CIREBON,(KC Online).-

Supriadi (32 tahun) asyik memasukkan tanah ke dalam pot tanaman di halaman rumahnya di Desa Cikalahang, Kecamatan Dukupuntang, Kamis (17/1/2019).

Ia merupakan warga perajin bonsai dan tanaman hias di desa tersebut. Sudah sejak lama Desa Cikalahang merupakan sentra tanaman hias, Supriadi pun sudah sekitar tujuh tahun berkutat menjadi tukang tanaman bonsai dan hias. Ia tak bosan berburu tanaman bonsai ke area hutan di daerah Cirebon, Kuningan dan sekitarnya.

Menurutnya, bonsai dari Desa Cikalahang dikenal lebih sehat karena disemai dengan baik sejak awal.

“Misalnya begini, saya ke hutan terus dapat tanaman bonsai, dari awal saya sudah semai dan rawat dengan baik. Butuh waktu enam bulan hingga akhirnya tanaman dari hutan itu menjadi bonsai yang utuh, karena memang proses membuat bonsai tidak bisa instan,” ungkapnya saat ditemui KC Online di kediamannya.

Menurutnya, dibutuhkan kesabaran dan keuletan saat membuat bonsai.

“Dipotong, dibentuk, disemaikan, kemudian distek atau ditempel dengan tanaman lain tapi ada juga bonsai tanaman asli itu sendiri, sambil terus dipupuk, total butuh waktu enam bulan,” ungkapnya.

Ia juga berujar, peredaran bonsai Cikalahang sudah sampai ke luar Jawa. Di antaranya Lampung, Yogyakarta, Surabaya, dan kota-kota lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Tiap enam bulan sekali saya kirim satu truk bonsai ke Yogyakarta. Kami sudah tidak pusing lagi mencari pembeli, karena sudah punya pelanggan, banyak yang tertarik membeli bonsai di Cikalahang karena memang tanaman nya lebih sehat,”ungkapnya.

Jenis bonsai yang biasa dijualnya adalah Kiserut, Kaliage, Bringin Korea, hingga Wahong.

Supriadi bercerita soal bonsai Bringin Korea atau biasa disebut Bonsai Dolar karena daunnya yang mirip uang receh. Namun lebih dari itu, jenis bonsai ini masuk kategori paling mahal dibandingkan jenis bonsai lainnnya.

“Cara merawatnya kurang lebih sama dengan bonsai lain, sebulan sekali harus ada pemupukan dan pemangkasan. Harga jual Bonsai Dolar ini mencapai sekitar Rp 5 juta, dilihat dari keunikan pohonnya,” ungkapnya.

Selain memasok ke pangkalan hias, juga banyak pembeli yang datang langsung ke kediaman Supriadi.

“Supaya lebih puas kalau datang langsung karena bisa melihat langsung,” ungkapnya.

Supriadi sendiri selain membuat bonsai sendiri, ia pun menampung bonsai dari para pemburu di desanya dan sekitarnya. (Fanny)