BEBERAPA orang sedang melaksanakan shalat Dhuha, Rabu (24/10/2018), di masjid kuno di Desa Gamel, Kecamatan Plered.

Suasana sejuk di dalam masjid ini sangat terasa, meski di luar panas sangat menyengat. Pukul 10.30 WIB, warga sekitar yang banyak berprofesi sebagai tukang kayu, sedang melakukan aktivitasnya.

Masjid yang terletak di pinggir jalan utama desa ini terkena imbasnya, sebab lantai sering kotor akibat debu dan bekas serutan kayu dan dinding masjid pun kadang dipenuhi sarang laba-laba.

Namun, petugas masjid ini sigap membersihkan. Khusus lantai, petugas menggunakan campuran minyak tanah dan air untuk mengepel, dalam waktu sekejap debu tebal terangkat.

Minyak tanah dipercaya bisa mengangkat debu tanpa tersisa.Dalam sapuan terakhir, petugas menggunakan pewangi, lantas lantai pun bersih mengkilat sekaligus wangi.

Masjid Kuno Gamel merupakan salah satu mesjid tertua di Cirebon. Masjid ini didirikan oleh guru dari Sunan Gunung Jati yaitu Syekh Nurjati pada abad ke 8 atau beberapa abad sebelum Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Kasepuhan dibangun.

Masjid ini dibangun selama berabad-abad, mulai dari abad ke-8, dilanjutkan abad ke-12, abad ke-14 dan terakhir abad 17. Masjid ini bahkan sudah ada sebelum Desa Gamel terbentuk yang dimulai pada abad ke-15.

“Dibangun selama berabad-abad itu dimungkinkan karena saat itu orang masih jarang. Mungkin waktu pertama kali dibangun yaitu abad ke-8, Syekh Nurjati dan beberapa pengikutnya saja yang membangun,” ujar pengelola Masjid Kuno Gamel, Munija (56 tahun).

Bangunan asli masjid kuno ini adalah ruangan dengan luas 106 meter persegi, dengan pembagian ruangan iman luasnya 6 meter dan sisanya untuk makmum.

Bangunan lainnya dibangun oleh warga sekitar beberapa puluh tahun yang lalu. Ruangan dengan luas 106 meter persegi ini cukup sempit, namun dengan beberapa tiang besar sebagai penyangga dan atap yang cukup tinggi, suasana di dalam masjid ini sejuk dan syahdu.

Terdapat 16 tiang di ruangan ini. Ruang asli masjid ini seolah menjadi saksi bisu bagaimana perjuangan Syekh Nurjati menyebarkan syiar Islam di tanah Cirebon.

Karena ruangan masjid yang terawat hingga kini serta memiliki sejarah yang panjang, masjid yang dikenal warga sebagai Masjid Nur Karomah ini masuk ke dalam bangunan cagar budaya.

“Sebagai bangunan cagar budaya yang sudah berusia ratusan tahun, saya tentu bangga sebagai juru pelihara masjid ini. Namun perawatannya memang tidak mudah karena lantai masjid sering kotor. Dalam sehari tidak terhitung berapa kali petugas harus mengepel. Sebagai BCB tingkat provinsi, masjid kuno ini tidak mendapatkan anggaran perawatan dari BCB Banten. Anggaran perawatan murni dari warga setempat,” katanya.

Menurutnya, dengan seringnya masjid ini sebagai tempat ziarah, diharapkan bisa naik level untuk tingkat BCB nya ke level nasional.

“Sebab kalau sudah masuk level nasional, masjid kuno ini akan dapat anggaran perawatan. Tidak bisa dipungkiri, untuk merawat masjid usus ratusan tahun butuh perhatian khusus, saya dan warga sangat Ikhlas menjalankannya, namun akan lebih baik kalau pemerintah juga turut memperhatikan, sebab kalau bukan kita siapa lagi yang melestarikan masjid ini,” ungkapnya. (Fanny)