CIREBON,(KC Online).-

39 dari 59 kesenian tradisional di Kabupaten Cirebon masuk kategori hampir punah. Beberapa kesenian yang hampir punah tersebut antara lain, gamelan renteng, gamelan dengung Cirebon, wayang golek purwa, wayang golek cepak, wayang wong, juga wayang babad.

Sementara sisanya, 10 kesenian sudah masuk kategori punah, dan 10 kesenian lagi masih dinyatakan eksis.

“Kita membagi berbagai kesenian itu menjadi sembilan jenis. Yaitu seni karawitan, teater, pedalangan, musik, tari, sastra, rupa, atraksi dan tradisi. Bagian dari sembilan jenis kesenian tersebut sudah ada yang punah, hampir punah, maupun masih eksis,” kata Kasie Kesenian pada Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Cirebon, Momon Saptaji, Kamis (17/1/2019).

Sementara, beberapa bagian jenis kesenian yang sudah punah di antaranya adalah tunil, wayang catur, dan ronggeng umbul atau dombret.

“Tunil itu semacam cikal bakal sandiwara. Mulai ada saat setelah kemerdekaan yang ciri khasnya adalah pemainnya laki-laki semua, yang ikut tunil juga rata-ratanya merupakan pejuang, dan mereka ikut mematai kolonial Belanda, apakah kolonial masih ada atau tidak,” ungkap Momon, Kamis (17/1/2019).

Momon menambahkan, tunil mulai punah pada tahun 1960an, yang kemudian mulai digantikan oleh sandiwara. Pada masanya, tunil kerap dimainkan di desa-desa di wilayah Utara Cirebon, yaitu mulai Gunungjati hingga Kapetakan.

“Kemudian ada juga wayang catur yang dimainkan oleh tiga sampai empat orang. Ini semacam wayang orang, di mana pemainnya turut memainkan alat musik menggunakan mulutnya. Eksis di wilayah Utara juga,” ungkapnya.

Sementara untuk ronggeng umbul atau dombret, menurutnya, meski di Cirebon sudah punah namun ternyata masih eksis di wilayah Subang.

“Pemain ronggeng dulu identik dengan ketabuan, karena pemain ronggeng kerap bisa dibawa oleh lelaki hidung belang. Namun seiring dengan meningkatnya kegiatan keagamaan di Cirebon membuat kesenian punah total pada tahun 1970an, dan beralih di wilayah Subang,” kata Momon.

Sama dengan wilayah persebaran ronggeng umbul di Cirebon yang berada di pesisir, di Subang pun kini ronggeng tersebut eksis di wilayah pesisir, yaitu di wilayah Blanakan.

Momon menambahkan, Disbudparpora bukannya tinggal diam atas beragam kesenian yang hampir punah.

“Kami mencoba melakukan revitalisasi terhadap beragam kesenian yang hampir punah supaya tidak punah. Merevitalisasi atau mengangkat kembali kesenian tersebut. Tahun lalu kita fokus ke kesenian brai di Gegesik, juga ada genjring akrobat, tari rudat dan jaran lumping,” katanya.

Sementara untuk tahun ini, pihaknya masih menunggu usulan draf dari tiap kecamatan.

“Sehingga belum tahu yang mana dulu yang akan kita fokuskan di tahun ini,” katanya.

Menurutnya, sebetulnya di tiap desa ada alokasi sosial budaya di alokasi dana desa.

“Namun saya kira tiap kuwu belum paham ada alokasi sosbud tersebut, buktinya saya belum lihat ada pengangkatan nilai-nilai budaya dan kesenian khas di masing-masing desa. Kalau saya hitung, tidak lebih dari 50 desa yang memiliki niatan untuk mengembangkan potensi kesenian tradisional tersebut. Kalau saja tiap desa memahami itu, saya kira kesenian tradisional kita tidak akan ada yang punah,” katanya. (Fanny)