Obyek Wisata Situ Sangiang yang terletak di Desa Sangiang, Kecamatan Banjaran Kabupaten Majalengka, menjadi obyek wisata favorit keluarga. Jejep/KC Online

MAJALENGKA.(KC Online).-

NAMA Situ Sangiang bagi sebagian besar masyarakat Kabupaten Majalengka sudah tidak asing lagi. Situ yang terletak di Desa Sangiang Kecamatan Banjaran itu permukaan tanahnya relatif datar dengan kemiringan lahan sampai dengan 10%.

Di kawasan itu terdapat pula hutan campuran yang terdiri pohon mahoni, kayu manis, alang-alang, rumput teki, gewar, rotan dan saliara. Sedangkan jenis fauna terdapat pula ular sanca, burung kutilang, kera dan lain-lain.

Termasuk di dalam situ itu terdapat beragam ikan lele dan emas dengan ukuran besar. Konon ikan emas dan lele itu merupakan penjelmaan dari prajurit Talaga Manggung. Sehingga sampai saat ini tak seorang pun yang berani mengambil ikan itu. Kalau pun ada, maka malapetaka akan menimpa orang tersebut dan ikan itu harus dikembalikan ke situ tersebut.

Di sana juga terdapat makam keramat, yang tiada lain merupakan tokoh penyebar Islam di daerah Majalengka dan sekitarnya bernama Sunan Parung. Beliau merupakan cucu dari Sunan Talaga Manggung, yang merupakan raja yang sakti mandraguna dari Kerajaan Talaga Manggung, dan masih keturunan dari Kerajaan Pajajaran.

Menurut salah seorang kuncen Makam Kramat Talaga Manggung Durahman, Situ Sangiang itu awal mulanya sebuah kerajaan besar di wilayah Majalengka dan sekitarnya. Kerajaan itu hilang seketika saat sang raja tewas di tangan menantunya bernama Palembang Gunung. “Raja Talaga Manggung terkenal dengan kesaktiannya yang luar biasa, namun ia meninggal di tangan menantunya yang ingin berkuasa menjadi raja,” ucapnya.

Kematiannya sendiri, kata dia, oleh pusaka kerajaan berupa tombak. “Kelemahan sang raja itu hanya diketahui oleh tangan kanannya. Kala itu, orang dekatnya raja diiming-imingi jabatan oleh menantunya, jika raja telah tiada, ia akan diberikan jabatan strategis di kerajaan. Akhirnya ia tergiur dan diberitahui senjata-senjata yang dapat melumpuhkan sang raja,” ungkapnya.

Hilang

Usai wafat, lanjut dia, kerajaan beserta seluruh isinya hilang seketika dan saat ini berubah wujud menjadi Situ Sangiang. “Raja Talaga Manggung sendiri memiliki dua orang anak yakni Ratu Simbarkencana dan Raden Panglurah. Ratu menikah dengan Palembang tinggal di kerajaan, sedangkan Raden Panglurah memilih jalan bertapa dalam menapaki kehidupannya,” ujarnya seraya mengatakan kejadiaan ini diperkirakan sebelum abad ke-15.

Namun lama-kelamaan prilaku jahat suaminya akhirnya terbongkar oleh isterinya sendiri. Sehingga ia melakukan balas dendam. Pada saat Palembang Gunung sedang tidur nyeyak ditikamnya oleh tusuk konde ratu Simbar Kencana, sehingga mati seketika juga.

Lalu kerajaan belum ada yang menjabatnya maka di angkat Raden Panglurah yang baru pulang dari petapaan, sedatangnya ke sangiang beliau merasa kaget karena keadaan keraton sudah musnah hanya nampak situ saja dan beliau mendapat kabar dari orang yang bertemu di tempat itu bahwa keraton sudah dipindah tempatkan ke Walang Suji (desa Kagok).

“Raden Panglurah meminta kepada Ratu Simbar Kencana agar melanjutkan pemerintahan sedangkan dirinya akan menyusul ayah handanya turun ke Situ Sangiang lalu menghilang,” ungkapnya.

Kemudian, setelah Palembang Gunung meninggal dunia, Ratu Simbar kencana menikah lagi deangan Raden Kusumalaya Ajar Kutamangu, keturunan Galuh dan mempunyai putra bernama Sunan Parung. Beliaulah yang melanjutkan kerajaan setelah Ratu Simbarkencana meninggal dunia.

Kemudian, Sunan Parung mempunyai putra bernama Ratu Parung, melanjutkan kerajaannya dengan mempunyai suami Raden Rangga Mantra Putranya Raden Munding Sari Agung, keturunan Prabu Siliwangi atau Padjajaran.

Dari waktu itu, Raden Rangga Mantri dan Ratu Parung agamanya ganti menjadi Islam dari agama Budha, yang dikembangkan Sunan Gunung Djati Cirebon. Raden Rangga Mantri setelah menjadi Islam namanya diganti Prabu Pucuk Ulum. “Itulah mungkin sejarah singkatnya, tentunya masih panjang jika diceritakan lebih mendetail,” ujarnya.

Sampai saat ini, kata dia, banyak warga dari berbagai kalangan termasuk dari berbagai penjuru daerah yang berziarah ke makam Sunan Parung untuk mencari keberkahaan. Bahkan, setelah ziarah ada yang langsung mandi di Situ Sangiang.

“Kalau ada yang kawenehan (kebetulan) termasuk saya sendiri pernah mengalami hal itu, suka melihat ikan berukuran raksasa, tapi itu hanya terlihat atas saja, baru setelah itu hilang kembali,” ujarnya. Jejep/KC Online