SEKRETARIS DPPPA Kab.Indramayu, Hj Sri Bekti ketika memberikan pelatihan kepada para motekar. Ratno/KC Online

INDRAMAYU, (KC Online).-

Para motivator kepala keluarga (motekar) dari 14 kecamatan dan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) dari 12 desa yang ada di Kab. Indramayu, mengikuti pelatihan peningkatan sumber daya manusia (SDM) tentang pelayanan dan pendampingan korban kekerasan rumah tangga.

Kegiatan yang dipusatkan di aula bank bjb cabang Indramayu tersebut, menghadirkan beberapa narasumber di antaranya Kanit PPA Polres Indramayu, perwakilan Dinas Sosial, perwakilan Dinas Kesehatan dan Sekretaris Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak (DPPPA) Kab. Indramayu.

Kepada KC Online, Kepala DPPPA Kab. Indramayu, Hj. Lily Ulyati melalui Sekretaris DPPPA Kab.Indramayu, Hj. Sri Bekti menilai, pelatihan ini dipandang perlu bagi para motekar sebagai pendamping korban kekerasan rumah tangga untuk disampaikan kepada masyarakat luas, dengan tujuan dapat meminimalisir jumlah angka kekerasan rumah tangga yang ada di Kab. Indramayu.

Motekar sebagai ujung tombak DPPPA, diharapkan dapat memberikan informasi dan penyuluhan kepada orang-orang yang pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga yang ada di Kab.Indramayu. Baik yang dialami kaum perempuan maupun terhadap anak. “Hasil pelatihan ini, diharapkan mampu diterapkan ditengah-tengah masyarakat luas,” katanya.

Dikatakan dia, dampak luasnya hasil pelatihan ini tidak lagi terjadi kekerasan rumah tangga di kalangan masyarakat, sehingga ke depan tidak terdapat lagi kekerasan terhadap kaum perempuan maupun terhadap anak.

Salah satu akibat terjadinya kekerasan dalam rumah tangga karena disebabkan faktor ekonomi, dampak lainnya tidak sedikit kaum perempuan yang bekerja diluar negeri dan tidak sedikit pula anak mengambil jalan broken home.

“Untuk mengatasi hal itu, fungsi motekar sangat urgen dalam upaya memperkecil terjadinya kekerasan dalam rumah tangga,” tegasnya.

Dia berharap, melalui pelatihan ini tidak lagi terjadi kekerasan dalam rumah tangga, KDRT, trafficking, pelecehan seksual maupun lainnya yang berkaitan dengan perempuan dan anak. (Ratno/KC Online)