CIREBON,(KC Online).-

Dita (7 tahun) duduk termangu di pinggir sebuah prasasti yang bertuliskan SDN Plumbon 1 didirikan pada 1904, Rabu (5/12/2018).

Suasananya begitu sejuk, tak terasa Dita sudah duduk di tempat itu selama sekitar setengah jam, ia sedang menunggu ibunya menjemputnya.

Bangunan di belakang, Dita merupakan ruangan guru dan ruangan kelas 1. Dengan atap yang tinggi, kedua ruangan ini juga sama sejuknya.

SDN Plumbon 1 merupakan salah satu bangunan tua di Kecamatan Plumbon. Jika dihitung, usianya kini sudah mencapai 114 tahun. Terdapat empat ruangan yang sebagian besarnya masih dipertahankan keasliannya, dan satu ruangan yang sebagiannya sudah direnovasi.

“Empat ruangan yang sebagian besarnya masih dipertahankan aslinya adalah ruangan kelas 1 sampai 3, kemudian ruangan guru,” kata salah satu staf di SDN Plumbon 1, Sudiya (51 tahun).

Sudiya yang kini telah berusia setengah abad dulunya bersekolah di SDN Plumbon 1 ini. Dia hapal betul setiap lekuk ruangan di sekolah tersebut.

“Saat saya SD di sini pada tahun 1974, empat ruangan yang sebagian besarnya masih dipertahankan keasliannya itu dinding dan atapnya masih berupa bilik, sekarang sudah diganti. Namun selain dinding dan atap sisanya tidak diubah,” katanya.

Menurutnya, yang membuat sejuk ruangan bangunan bekas peninggalan Belanda ini adalah atapnya yang tinggi yang hampir mencapai empat meter. Selain itu, kawat yang menghiasi dinding masih tetap dipertahankan, juga pintu yang tinggi.

“Yang membuat ruangan itu awet adalah karena kayunya dari kayu jati. Juga pintunya, makanya pintunya juga awet,” ucapnya.

Namun, bangku sekolah asli peninggalan Belanda harus diganti karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Bangku peninggalan Belanda bercirikan bangku dan kursinya menyatu dan tidak dapat dipisahkan. Sementara saat ini pembelajaran di semua sekolah melaksanakan program kurikulum tiga belas yang membuat tiap siswa harus duduk secara berkelompok.

Prasasti yang kini dipasang di depan sekolah, menurut Suyudi, sengaja dipasang agar tiap orang, khususnya siswa mengetahui jika bangunan tersebut peninggalan zaman Belanda.

“Sehingga mereka bisa turut menjaga,” katanya.

Sementara itu, Budayawan Cirebon Mustakim Asteja mengatakan, di Kecamatan Plumbon memang terdapat banyak bangunan peninggalan Belanda, sebab saat zaman Belanda Plumbon bersama dengan Sindang Laut merupakan distrik khusus atau wilayah khusus karena dekat dengan lokasi pabrik gula.

“Tak heran di Plumbon dan Sindang Laut itu banyak sekali bangunan zaman Belanda, kedua daerah ini masuk daerah khusus bagi mereka,” ungkapnya.

Bahkan, saat itu Plered dan Weru masuk ke distrik Plumbon.

“Pabrik gulanya ada di Palimanan. Hampir bangunan-bangunan Belanda itu terdapat di wilayah-wilayah khusus tersebut,” ungkapnya.

Termasuk juga SDN Plumbon 1, menurutnya, merupakan peninggalan zaman Belanda.

“Saya tidak hapal sejarah SDN Plumbon 1, namun mengingat Plumbon masuk distrik khusus bagi Belanda ya tidak heran ada bangunan itu. Ciri-ciri bangunan peninggalan Belanda adalah kuat karena kayunya merupakan kayu pilihan,” katanya. (Fanny)