BUPATI Majalengka Karna Sobahi bersama istri didampingi Sekda Diki Ahmad Sodikin serta Kepala Dinas Pendidikan Iman Pramudya, menyaksikan murid TK yang mengkonsumsi makanan non beras pada acara pencanangan makanan non beras memperingati Hari Pangan se-Dunia , Rabu (5/12/2018). Tati/KC Online

MAJALENGKA, (KC Online).-

Pemerintah Kabupaten Majalengka akan mengajukan peraturan daerah tentang lahan sawah abadi serta mengubah lahan tidur menjadi halan produktif di Tahun 2019 mendatang agar ketersediaan pangan di Majalengka semakin bertambah serta bisa menjadi penyangga pangan nasional.

Hal tersebut disampaikan Bupati Majalengka Karna Sobahi saat Peringatan Hari Pangan sedunia di lapangan bekas Mapolres Majalengka, Rabu (5/12/2018). Pada acara tersebut digelar pameran aneka makanan olahan non beras dan serta pencanangan konsumsi makan non beras yang dilakukan sejumlah murid TK.

Menurut Karna, produksi beras di Majalengka di tahun 2018 mencapai 750.000 ribu ton dengan luas lahan sekitar 51.000 hektare. Sementara ini Majalengka surplus beras namun tetap harus diantisipasi kemungkinan semakin hari, luas lahan sawah akan terus berkurang seiring dengan perkembangan pembangunan yang terjadi di Majalengka.

Alih fungsi lahan di setiap wilayah tidak akan bisa dihindari, kebutuhan lahan untuk pembangunan industri sebagian di antaranya akan memanfaatkan lahan pertanian baik sawah ataupun lahan kebun dan lahan tidur.

Untuk mengantisipasi semakin berkurangnya lahan sawah namun Majalengka tetap tidak mengalami kekurangan pangan, bahkan bisa menjadi penyangga pangan Jawa Barat, maka dibutuhkan aturan yang mengikat .

“Kami akan mengajukan perda sawah abadi dan pembangun sawah baru, misalnya bekas galian C dibuat sawah, atau lahan tidur menjadi lahan produktif.” kata Karna Sobahi.

Pembangunan lahan sawah yang dibarengi dengan pembangunan saluran irigasi diharapkan menjadi solusi bagi penghasilan pangan, untuk cadangan pangan di saat musim paceklik yang biasa berlangsung di bulan November hingga Februari.

“Kalau mengalihkan masyarakat untuk tidak mengonsumsi beras ke non beras, rasanya tidak akan efektif, pemerintah lain sudah mencoba ternyata gagal, karena perut masyarakat Indonesia, masyarakat Majalengka itu tergantung pada nasi. Makan lontong dan serabi tetap dianggap belum makan,” kata Bupati.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pangan Nadisha Hana Hariztin mengungkapkan, kegiatan ini merupakan meningkatkan kesadaran ketahanan pangan demi terwujudnya masyarakat Majalengka menuju mandiri pangan tahun 2030. (Tati/KC Online)