KEPALA Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Deden Boni Koswara mengungkapkan mengungkapkan tren penyebaran HIV/AIDS pada ibu rumah tangga (IRT), Senin (3/12/2018). Cipyadi/KC Online

INDRAMAYU, (KC Online).-

Kabupaten Indramayu masih menduduki peringkat dua untuk kasus AIDS dan peringkat kelima untuk HIV di Jawa Barat. Berdasarkan data pada Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Indramayu angkanya mencapai 3.285 penderita HIV-AIDS.

Angka tersebut tercatat sejak tahun 1993 hingga September 2018. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu Deden Boni Koswara mengungkapkan penyebaran HIV-AIDS tertinggi masih ditularkan lewat hubungan seksual.

“Ada sebanyak 2.960 kasus penularan lewat hubungan seks heteroseksual. Ironisnya saat ini tren penularannya sudah bergeser kepada ibu rumah tangga (IRT). Mereka tertular dari suaminya yang kerap melakukan aktivitas berisiko di luar rumah,” ungkap Deden Boni Koswara, Senin (3/12/2018).

Mantan Direktur RSUD Indramayu itu menjelaskan, ada banyak contoh kasus penularan kepada ibu rumah tangga. Hal itu baru terdeteksi manakala ibu rumah tangga tersebut melakukan medical check-up sebagai persyaratan menjadi buruh migran. Hasil MCU tidak sedikit yang menunjukkan ibu rumah tangga calon TKW tersebut positif HIV-AIDS.

Selain hal itu, Deden juga mengaku masih banyak kasus lain yang belum terungkap dan belum terdata. Hal itu disebabkan oleh keengganan masyarakat untuk memeriksakan diri dengan berbagai alasan. Padahal mereka tergolong seringkali melakukan aktivitas berisiko tertular virus HIV-AIDS.

Di sisi lain, stigma masyarakat juga masih belum bisa diubah. Masyarakat perlu menghilangkan stigma negatif terhadap para penderita. Diharapkan masyarakat juga tidak mengucilkan para penderita dari pergaulan.

Dinas Kesehatan juga meminta masyarakat untuk segera memeriksakan diri jika pernah melakukan aktivitas berisiko. Kalaupun hasilnya ternayata dinyatakan positif, maka pemerintah akan menanggung biaya terapi dan obat seumur hidup bagi mereka yang mengidapnya.

“Harga obatnya tergolong mahal, kalau di Australia mereka harus bayar. Namun di Indonesia terapi dan pengobatannya gratis,” sebutnya.

Program penanggulangan HIV di Indonesia saat ini memiliki tujuan untuk mencapai fast track 90-90-90 dimana pemerintah dan seluruh komponen terkait berkomitmen untuk mendorong 90% orang yang terinveksi HIV mengetahui status HIV-nya, lalu 90% orang yang sudah tahu status HIV-nya sudah memulai pengobatan ARV, dan 90% orang yang telah melakukan pengobatan HIV tetap dalam pengobatan sehingga virusnya tersupresi. (Cipyadi/KC Online)