CIREBON, (KC Online). – 

Senin (5/11/2018) siang, Masna (40 tahun) sibuk menyiapkan berbagai bahan baku untuk membuat Docang. Ia adalah pedagang Docang di Kelurahan Sendang, Kecamatan Sumber.

Jika dihitung dengan saat orang tuanya yang berjualan kemudian diwariskan kepadanya, total ia dan keluarganya sudah berjualan docang ini puluhan tahun. Sementara pribadi Masna, ia baru berjualan tiga tahun ke belakang.

Cirebon yang memiliki kuliner khas, salah satunya Docang, sangat mudah bagi para pengusaha UKM di bidang kuliner untuk memasarkannya. Apalagi jika diketahui dalam satu makanan ternyata memiliki sejarah panjang. Dan Docang memiliki itu.

Yang disiapkan oleh Masna adalah sayur dage pada Docang yang dibuat dari bahan rempah-rempah, di antaranya bawang putih, bawang merah dan kayu manis.

Setelah dicampur, Docang biasa disajikan dengan kerupuk. Para penjual Docang biasanya memakai kerupuk yang berbeda-beda, ada yang memakai kerupuk putih, ada juga yang memakai kerupuk melarat. Di dalam Docang juga ada daun pepaya yang direbus, toge, dan parutan kelapa.

Satu porsi Docang yang nikmat dijual murah meriah namun nikmat, yakni Rp 4.000 hingga Rp 7.000 tergantung penjualnya.

“Saya memulai berjualan sejak tahun 2015, namun usaha ini turun temurun dari orang tua. Sudah ada puluhan tahun sih,” kata Mana saat ditemui di Blok Lebak, Kelurahan Sendang, Kecamatan Sumber, Senin (5/11/2018).

Menurut Masna, dirinya menjual Docang pada sore hari. Sebab kalau pagi hari banyak yang memilih nasi kuning atau nasi uduk.

“Kalau sore hari kebanyakan yang nasinya habis biasanya diganti pakai docang,” katanya.

Tak hanya sebagai makanan khas yang rasanya lezat, semangkuk Docang yang nikmat mempunyai sejarah tersendiri.

Sejarawan Cirebon Opan Safari, mengatakan, yang pertama kali membuat Docang adalah Ki Gede Bungko. Sejarah Docang disebutkan dalam Dongeng Rakyat Bungko. Pada abad ke-15 Masehi, Sunan Gunung Jati kedatangan tamu. Ia bingung mau menyakin makanan apa untuk tamunya tersebut. Seketika itu dia menunjuk Ki Gede Bungko untuk membuat makanan.

“Sunan Gunung Jati saat itu memberi tugas Ki Gede Bungko untuk membuat makanan khas yang lain dari pada yang lain,” kata Opan.

Mendapat tugas tersebut, Ki Gede Bungko merasa kebingungan dan terus berpikir akan membuat makanan apa.Lalu Ki Gede Bungko pulang ke Desa Bungko, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon untuk membuat makanan tersebut.

Saat itu ia hanya mempunyai kacang, beras, pohon jambu dan sejenisnya.

“Ya udah kacang asal dimasak aja. Beras juga dibikin lontong, dan kelapa diparut. Biarin makanan seadanya aja, orang saya mah orang bodoh dan tidak punya apa-apa. Itu yang dikatakan Ki Gede Bungko saat itu,” kata Opan.

Dibuatlah makanan tersebut oleh Ki Gede Bungko dan dibawa ke Sunan Gunung Jati. Makanan itu ia namakan Docang yang berarti Bodo Kacang. Tanpa berpikir lagi, Sunan Gunung Jati menyajikan Docang kepada para tamunya.

“Saat disajikan, ternyata tamu suka makanan itu,” kata Opan.

Menurut Opan, hingga saat ini, makanan orang-orang Bungko dikenal sangat lezat. Dalam sejarah, tidak disebutkan siapa yang meninggal terlebih dahulu antara Sunan Gunung Jati dan Ki Gede Bungko. (Fanny)