YULIAN (22 tahun), warga Jalan Ahmad Kusumah, Kelurahan Majalengka Wetan, Kecamatan/Kabupaten Majalengka, memperlihatkan seblak kicimpring buatannya yang kini omsetnya sudah mencapai 4 kuintal per bulan.* Tati/KC Online

Oleh: Tati Purnawati-Kabar Cirebon

SAAT menjual makanan ringan yang petama dilihat pembeli adalah kemasan yang unik dan menarik, soal isi dan rasa bisa saja menjadi nomor dua bagi konsumen. Namun lebih baik lagi ketika kemasan dan rasa juga menarik dan enak.

Itu pula yang dialami oleh Yulian (22 tahun), seorang mahasiswa di sebuah Perguruan Tinggi Negeri jurusan sejarah, di Yogyakarta yang juga warga Jl Ahmad Kusumah, Kelurahan Majalengka Wetan, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka bersama temannya Anggita warga Desa Sukaraja, Kecamatan Jatiwangi, mahasiswa Perguruan Tinggi swasta di Majalengka.

Tiga tahun lalu Yulian mencoba merintis usaha keripik kicimpring yang diberinya nama seblak kicimpring. Seblak yang pada umumnya basah, seblak buatan Yulian ini kering dan bisa bertahan cukup lama, bahan dasarnya dari singkong namun diambil tepungnya dibuat seperti keripik namun sangat tipis mungkin tidak sampai 1 mm, warnanya bening seperti kaca namun tentu tidak tajam, hingga disebut kicimpring.

“Saya sendiri tidak membuat bahan dasarnya karena bahan dasar dibeli dari Tasikmalaya, saya mengolahnya kemudian mengemas dengan sangat menarik agar orang yang melihat bisa penasaran untuk membeli dan mencicipinya,” ungkap Yulian.

Kicimpring mentah dia olah menjadi seblak dengan bumbu yang sehat seperti kecur, bawang putih, cabai, daun jeruk, garam, penyedap rasa serta minyak.

Lima rasa

Untuk menentukan rasa pedas dibuat hingga lima rasa pedas, mulai yang ladanya sedang, hingga sangat pedas dan disebutnya level 1,2 hingga level 7. Warna kemasan juga menyesuaikan dengan rasa pedas yang ada di dalamnya. Misalnya saja warga kuning pedasnya sedang, kemasan warna merah rasanya sangat pedas.

“Makanan ini awalnya sasarannya anak muda atau remaja, makanya di kemasan kami membuat semenarik mungkin ada gambar cabai, serta banyak gambar yang sekiranya menarik untuk dibaca anak muda, disamping tulisan produk halal dan alamat instagram,” kata Yulian.

Misalnya saja, “duduk santei, berdoa, jepret dulu, nikmati snack, up load, dan buang sampah”. Di kemasan juga seolah ada sebuah cerita menarik yang menyebutkan kebingungan membuat nama makanan, namun kalimat dan kata-katanya dibuat benar-benar menarik untuk anak muda.

Dengan kemasan itu ternyata menarik pembeli. Dan kini omset seblak kicimpring buatan Yulian ini, menurutnya, bisa menghabiskan 3 hingga 4 kw per bulan dengan 4 orang pekerja, pemasarannya di sejumlah swalayan di Cirebon. Ada sebuah swalayan yang omsetnya hingga 10.000 pcs per tiga bulan.

“Omset bersih per bulan lumayan, namun masih di bawah Rp 10.000.000,” kata Yulian yang mengaku ingin mencoba ekspor hanya belum mengetahui caranya dan ke mana pasar ekspornya.

Sebelum menekuni usaha seblak kicimpring, Yulian dan sejumlah temannya sempat membuat kedai kopi di tahun 2014, namun usahanya tidak begitu laku karena kemungkinan masyarakat Majalengka kurang begitu menyukai kopi atau minum kopi di kedai. Hingga usahanya sering tutup. “Sekarang lebih fokus ke seblak kicimpring, walaupun kedai kopi juga kadang di buka,” kata Yulian. ***