BUDAYAWAN Cirebon Opan Safari memperlihatkan naskah Serat Carub Kanda yang salah satu babnya menceritakan tentang Mbah Kuwu Cirebon atau Pangeran Cakrabuanan di komplek makam Sunan Gunung Jati, Selasa (11/9/22018). Fanny/KC Online

Oleh Fanny Krishna-Kabar Cirebon

 

BERSAMPUL biru tua dan berkertas lusuh, naskah kuno itu dipegang oleh budayawan Cirebon Opan Safari di kompleks makam Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Selasa (11/9/2018). Naskah kuno yang ia pegang merupakan naskah yang ditulis asli oleh cangga atau bapak dari buyutnya yang bernama Pangeran Lingga Buana.

Naskah ini diberi nama Serat Carub Kanda atau diartikan sebagai cerita campuran. Menurut Opan, dalam naskah ini ada 11 bagian cerita, salah satu babnya menceritakan tentang Pangeran Cakrabuana atau Mbah Kuwu Cirebon atau kuwu kedua di Cirebon.

Bukan tanpa sengaja Opan datang ke kompleks makam Sunan Gunung Jati dengan membawa naskah kuno ini. Ia diundang oleh Forum Komunikasi Kuwu Cirebon (FKKC) untuk mengaji budaya. Dan ia pun menceritakan sejarah Mbah Kuwu Cirebon di hadapan para kuwu, salah satu sumbernya ia dapatkan dari naskah berbahasa Arab yang ditulis oleh leluhurnya tersebut. FKKC sendiri mengadakan acara “Ngaji Budaya” ini untuk memperingati Haul Mbah Kuwu Cirebon yang jatuh tiap 1 Muharam.

Menurut Opan, haul Mbah Kuwu Cirebon pada tahun ini merupakan haul ke-489 tahun. Sebelum kuwu-kuwu di Cirebon saat ini ada, sejarah panjang Mbah Kuwu Cirebon untuk membuka pedukuhan atau desa di Cirebon dimulai sesaat setelah ia mempelajari Islam ke sebuah pesantren di Karawang.

“Dulu, ia adalah kuwu kedua di Cirebon, dan kuwu pertamanya adalah mertuanya, yaitu Ki Gede Alang-alang. Setelah itu, ia meminta putranya Pangeran Caruban untuk membuka pedukuhan baru di Talun dan di Trusmi. Akhirnya, dia mengangkat kuwu-kuwu di desa-desa, awalnya dan tujuan utamanya adalah untuk menyiarkan agama Islam,” ujarnya.

Menurut Opan, sejarah keberadaaan kuwu memang telah ada sejak ratusan tahun lalu. Nama kuwu yang saat itu telah ada, dipertahankan hingga kini. “Kalau diberi nama kepala desa, maka keramatnya bakal hilang, jadi tetap dipertahankan kuwu,” katanya.

Kemudian, Pangeran Cakrabuana melantik keponakannya, Sunan Gunung Jati sebagai raja Cirebon pada 1479. Namun, sebelum dilantik, Sunan Gunung Jati dimintanya untuk bersilaturahmi kepada 40 ulama.

“Setelah itu, lepaslah Cirebon dari Kerajaan Pajajaran. Dan untuk pertama kalinya tidak ada lagi upeti berupa terasi dan garam kepada Kerajaan Pajajaran. Marah, Kerajaan Pajajaran mengutus 40 tentara khusus dengan kemampuan yang mumpuni untuk menyerang Cirebon, tapi setelah diajak berdialog seluruh tentara itu masuk Islam, begitupun puluhan tentara selanjutnya. Namun, ada puluhan tentara lainnya yang menyerang saat fajar menyingsing ke Cirebon,” katanya.

Wafat pada 1529, Mbah Kuwu Cirebon dimakamkan di sebuah bukit buatan di Gunung Sembung yang saat ini berada di kawasan Desa Astana. Bukit buatan ini diberi nama Astana Nur Jati Cipta Rengga. Bukit ini dibuat tidak lebih tinggi dari bukit makam guru Mbah Kuwu Cirebon, yaitu Syekh Nurjati yang ditempatkan di Amparan Gunung Jati yang terletak di seberang Gunung Sembung.

“Hal ini untuk menandakan bahwa Mbah Kuwu Cirebon menghormati gurunya, bukitnya tidak ingin lebih tinggi dari bukit di mana gurunya dimakamkan,” tuturnya.

Ketua FKKC, Mohammad Carkim, yang sempat menaburkan bunga di atas makam Mbah Kuwu Cirebon mengatakan, kuwu sekarang harus banyak belajar dari pengalaman di masa lalu saat Mbah Kuwu Cirebon memulai membuka desa.

“Kita peringati haul Mbah Kuwu Cirebon untuk menghormati kuwu pertama-tama yang membuka pedukuhan di Cirebon. Keberadaan kuwu saat itu sangat istimewa, yaitu untuk menyebarkan ajaran Islam. Dan semuanya masih relevan hingga saat ini, dan saya berharap seluruh kuwu bisa belajar dari pengalaman masa lalu,” tuturnya.***