CIREBON,(KC Online).-

Pagi-pagi benar, Rini (45 tahun) sudah sampai di komplek makam Pangeran Pasarean di Kelurahan Gegunung, Kecamatan Sumber, Rabu (7/11/2018).

Warga Indramayu ini berencana mandi di Sungai Cipager yang terletak tepat di belakang komplek makam ini. Menuju sungai jalannya cukup curam, namun ia paksakan melangkah penuh hati-hati.

Di sungai, tak hanya Rini yang datang, banyak juga warga lainnya yang turut mandi. Rini mengatakan, dirinya ingin mengalap berkah dari Rebo Wekasan atau Rabu terakhir di bulan Safar, agar tidak terkena musibah.

“Tiap tahun begini, selalu mandi di Sungai Cipager saat Rebo Wekasan tiba. Secara pribadi, saya berharap berkah, dan memang saya selalu mendapatkan berkah, bukan karena dari mandi di sini saya mendapatkan berkah, melainkan berdoa kepada Allah SWT,” katanya.

Juru kunci makam Pangeran Pasarean, R Hasan Ashari mengatakan, tiap tahun warga luar daerah sering datang berduyun-duyun untuk mandi di Sungai Cipager ini. Beruntung, saat kemarau tiba sungai tersebut tidak terlalu surut. Di ceruk batu-batu besar air selalu ada.

“Banyak warga Indramayu, Losari, juga dari desa sekitar yang mandi di sini. Jadi bisa dipastikan komplek makam ini selalu ramai kalau Rebo Wekasan tiba,” kata Hasan.

Menurutnya, mandi sebagai penolak bala tadinya tidak dilakukan di Sungai Cipager ini, baru selama enam tahun terakhir kegiatan mandi di Rebo Wekasan dilakukan. Puluhan bahkan ratusan tahun sebelumnya mandi kerap dilakukan di Sungai Kriyan di Kota Cirebon.

Mandi di Sungai Kriyan ini sudah dilakukan sejak masa Sunan Kalijaga. Saat masa Sunan Kalijaga, pernah terjadi wabah penyakit dan masyarakat yang terkena wabah itu dimandikan di sungai tersebut.

“Setelah dimandikan, warga yang terkena wabah penyakit menjadi sembuh. Untuk itulah tradisi mandi saat Rebo Wekasan selalu digelar hingga saat ini,” ujar Hasan.

Tak hanya mandi, di komplek makam ini juga digelar salat hajat penolak bala, tawurji atau melempar koin kepada anak-anak, serta menyanyikan kidung kerahayuan.

Di Rebo Wekasan, pihak keluarga Pangeran Pasarean pun membuat apem putih yang dicelupkan ke gula merah. Apem -apem ini dibagikan kepada tamu.

“Pada Rebo Wekasan di mana Allah menurunkan bala, kita berharap bisa terhindar dari bala, caranya adalah dengan salat dan terus berdoa. Kidung yang kita nyanyikan pun berisi tentang keselamatan,” katanya. (Fanny)