IMANUDIN (65 tahun) warga Desa Biyawak, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, memperlihatkan gabah miliknya yang disimpan di leuit hingga puluhan ton. leuit (lumbung padi), dianggap aman dari ancaman tikus, jamur serta hama serangga lainnya. (Tati/KC Online)

MAJALENGKA.(KC Online),-

IMANUDIN (65 tahun) bersama keluarganya, warga Desa Biyawak, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka hingga kini masih tetap mempertahankan tradisi leluhurnya menyimpan padi di leuit (lumbung padi), karena dianggap aman dari ancaman tikus, jamur serta hama serangga lainnya.

Sementara leuit di tempat lain sudah tidak banyak dimanfaatkan oleh petani di Kabupaten Majalengka, hal ini kemungkinan karena dianggap sangat tradisional serta banyak memakan tempat atau juga kemungkinan karena petani saat ini lebih memilih memanfaatkan karung dan gudang dengan kontruksi dinding tembok.

Leuit dimiliki Imanudin secara turun temurun dari nenek dan kakeknya dulu semasa mereka masih hidup. Dia memiliki tiga leuit dia di antaranya berukurang besar sekitar 3 m X 10 m, serta berukuran 7 m X 2,5 dan 3 m X 2,5 m. Kemudian diberikan kepada orang tua Imanudin dan kini leuit diwariskan kepada Imanudin serta adiknya Suatmah (63 tahun).

“Leuit tersebut dulunya milik orang tua kami kemudian diwariskan ke kami. Sekarang leuit saya wariskan kembali kepada anak-anak, jadi milik saya tinggal satu,” ungkap Imanudin yang mengaku leuitnya sudah diperbaiki pada tahun 1998.

Menurutnya, leuit yang terbuat dari kayu ini dianggap paling aman untuk penyimpanan padi hasil panen dan bisa bertahan hingga satu tahun asal penjemurannya kering. Selain itu aman dari tikus yang baisa menggerogoti karung padi serta jamur dan serangga.

Karena lantai leuit berada sekitar 50 cm dari permukaan tanah, lantai leuit juga terbuat dari kayu dan bilik sehingga suhu udara tetap terjaga. Demikian juga dnegan dindingnya yang terbuat dari kayu berlapis bilik. “Menyimpan gabah di leuit aman asal menjemurnya kering.” kata Imanudin.

Satu leuit miliknya, menurut Imanudin, mampu menampung sebanyak 27 tonan, sedangkan leuit yang berukuran kecil mampu menampung sekitar 7 ton. Saat menyimpan gabah hasil panen tak perlu menggunakan karung agar bisa lebih banyak menampung gabah, dan lebih hemat biaya. Gabah baru dikarungi ketika akan dijual.

“Gabah baru dikeluarkan dari leuit saat ada keperluan, misal membeli sawah, tanah atau membangun rumah, atau juga untuk biaya garap jika diperlukan,” katanya.

Di wilayahnya, leuit sudah tidak banyak dimiliki petani, saat ini tinggal tersisa di dua keluarga saja. Leuit milik Imanudin pun tidak seluruhnya penuh hanya terisi dengan ketinggian sekitar 1,5 meteran, karena sawahnya sebagian sudah terjual diantaranya 11 ha dipergunakan untuk membangun bandara.

Memungut gabah

Zaman dulu leuit tak hanya dimiliki petani namun juga pemerintahan desa. Karena dulu desa biasa memungut gabah ke petani atau disebut pancen, selain itu ada koperasi petani yang nabungnya menggunakan gabah.

Ketika petani butuh untuk tanam atau kebutuhan lain petani bisa meminjamnya dan gabah tersebut seleruhnya disimpan di leuit. “Sekarang tidak ada pancen untuk hansip atau aparat desa karena mereka sudah digaji oleh pemerintah,” kata Imanudin.

Usman dan Husain, petani di Desa Nunuk mengatakan, dulu di kampungnya hampir semua warga memiliki leuit kalau tidak ada geledeg (tempat menyimpan padi terbuat dari kayu berbentuk kotak besar). Selain itu ada leuit milik desa, tenpat menyimpan padi setoran koperasi dari petani serta padi milik desa.

Dulu, menurut mereka, jika petani tidak memiliki uang untuk biaya garap atau tidak memiliki gabah untuk bibit, petani bisa meminjam dari koperasi desa yang gabahnya disimpan di leuit. Ketika petani panen semua membayar pinjamannya sehingga leuit kembali penuh.

“Sekarang sudah tidak ada yang memiliki leuit, hasil panennya juga sedikit berbeda dengan dulu ada pare huma ada pare yang dipanen di sawah, sekarang huma ditanami jagung, hasilnya setelah kering langsung dijual. Jadi tidak perlu leuit,” kata Usman.

Menurutnya, perilaku petani zaman dulu dengan sekarang sangat berbeda, dulu padi betul-betul disimpan untuk cadangan pangan dan kalaupun menjual untuk keperluan yang benar-benar penting.

“Sekarang perilaku petani berbeda, gabah bisa langsung dijual ketika masih basah begitu selesai dipanen dengan alasan malas mengolah atau lebih memilih membawa uang hasil panen dibanding menyimpan gabahnya. Makanya leuit tidak lagi jadi tempat penyimpanan gabah,” kata Usman. Tati/KC Online