SIAPA yang mau seorang istri ditinggal suami, apalagi ditinggal untuk selamanya. Kehidupannya selalu ia jalani sendiri. Ia berperan ganda, sebagai ibu juga sebagai ayah.

Untuk seorang janda tidak sedikit orang memandangnya negatif. Takut suaminya direbut ataupun takut perhatian suaminya beralih ke janda. Padahal jelas, dalam agama pun seorang janda patut diperhatikan.

Pak Otang, suami Tiwi, meninggal dunia sejak Aulia berumur lima tahun dan Ikrom, adik Aulia, berumur dua tahun. Betapa terpukulnya Tiwi ditinggal suaminya dikala mereka sedang membangun rumah kediamannya.

Kondisi rumah masih berantakan, tiba-tiba Pak Otang meninggal terkena serangan jantung. Kini Tiwi hidup bertiga. Awalnya Tiwi bekerja di sebuah asuransi, berhubung anak-anaknya tidak ada yang menjaga, jadi dia keluar.

Anak-anaknya sudah mulai sekolah, Tiwi bekerja banting tulang untuk mencukupi segala kebutuhannya. Dia memilih berjualan kue-kue atau makanan ringan titipan orang lain.

Tapi, dibalik kerja kerasnya, ada saja ibu-ibu yang merasa ketakutan suaminya direbut Tiwi. Maklum, Tiwi janda muda berpenampilan menarik, jadi wajar kalau ibu-ibu di sekitarnya merasa takut suaminya berpaling ke Tiwi.

Tiwi berjalan lunglai sepulang mengantar anak-anaknya sekolah. Di sepanjang jalan Tiwi tidak henti-hentinya menangis, mendengar obrolan ibu-ibu yang memperguncingkan dirinya.

“Ya Allah, sebegitunya ibu-ibu merendahkan aku. Perasaan aku cukup tahu diri, dalam bersikap maupun berucap,” keluh Tiwi.

Untuk menghibur diri, di waktu senggang Tiwi suka online facebook. Mengetahui Tiwi seorang janda, teman-teman laki-laki di facebook tidak sedikit yang chat pribadi meminta pertemanan lebih spesial.

Tiwi pun menerimanya sekadar hiburan karena dia pikir hanya di dunia maya. Tetapi, lama kelamaan ada yang meminta berhubungan serius sampai telepon-teleponan dan meminta ketemu. Tiwi menanggapinya dengan santai.

“Aku tahu ini hanya dunia maya, tidak mungkin sampai berhubungan serius. Anda belum tahu aku dan aku tidak tahu Anda,” kata Tiwi

“Iya facebook dunia maya, tapi aku menginginkan hubungan yang lebih serius denganmu. Makanya, hayu kita ketemu, aku mau berkunjung ke rumahmu,” pinta Pipin.

Dengan permintaan Pipin, Tiwi menanggapinya biasa saja. Karena domisili mereka berbeda pulau dan hal itu memakan waktu juga biaya. Mau datang mau tidak, tidak masalah. Tetapi, yang membuat Tiwi kaget, betul saja dengan sumringah Pipin datang menemui Tiwi.

“Ya ampun, aku kira cuma bercanda,” kata Tiwi.

“Ya tidak lah, aku serius.” Jawab Pipin

Tiwi gelagapan juga dengan keseriusan Pipin. Dia masih belum bisa melupakan Otang, dia merasakan Otang masih ada selalu bersamanya dan anak-anaknya.

Tiwi menangis sejadi-jadinya, dia merasa mengkhianati Otang.
Pipin bingung melihat Tiwi menangis. “Aku harus bagaimana? Aku mau kau menerimaku sebagai bapaknya anak-anakmu. Aku paham betul, kamu belum bisa move on dari suamimu, tapi kalau tidak dicoba dijalani dengan pengganti suamimu, kamu tidak akan bisa move on. Mulailah membuka hati untukku, aku mau menjagamu dan anak-anakmu dengan ibadah. Insya Allah akan kujaga selalu,” pinta Pipin

Tiwi tidak menjawab, “Ya Allah, bagaimana ini? Aku tidak bermaksud mengkhianati suamiku. Aku hanya butuh teman, butuh orang yang bisa dijadikan sandaran di kala aku sedih. aku butuh orang yang bisa membantu kehidupan ekonomi aku sama anak-anak. Aku merasa tidak mampu hidup tanpa suami. Aku butuh status agar aku tidak dijadikan bahan cemoohan ibu-ibu juga bapak-bapak yang suka iseng. Tolong beri aku jalan yang terbaik buat aku dan anak-anakku,” gumam Tiwi.

“Ya sudahlah, pikirkan baik-baik. Berpandanglah ke depan demi anak-anakmu. Kamu butuh pendamping,” kata Pipin sebelum pamit pulang.

“Iya Mas, maafkan atas sikap Tiwi. Mas sudah jauh-jauh datang,” kata Tiwi.
“Iya Mas mengerti betul. Mas tetap menunggu kepastian darimu,” jawab Pipin.

Sepulang Pipin, Tiwi terus memikirkan ucapan-ucapan Pipin. “Apa benar Pipin bisa menggantikan Otang sebagai bapaknya anak-anak?”

