CIREBON,(KC Online).-

Cirebon dikenal sebagai daerah yang memiliki banyak santri, karena merupakan salah satu basis pondok pesantren di Pulau Jawa.

Cirebon pun dikenal memiliki banyak santri pemberani yang berjuang melawan penjajah Belanda.

Salah satunya adalah H Abbas yang namanya kini diabadikan menjadi nama sebuah jalan di kawasan Trusmi, Plered.

H Abbas tergabung ke dalam Hizbullah Fi Sabilillah yang merupakan bentukan para kyai. Di Jawa Timur, tentara ini dipimpin langsung oleh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama yang merupakan kakek dari mantan Presiden Gus Dur.

Berdasarkan penuturan keturunan langsung dari H Abbas, Abidin Aslich, H Abbas gugur pada 1947, saat ia bertempur sendirian melawan penjajah Belanda di kawasan Trusmi.

“Kepalanya ditembak peluru mortir, isi kepalanya berhamburan. Ia melawan sendirian pasukan Belanda yang datang menggunakan dua truk. Kata ayah saya yang mengurus jenazahnya, otaknya justru wangi dan sama sekali tidak bau amis. Peristiwa itu terjadi di kawasan Trusmi,” katanya, Senin (22/10/2018).

Saat itu, menurutnya, hari Jumat, dan sudah lama H Abbas diincar oleh pasukan Belanda. Usai salat Jumat di kawasan Trusmi, ia sempat mengajak jemaah salat untuk bertempur. Namun, merasa kurang kekuatan para jemaah enggan bergabung.

“Akhirnya H Abbas sendirian bertempur. Ia sempat melukai sembilan tentara Belanda. Namun karena kalah jumlah, ia gugur dan kepalanya tertembus peluru mortir,” katanya.

Tak dipungkiri, H Abbas memiliki ilmu bela diri yang mahir. Sebagai seorang santri sejati, ilmu bela diri ini sudah dikuasainya sejak lama dan dipergunakannya untuk melawan penjajah Belanda.

“Kemampuannya serta keberaniannya membuatnya ia diburu tentara Belanda. Ia dimakamkan di Desa Setu Wetan, Kecamatan Weru, karena di desa inilah istrinya berasal, yaitu Hj. Jamilah,” katanya.

Dulu, papan nama jalan H Abbas ditempatkan di dekat lampu merah Plered dan terus lurus ke arah Trusmi. Namun,  papan nama ini dipindahkan ke jalan yang lebih kecil, yaitu kawasan Trusmi belok kiri menuju terminal.

Pantauan KC, papan nama ini terdapat di sebelah kanan kawasan Trusmi. Letaknya kurang terlihat, hampir roboh. Di bawahnya terpasang alat peraga kampanye salah satu caleg.

Menurut Abidin, keluarga menolak saat ada Ketua Dewan Harian Daerah 45 DKI Jakarta H Ahmadi yang meminta H Abbas menjadi pahlawan nasional.

“Karena keluarga tahu kalau H Abbas melawan Belanda bukan ingin jadi pahlawan, ia ingin membela bangsanya dari tangan para penjajah. Maka sampai sekarang ia adalah santri yang pemberani, karena berani melawan penjajahan meski harus ditebus peluru di kepalanya,” tukasnya. (Fanny)