MEMASUKI Vihara Dharma Sukha kita akan disambut wangi dupa yang dibakar di ruang sembahyang. Vihara yang terletak tepat di belakang Pasar Kue, termasuk ke Desa Weru Kidul, Kecamatan Weru, ini terlihat makin megah setelah direnovasi.

Langit-langit ruang sembahyang cukup tinggi dan memberikan kesan luas. Di ruang sembahyang ini terdapat dewa yang disebut salah satu dewa yang memiliki strata tertinggi di Pulau Jawa. Usia vihara ini sudah mencapai 700 tahun lebih.

“Di sini dewa dengan strata tertinggi di Cirebon, dan salah satu dengan strata tertinggi di Pulau Jawa. Nama dewanya Fuk Dhe Minh Wang. Klenteng atau vihara lain biasanya dewanya Hok Tek Tjeng Sin, tapi dewa di vihara ini lebih tinggi strata nya makanya disebutnya Dewa Fuk Dhe Minh Wang atau dewa yang telah diberi gelar, dewa ini adalah pemberi kelancaran rezeki, maka mereka yang sembahyang di sini biasanya meminta usaha dilancarkan,” ujar Sugianto (66 tahun), pengurus Vihara Dharma Sukha, Jumat (19/10/2018).

Atas hal ini, menurutnya, tak heran jika jemaat vihara ini tak pernah berkurang. Sebagian besar adalah warga Jakarta.

“Biasanya mereka yang sembahyang di sini karena tahu ada Dewa Fuk Dhe Minh Wang, jadi di tengah tren vihara yang makin menurun jemaat nya, di sini stabil dan malah kadang ada jemaat baru yang bersembahyang di sini,” tukasnya.

Sugianto menambahkan, peranan vihara ini di zaman kolonial terasa. Sebab, vihara banyak membantu perjuangan melawan kolonial Belanda. Atas hal inilah, vihara yang tadinya berada di Blok Pemarakan dipindahkan ke belakang Pasar Kue, sebab kolonial Belanda bisa memantau langsung aktivitas di vihara karena lokasinya yang berada di dekat jalan raya.

” Dulu di Blok Pemarakan yang masih termasuk Desa Weru Kidul kan letaknya di belakang, sehingga aktivis nya kadang tidak terlihat. Maka sejak saat itu vihara ini berlokasi tepat di belakang Pasar Kue,” ujarnya.

Vihara ini direnovasi berturut-turut pada 2012, 2013, 2014, dan dilanjutkan pada 2016.

“Dulu bangunannya tidak semegah ini, sekarang sudah tampak megah. Ini dilakukan agar jemaat yang sembahyang merasa nyaman. Dan karena ini bangunan bersejarah, maka kita tidak mengubah bentuk aslinya,” ucapnya.

Di ruang sembahyang disimpan pak pwe atau semacam kayu kecil sepasang. Pak pwe biasanya digunakan jemaat untuk menentukan apakah mereka bisa meminum air yang disediakan di ruang sembahyang atau tidak. Cara menentukan jemaat ini bisa minum air di ruang sembahyang atau tidak adalah dengan cara melempar pak kwe, kalau posisi kayu menghadap ke atas atau terbuka tandanya dewa tidak setuju, kalau kayu menghadap ke bawah atau tertutup artinya dewa setuju.

“Di ruang sembahyang memang disediakan air untuk keberkahan jemaat,” ujarnya. (Fanny)