CIREBON,(KC Online).-

Aneka warna kue apem sudah terhidang di atas karpet merah di Paseban komplek Buyut Trusmi, Kecamatan Plered, Minggu (28/10/2018).

Memasuki pertengahan bulan Safar, kue apem masih terhidang banyak di komplek makam kramat ini. Masyarakat sekitar terus membuatnya setiap hari hingga bulan Safar berakhir.

Coklat, kuning, serta si klasik putih yang bisa dicelupkan ke dalam gula merah cair begitu menggoda. Ngapem, begitu biasanya warga Trusmi menyebutnya.

“Tradisi ngapem identik dengan bentuk penyucian diri, menebus dosa, dan sebagainya,” tukas Ketua Kyai Makam Buyut Trusmi Tony Syah.

Warna putih kue apem yang dicelupkan ke dalam gula merah cair, menurutnya, bukan tanpa alasan.

“Kue apem yang dicelupkan itu sebagai bentuk keharmonisan suami dan istri, saling melengkapi,” kata Tony.

Menurutnya, meski kue-kue ini setiap hari dikirim oleh warga sekitar, namun dirinya serta para abdi dalem sama sekali tidak merasa bosan.

“Kue ini juga tahan lama, sebagiannya kami bagikan lagi kepada warga lainnya. Saat ada tamu, kami juga menghidangkannya sebagai bentuk penghormatan kepada tamu,” tuturnya.

Tony juga mengatakan, menikmati kue apem tak cukup hanya satu. Saat satu kue sudah di mulut, maka ada keinginan untuk menikmati kue yang kedua, dan seterusnya.

“Menikmati kue apem memang tidak hanya di Safar saja, kadang kita memakannya di bulan lainnya. Tapi, memakannya di bulan Safar nikmatnya tidak ada duanya, sekaligus mengingatkan betapa kita banyak dosa dan cepat ingin segera menghapusnya dengan amalan kita,” tuturnya.

Safaran di Buyut Trusmi merupakan salah satu dari lima perayaan rutin yang digelar di sini. Selain Safaran, ada juga Malam Satu Syuro, Ruwahan, Muludan yang sebentar lagi datang, serta Ramadhan. (Fanny)