WARKINA, pria asal Kabupaten Cirebon saat menerima penghargaan tingkat nasional mewakili Provinsi Jawa Barat, di Jakarta, belum lama ini.* Ist/KC Online

Oleh Ismail Marzuki-Kabar Cirebon

NAMA pria yang satu ini tak asing lagi di dunia pendidikan, khususnya pada aktivitasnya yang dilakukannya bertahun-tahun agar masyarakat gemar membaca. Bahkan, ia pun belum lama ini telah mendapatkan penghargaan tingkat nasional yang mewakili Provinsi Jawa Barat (Jabar).

Warkina namanya, pria asal Desa Kertasura, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon ini telah meraih penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka Kategori Masyarakat, pada 6 September 2018, sebagai inisiator gerakan “Sadar pado Maco” oleh Perpustakaan Nasional.

Ia yang juga berprofesi sebagau guru di SMPN 2 Suranenggala ini mengaku, tidak ada niat untuk mencari keuntungan selama menjadi inisiator gerakan pado maco. Semuanya murni untuk mencerdaskan anak bangsa. Yang ia pikirkan adalah bagaimana menghilangkan image buruk masyarakat di wilayah utara.

“Tidak terbesit sedikit pun mendapat penghargaan di tingkat nasional. Alhasil, 60 persen masyarakat dari berbagai elemen sadar pentingnya membaca, mulai dari petani, nelayan, kuli bangunan, dan masyarakat pada umumnya,” kata Warkina kepada KC, Minngu (9/9/2018).

Warkina menyampaikan, dirinya juga pernah meraih penghargaan di tahun 2017 lalu, berupa Anugerah Pelopor Pemberdayaan Masyarakat Jawa Barat Bidang Pendidikan dan juara satu lomba perpustakaan desa tingkat Kabupaten Cirebon.

Ia mengaku, misi yang dijalaninya selama melakukan gerakan untuk mencerdaskan anak bangsa itu bukan tanpa halangan dan rintangan. Sebab, selain lelah dan lesu ia rasakan, cacian maupun hinaan dalam berbagai macam selalu menghampiri. Bahkan hingga kini, gerakan pemilik warung baca di Desa Kertasura itu kerap kali disebut mencari pencitraan untuk mendapatkan bantuan melalui proposal sebagai nilai tambah.

Namun, jalan terjal Warkina untuk menyadarkan minat baca masyarakat yang sangat panjang itu mampu ia buktikan dengan segudang prestasi yang ditorehkan. Perjuangan Warkina pun bahkan mampu memotivasi anak-anak kembali bersekolah yang dulunya putus sekolah atau dikeluarkan dari sekolah.

“Alhamdulillah anak-anak yang putus sekolah dan di-DO oleh sekolah, kini kembali melanjutkan sekolah setelah diberi motivasi bahwa membaca dapat membuka cakrawala dunia. Membaca satu kebutuhan utama yang harus dikonsumsi setiap hari, dan membaca juga gudangnya ilmu,” ungkap Warkina.

Ia mengaku, gerakan yang dlakukan dirinya sebenarnya telah diketahui oleh pemerintah daerah. Bahkan, ia mendapat penghargaan juga pemerintah daerah mengetahuinya, tetapi selama ini perhatian atas gerakan dirinya itu tidak pernah ada.

“Padahal, ketika gerakan murni melalui literasi ini memberikan dampak positif, imbasnya tetap kepada pemerintah daerah. Selama ini pemda hanya mengapresiasi dan ucapan selamat. Artinya belum ada perhatian lebih,” akunya.

Ia menjelaskan, semua fasilitas yang ada bersumber dari dana pribadi dan swadaya masyarakat. Meski demikian, apa yang dikeluhkan dirinya itu bukan berarti ia menuntut pemerintah daerah, tetapi gerakan yang dilakukannya harusnya jangan disia-siakan oleh pemerintah daerah karena dampaknya sangat luar biasa.

“Sekarang kita memiliki koleksi buku sekitar 850-an untuk perpustakaan. Namun sayang, dari jumlah buku yang ada itu, masih kekuarngan buku untuk anak-anak. Selain menyediakan buku bacaan secara gratis, kita juga membuka pendidikan anak usia dini dan pengajaran membaca bagi ibu-ibu yang buta huruf,” tambah Warkina.***