Di tengah kegalauannya, Tiwi kedatangan seorang bapak-bapak paruh baya, Pak Edi, tamu tetangganya Tiwi, tiba-tiba menebak Tiwi sedang ada yang dipikirkan.

Terpancing olehnya, Tiwi menceritakan pertemanan dengan Pipin dan kemauan Pipin. Pak Edi seperti bisa membaca pikiran Tiwi. Pak Edi menyuruh Tiwi menjalankan shalat Istikharah.

Malamnya Tiwi langsung mengerjakan shalat Istikharah dengan cara-cara sesuai petunjuk Pak Edi. Setelah salat, dalam mimpinya Tiwi kedatangan Pak Edi yang ditunjuk langsung oleh Otang.

“Ini bakal pengganti aku sebagai bapaknya anak-anak.” Otang menunjuk Pak Edi dalam mimpi Tiwi.

Tiwi terbangun, kaget “Apa betul Pak Edi bukannya Pipin? Pak Edi beristri, aku jadi istri kedua Pak Edi? Bagaimana dengan anak istrinya?”

Keesokan harinya Pak Edi datang kembali menemui Tiwi dan menanyakan mimpinya. Tiwi menceritakan apa yang diimpikannya.
“Sudah, jangan banyak omong ke siapa pun. Yang tahu cukup kita berdua.” Kata Pak Edi.

Tiwi hanya mengiyakan permintaan Pak Edi.

Hari demi hari, minggu, sampai bulan, Tiwi menunggu kejelasan Pak Edi, walaupun sering bertemu, Pak Edi tidak memberi kepastian bagaimana hasil Istikharah itu. Karena sudah lama tidak ada kepastian, semakin penasaran, Tiwi mencoba menanyakan kelanjutan impian itu ke Pak Edi. Dengan santai Pak Edi menjelaskan impian itu ke Tiwi

“Itu mimpi hayalan belaka, bukan hasil Istikharah.”

“Apa maksud Pak Edi?” Tanya Tiwi

“Aku bisa memanfaatkan mimpi seseorang dengan memasukkan keinginanku agar seseorang bisa mempercayaiku. Aku mencoba agar Tiwi percaya bahwa aku calon pengganti bapaknya anak-anakmu. Karena kamu diarahkan samaku,” jelas Pak Edi.

“Oh begitu.” Betapa teririsnya hati Tiwi mendengar pengakuan Pak Edi. Tidak disangka figur panutan seperti Pak Edi bisa berbuat begitu.

Selama ini Tiwi begitu percaya sama Pak Edi, karena Pak Edi orang yang taat beribadah, banyak tetangga sering sharing masalah agama atau apa saja dengan Pak Edi.

“Iya, kalau niat akan aku kawinin semua janda-janda, tapi aku juga manusia yang punya selera. Seleraku wanita muda dan cantik. Tidak mungkin janda-janda aku kawinin semua,” Pak Edi memperjelas ucapannya.

Semakin sakit hati Tiwi. Dia menangis sepuasnya. Sosok Pak Edi yang dia segani, dia hormati, bisa berbuat lebih dzalim dari ibu-ibu sekitar.

“Ku kubur dalam-dalam rasa sakit ini bersama suamiku. Aku tidak tahu harus mempercayai orang yang seperti yang bagaimana lagi yang mampu mengobati luka hati ini. Aku mencoba move on dari Otang, tetapi ada saja orang yang berusaha menjatuhkanku. Aku berpasrah pada-Mu, Ya Allah. Kuatkan lahir batinku, permudah segala urusanku,” keluh Tiwi.

Dibalik terjatuhnya Tiwi, Pipin masih peduli, walau Tiwi tidak memberi jawaban pasti, Pipin tetap berpegang teguh pada ucapannya ke Tiwi akan menjaga dan melindunginya semampunya, sebagai bukti Pipin masih tetap mengirim uang buat kebutuhan Tiwi dan anak-anaknya.

“Jangan dijadikan beban aku mengirim buat anak-anak, itu hanya sebagai wujud sayang aku sama kamu dan anak-anak,” kata Pipin.

“Iya mas, maafkan aku,” kata Tiwi.

“Iya, mas mengerti banget hati kamu. Sudahlah mas paksa kamu nikah. Yu kita nikah, kita bina rumah tangga dengan ibadah demi kita demi anak-anakmu yang masih membutuhkan sosok ayah,” paksa Pipin.

“Bismillah, aku niatin mas,” jawab Tiwi.

Pipin dan Tiwi akhirnya menikah. Tiwi mengawali hidup bersama Pipin dengan perasaan berat dan merasa berdosa sama Otang. Di kala sendiri Tiwi sering menangis, “Ya Allah, mohon ampuni hamba-Mu ini. Kehidupanku ini betul-betul dilema. Satu sisi aku tenang tanpa suami satu sisi aku membutuhkan suami. Aku membutuhkan berbagi pendapat di kala anak-anakku bermasalah. Aku butuh status untuk menghindari omongan, cemoohan, orang di sekitar. Aku mohon tenangkan jiwa ragaku. Aamiin.”

Cirebon, Maret 2017
N Soemiharja