CIREBON,(KC Online).-

Beberapa ikan hias berenang lincah di dalam sebuah sumur di Desa Setu Kulon, Kecamatan Weru, Minggu (11/11/2018).

Sumur ini bukan sumur sembarangan, sebab sudah ada sejak tahun 1700 an. Sang pembuat sumur merupakan khatib kedua dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Syekh Khatib. Ia saat itu membangun sebuah musala sederhana dengan sumurnya yang hingga kini masih awet terjaga.

“Syekh Khatib dikenal sebagai khatib kedua di Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Yang unik, dia membuat musala dan sumur hanya dalam waktu beberapa hari saja. Secara logika, tidak mungkin bisa membuat musala meski sederhana ditambah sumur hanya dalam waktu beberapa hari saja. Tapi semuanya terbangun,” ujar tokoh masyarakat setempat, Muhammad Jazuli.

Musala kecil yang dibangun Syekh Khatib kini telah berubah menjadi masjid besar, Al Khatib. Masjid Al Khatib dibangun pada tahun 1980 an, berdasarkan perkembangan warga sekitar yang membutuhkan masjid besar sebagai pusat kegiatan keagamaan. Sebab seiring waktu jumlah penduduk di Desa Setu Kulon terus bertambah.

“Mulai dibangun 1980 an tapi penyempurnaan bangunan masjid dilakukan pada 1990 an. Hingga kini masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan warga sekitar. Meski lokasinya berada di gang sempit, tapi masyarakat luar banyak yang tahu keberadaan masjid ini,” katanya.

Berbeda dengan musala yang sudah berubah menjadi masjid seluruhnya, keberadaan sumur yang berada tepat di sampingnya masih terjaga keasliannya. Hanya tembok atasnya yang diganti, sisanya asli. Sumur dengan kedalaman hampir 2 meter ini airnya bening dan sejuk.

“Sangat jarang mengalami kekeringan. Kecuali di tahun 1999, pernah surut. Tapi setelahnya tidak lagi. Sumur ini pun menjadi penolong saat sumur warga sekitar mengalami kekeringan,” katanya. (Fanny)