayah, karena limbah yang diproduksi oleh rumah sakit semakin banyak, terlebih saat ini rumah sakit negeri ataupun swasta semakin bertambah. Sementara perusahaan pemusnah limbah tetap terbatas.

Staf Ahli Bupati Majalengka, dr Gandana Purwana mengatakan, produksi limbah B3 ini tidak hanya diproduksi oleh rumah sakit saja yang sekarang terus berkembang, namun juga diproduksi oleh industri-industri lainnya, sementara jasa pemusnah limbah di Indonesia demikian terbatas. Sehingga wajar jika perusahaan jasa pemusnah limbah semua overload.

Solusinya, menurut Ida dan Gandana adalah dibangun perusahaan jasa pemusnah limbah di tiap wilayah baik milik pemerintah ataupun milik swasta. (Tati/KC Online)