PENASEHAT DKM Mesjid Syekh Abdurokhman Kaliwulu, Muslimin, memperlihatkan bangunan cagar budaya di dalam bangunan masjid tersebut, Selasa (16/10/2018).* Fanny/KC Online

Oleh Fanny Krishna-Kabar Cirebon

DI Desa Kaliwulu, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, ada sebuah masjid peninggalan abad ke-17 yang dikenal dengan nama “Masjid Terbang”. Nama asli dari masjid ini sebetulnya Masjid Syekh Abdurokhman, sesuai dengan nama orang yang pertama kali membangun masjid ini.

Saat didatangi, Selasa (16/10/2018), masjid yang terletak di ujung sebuah gang ini dalam kondisi sepi. Suasana adem dan sejuk. Masjid ini tercatat sudah masuk ke dalam bangunan cagar budaya.

KC diajak berkeliling ke kompleks masjid ini oleh pengurus DKM Masjid Syekh Abdurokhman, Muslimin. Di dalam ruangan masjid, Muslimin memperlihatkan sebuah ruangan untuk imam. Ruangan ini tidak terlalu besar, untuk memasukinya kita harus menunduk. Di tembok menuju ruangan ini, ditempeli beragam piring kecil hiasan peninggalan Syekh Abdurokhman. Juga ada prasasti berbahasa  Arab. Ruangan imam inilah yang termasuk ke dalam bangunan cagar budaya.

“Tembok ini masih asli. Ruangan imam juga masih asli, bangunan ini dipertahankan, sementara ruangan salat di belakangnya bangunan baru. Bangunan masjid zaman dahulu memang tidak megah, malah kecil-kecil seperti bangunan ini,” ujar Muslimin.

Menurutnya, masjid ini dulu bukan berada di Blok Kauman, melainkan di Blok Silintang yang termasuk Desa Wotgali, tetangga Desa Kaliwulu. Pondasi masjid ini di Blok Silintang masih ada hingga kini. Warga tidak ada yang membangun rumah di atas pondasi tersebut, sebab tahu pondasi tersebut merupakan pondasi masjid terbang.

“Dipindahkan ke Blok Kauman mungkin karena di Blok Silintang dirasa tidak cocok. Saat dipindahkan, bangunan masjid sudah jadi. Saat itu mungkin diangkat bangunannya oleh banyak orang. Sehingga ada istilah masjid terbang,” tukasnya.

Di dalam ruangan imam salat, terdapat satu kayu cukup panjang yang berukir. Menurut Muslimin, kayu ini pun seusia dengan bangunan masjid dan masih ada hingga kini. “Kayu ini untuk khutbah imam. Masih terjaga hingga sekarang,” katanya.

Syekh Abdurakhman atau Ki Gede Kaliwulu merupakan warga pertama di Desa Kaliwulu, ia menemukan desa ini saat sedang dalam perjalanan ke Galuh Pajajaran bersama Sunan Gunung Jati. Putra dari Pangeran Panjunan ini sering ikut Sunan Gunung Jati dalam berbagai kegiatan. Di desa ini, Syekh Abdurokhman menemukan sebuah kali (sungai) yang banyak lumutnya. Sungai tersebut airnya bening dan kemudian dinamakan Kaliwulu.

Menurut Muslimin, masjid ini mirip Masjid Merah Panjunan karena memang  Syekh Abdurakhman berasal dari wilayah Panjunan.

“Mulai dari bata merah, kemudian piring khas Mandarin, mirip Masjid Merah Panjunan,” katanya.

Syekh Abdurakhman memiliki keahlian membuat aneka benda dari kayu. Ia sering membuat barang seperti kereta kayu yang  dikemudikan kuda. Inilah cikal bakal kenapa Desa Kaliwulu dikenal sebagai sentra mebeul hingga sekarang.

“Masjid ini sering dikunjungi banyak orang. Kalau siang seperti ini (kemarin) memang sepi, tapi jemaah membludak kalau jumatan, begitupun saat waktu salat tiba. Kalau salat jumatan, biasanya imam berdirinya lebih maju ke depan, sementara kalau bukan jumatan imam biasanya berdiri tepat selangkah dari pintu masuk,” ujar Muslimin.***