SEBUAH bangunan merah mencolok sendiri di tengah pemakaman umum di Desa Gamel, Kecamatan Plered,  Kabupaten Cirebon.

Pintunya dalam keadaan terkunci. Warga sekitar yang juga merupakan tokoh masyarakat, Munija (56 tahun), mengatakan, dulu banyak peziarah yang sering datang ke sini. Namun seiring berjalannya waktu, para peziarah mulai jarang datang.

Banyak faktor penyebabnya, di antaranya lokasi yang tidak mendukung, sebab lokasi ini berada di dalam sebuah gang yang tidak terlalu lebar. Desa Gamel pun cukup jauh dari jalan raya umum. Untuk mencapai desa ini, kita harus melewati beberapa desa terlebih dahulu, yaitu Desa Weru Lor, Trusmi Kulon dan Wotgali.

Faktor lainnya adalah bisa jadi masyarakat umum banyak yang belum tahu siapa tokoh yang dimakamkan di dalam bangunan merah tersebut.

“Di dalam bangunan ini ada makan Nyi Gede Kali Tengah dan Syekh Madegel. Lalu beberapa makam lainnya yang tidak diketahui. Nyi Gede Kali Tengah itu banyak yang bercerita bahwa dia sosok yang cantik dan sakti,” ujar Munija, Selasa (23/10/2018).

Menurutnya, Nyi Gede Kali Tengah merupakan salah satu warga pertama di Desa Kali Tengah, Kecamatan Tengah Tani, pada abad ke 16.Saking saktinya ia karena menguasai ilmu bela diri, Nyi Gede Kali Tengah pernah melakukan sayembara untuk mencari calon suaminya.

“Sayembaranya adalah barang siapa bisa membuat bedug tapi bedugnya jangan berbunyi, maka lelaki itu bisa jadi susminya. Saat itu, cukup banyak lelaki yang ikut sayembara ini,” tuturnya.

Kemudian, ada salah satu lelaki asal desa  yang saat ini masuk wilayah Kecamatan Plered, yang membuat bedug untuk ikut sayembara. Kemudian bedug ini dibawa ke Nyi Gede Kali Tengah, namun bedug ini berbunyi dan gagal lah ia menjadi suaminya. Bedug ini kemudian disimpan di Masjid Kuno Gamel, dan bedug ini masih tersimpan apik hingga sekarang.

“Kalau melihat bedug itu dan tahu sejarahnya, pasti akan ingat langsung ke sayembara Nyi Gede Kali Tengah,” ungkapnya.

Usai kegagalan lelaki  tersebut, kemudian datang lagi seorang lelaki  bernama Syekh Madegel. Syekh Madegel tak kalah saktinya dengan Nyi Gede Kali Tengah, dan ia buktikan dengan kemampuannya membuat bedug yang jika ditabuh tidak bisa berbunyi.

“Sesuai aturan, harusnya jika ada lelaki yang mampu membuat bedug yang tidak bisa berbunyi tersebut, maka Nyi Gede Kali Tengah harus menikah dengannya. Tapi justru Nyi Gede Kali Tengah masih ingin membuat persyaratan lain lagi, yaitu lelaki tersebut harus membuat api tanpa kayu untuk membuat kue apem,” katanya.

Nyi Gede Kali Tengah sejak dulu memang rajin membuat kue apem. Ia menguji Syekh Madegel membuat api tanpa kayu untuk membuat kue apem tersebut. Ternyata Syekh Madegel pun mampu melaksanakannya. Ia menyalakan api dari lututnya sendiri. Itu semua dilakukannya agar bisa menikahi Nyi Gede Kali Tengah.

“Ternyata setelah itupun Nyi Gede Kali Tengah tetap enggan menikah dengan Syekh Madegel. Sampai akhirnya mereka berdua meninggal dunia. Syekh Madegel minta dimakamkan di dekat makam Nyi Gede Kali Tengah, dan sampai sekarang makam mereka masih terjaga dan terawat,” tuturnya.

Menurutnya, banyak yang belum tahu kisah cinta Nyi Gede Kali Tengah ini.

“Zaman dahulu, yang sakti memang bukan hanya laki-laki saja, melainkan juga wanitanya. Artinya, kesetaraan gender di sini sudah berlangsung berabad-abad silam,” tuturnya. (Fanny)